Belajar dari Kesungguhan Ibnu Hajar al-Asqalani

Oleh Teuku Mawardi al-Chalidy*)

Kalian pernah mendengar sosok ulama yang sabarnya luar biasa? Pasti kalian pernah dengar nama Ibnu Hajar al-Asqalani. Nama beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Asqalani. Beliau adalah anak yatim, ayahnya meninggal pada saat usia 4 tahun. Di bawah asuhan kakak kandungnya dia tumbuh menjadi remaja pekerja keras dan rajin menuntut ilmu. Dia tinggal di tepi sungai Nil di Mesir. Nama beliau lebih populer atau termasyur dengan julukan Ibnu Hajar al-Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu, sedangkan al-Asqalani adalah sebuah kota yang berada di Palestina.

Saat dia masih belajar di sebuah madrasah, dia dikenal sebagai murid rajin dan bodoh yang selalu tertinggal dari teman temannya. Dan lebih sering kali dia waktu belajar sama gurunya sering patah semangat dan frustasi. Beliau pun memutuskan untuk meninggalkan sekolah/madrasahnya. Selama bertahun tahun dia belajar pada gurunya tetap saja dia tak bisa memahaminya bahkan dia sering kali diejek oleh teman temannya kerena kebodohannya. Setia habis belajar dia selalu menangis atas ejekan teman temannya.

Hingga mencapai 40 tahun usianya, ia belum mencapai level tinggi dalam khazanah keilmuan.

Akhirnya beliau memutuskan untuk pulang kampung. Dalam perjalanan suasana mendung dan akhirnya hujan lebat dan dia berada di samping gua lalu dia masuk ke dalam gua dan beristirahat di dalam gua tersebut. Ketika dalam gua pandangannya tertuju pada sebuah titisan air hujan sedikit demi sedikit melubangi sebuah batu besar dan dia pun terkejut. Dia pun merenung dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliau merenung terpikir dalam lubuk hatinya:

“Ya Allah batu saja yang keras bisa berlubang dengan tetesan air hujan, apalagi kepalaku yang tidak keras seperti batu tersebut.”

Kemudian dia pun kembali ke madrasah karena sudah sadar diri setelah melihat peristiwa tersebut dan akhirnya dia diterima kembali di sekolah tersebut. Sejak saat itu perubahannya pun terjadi dalam Ibnu Hajar. Dia menjadi yang cerdas dan melampaui teman temannya. Ia pun tumbuh menjadi ulama yang terpopuler dan pengarang kitab yang sangat produktif.

Kitab -kitab yang dikarang oleh baliau salah satunya yang saya ingat yaitu Fathul Baari, syarah Imam al- Bukhari, Tahdzibut Tahdzib dan lain lainya. Bahkan menurut muridnya yaitu Imam as Syahkawin, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Itulah hasil kitab atau karangan seorang pelajar yang sangat luar biasa.

Kesabaran yang luar biasa inilah yang membawa kita bisa memahami hukum hukum syariat. Kisah bisa menjadi kenyataan bagi kita semu. Sekeras segala sesuatu dan kesuksesan segala sesuatu jika kita betul- betul ikhlas dan tekun serta bisa melanjutkan dalam belajar niscaya kita bisa menuaikan kesuksesan. Jangan pernah gagal atau putus asa, karena kegagalan itu hal yang biasa. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sampai ia Sendiri lah yang mengubah keadaan mereka sendiri.

*)T. Mawardi al- khalidy. Dayah Bustanul Ulum Diniyah Islamiyah(BUDI) Pidie.

KOMENTAR FACEBOOK