Taqwa upgrade Human Development

Heri Maulizal.

Oleh Heri Maulizal*)

Dalam Islam kita kenal dengan sebutan taqwa, muttaqin atau muttaqun. Itu adalah orang yang terhindar dari yang tidak disukainya. Di dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang tentang taqwa, lebih dari ratusan ayat. Dari ayat-ayat tersebut, menurut Prof. Noorhaidi Hasan setidaknya ada beberapa yang sangat esensial di antaranya, taqwa dalam hubungan amanah, taqwa dalam hubungan kesabaran dan taqwa dalam hubungan hasanah atau kesejahteraan.

Pertama, taqwa itu dalam hubungan beramanah (Albaqarah ayat 283). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa taqwa itu berkaitan dengan amanah, tanggungjawab, jabatan, tugas yang diberikan kepada kita. Kalau kita sudah memegang tanggungjawab, amanah dan jabatan, lantas apa yang ingin dihindari dari tanggungjawab itu? Kita tidak ingin terjurumus kedalam kegagalan menjalankan tanggungjawab dan amanah itu juga tidak ingin terjurus ke dalam korupsi, nepotisme. Kalau orang yang tidak bertaqwa diberikan amanah maka dia cenderung tidak bisa menghindar dari perilaku korupsi dan nepotisme serta mengkhianati amanah tersebut.

Kedua, taqwa dalam berhubungan dengan kesabaran (Ali-imran ayat 186), keterkaitan taqwa dengan kesabaran sangat dituntut dalam diri masing-masing, walaupun di provokasi, dilecehkan namun tetap sabar. Kita menyaksikan sendiri di dalam masyarakat, menjelang pemilu kemarin provokasi terjadi antara cebong dan kampret. Dalam konteks dunia muslim provokasi terus terjadi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, akhirnya yang kita saksikan konflik dan pertikaian yang tiada hentinya.

Itulah yang terjadi di dunia Islam sampai hari ini seperti Timur Tengah, Afrika Utara bahkan di negara kita sendiri belum sepenuhnya terbebas dari konflik dan konfrontasi semakin memanas antar sesama warga, berarti kita belum bisa dikatakan menjadi orang yang bertaqwa. 

Apakah karena the of time kita bisa menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan konflik dan semacamnya? tetapi kenyataanya tidak demikian, konflik bahkan semakin ke sini semakin memanas sesama komponen bangsa dan juga berbagai macam dilema di kalangan sesama muslim.

Ketiga, taqwa hubungan hasanah atau kesejahteraan (Az-zumar ayat 10), orang yang bertaqwa yaitu orang yang terhindar dari yang tidak kita inginkan terkait dengan kesejahteraan. Artinya ketidaksejahteraan, kemiskinan keterbelakangan. Kalau kita bertaqwa kita terhindar dari hal semacam itu dan puasa mestinya bisa mencegah dari perbuatan itu. Kita lihat sekarang di dunia muslim sangat menyedihkan. Kita bisa lihat di Human Development Index (HDI). Perserikatan Bangsa-Bansa setiap tahun mengeluarkan rangking HDI, selalu tapi tidak signifikan, akhir-akhir ini negara Norwegia diikuti oleh Australia, Irlandia, Jerman, Belanda, Firlandia, New Zealand dan banyak lagi negara-negara Eropa dan Australia yang termasuk dalam human development indeks pembangunan manusia di urutan terdepan.

Di Negara-negara muslin human development indeks ini paling berada di rangking 49 yaitu Saudi Arabia disusul Brunei Darussalam peringkat ke-70, namun kalau dilihat secara keseluruhan negara muslim hampir tidak ada, sedangkan Indonesia urutan rangking 116 kita kalah dari negara yang selama ini jarang kita dengar seperti Togo, Trinidad, negara-negara ini indek pembangunan manusia di atas kita.

Nah dari indeks tadi indikatornya ada tiga yaitu : pertama, usia harapan hidup negara-negara Eropa usia hidupnya rata-rata di atas 80-an diikuti oleh jaminan kesehatan yang baik, Indonesia masih di sekitaran umur 69 tahun. Kedua, Lama Pendidikan, kalau di negara-negara maju pendidikan minimal 18-25 tahun lama pendidikan, Indonesia masih sekitaran 8-9 tahun. Ketiga, income perkapita, negara-negara maju di dunia ini pendapatan sudah di atas 75.000$ bahkan lebih, di negara-negara muslim ada tapi tidak banyak ada satu atau dua, sedangkan Indonesia hanya sekitaran 4100$ itu pun masih di bawah pendapatan yang standar, standar itu sekitaran 6000$, kita masuk dalam pendapatan menengah, kalau dari pendapatan dibawah standar maka negara-negara muslim masih mengalami gonjang-ganjing secara ekonomi dan politik dan lain-lain.

Kita berkuasa bahkan mampu menetralisir supaya terhindar dari hal-hal semacam ini jika kita bisa mengupgrade ketaqwaan dalam beramanah, kesabaran dan kesejahteraan manusia. Kita boleh bertanya pada diri kita sendiri tiap tahun kita berpuasa tapi kita sendiri tidak yakin akan perubahan terhadap indek kesejahteraan manusia. Momentum puasa inilah kita terus mencoba memperbaiki diri dalam bertanggung jawab, amanah dalam memegang jabatan, tidak mudah terprovokasi dan terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

*)Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga,Yogyakarta.

KOMENTAR FACEBOOK