Cerpen: Pungo

Ilustrasi @NET

Oleh Suhaimi*

Dulu, kita tak akan percaya bahwa seseorang bisa gila gara-gara kalah dalam sebuah kompetisi. Tetapi sekarang hal tersebut seakan-akan menjadi sesuatu yang lumrah dan bisa dialami oleh setiap orang. Hebatnya, pesta demokrasi menjadi jalan tol bagi siapa pun untuk menjadi gila.

Persaingan calon anggota legislatif dalam merebut suara pemilih dalam setiap pemilihan umum dipastikan cukup ketat, baik antara partai politik maupun sesama caleg yang diusung oleh partai yang sama. Para kontestan juga terus melakukan berbagai upaya memperkenalkan diri ke masyarakat, termasuk menggelontorkan biaya dalam jumlah besar demi terlaksananya kegiatan-kegiatan di masyarakat selama masa kampanye.

Hal inilah yang membuat seorang caleg harus berani mengucurkan modal yang tak sedikit untuk memperebutkan kursi keksuasaan. Meski demikian, modal besar dan relasi yang luas tidak mampu menjamin seseorang memenangi pemilu dengan enteng. Jika kekalahan yang didapat setelah buang-buang uang dalam jumlah banyak, maka siap-siap menjadi gila dan kehilangan akal sehat. Nizam sudah membuktikannya.

Sedari tadi pemuda berkulit sawo matang itu terus meracau di depan pintu rumah. Sesekali ia menghisap rokok 123 dalam-dalam lalu melepaskan kepulan asapnya ke langit. Di antara langit dan bumi itu, kepulan asap rokoknya terus menggantung bersama harapan menjadi anggota dewan yang telah pupus. Harapan yang selama ini dijaganya erat-erat.

Semuanya sirna setelah penghitungan suara di kantor KIP daerah pemilihannya mengumumkan hasil di luar dugaan. Hasil yang benar-benar berbeda dari harapannya. Ia gagal melenggang ke gedung parlemen setelah hanya berhasil meraup 15 suara pada pemilu legislatif tahun lalu. Padahal, ia sudah menghabiskan hampir ratusan juta rupiah demi menyegel sebuah kursi di parlemen.

Kabarnya, ia juga telah menjual dua petak sawah peninggalan sang ayah yang sebelumnya diproyeksikan sebagai modal melamar calon pujaan hati. Saat ini, Nizam adalah seorang pesakitan. Setiap pagi dimandikan oleh ibunya dan setelah itu duduk mematung di depan pintu sambil meracau, “Peng ka abeeh, long ka pungo-uang sudah habis, saya menjadi gila.” Begitulah kehidupan Nizam setiap hari.

Nama lengkapnya Nizam Murtadha. Ia adalah salah satu anak muda yang maju dalam pemilihan legislatif tahun lalu. Untuk itu, Nizam menjual semua harta yang ia punya. Bukan hanya itu, pemuda yang juga dikenal sebagai salah satu pecinta cryptocurrency itu turut menjual seluruh aset virtualnya yang jika dihitung berjumlah lebih dari seratus juta demi mengikuti pesta demokrasi empat tahunan itu. Nizam memiliki aset virtual dalam bentuk 1,5 Bitcoin, 1.500 EOS, dan 3.500 koin Steem yang jika dikonversikan ke rupiah dengan harga saat itu mencapai ratusan juta. Sebagai catatan, Bitcoin, EOS, dan Steem adalah beberapa contoh koin virtual yang dapat dikonversikan ke rupiah.

Koin-koin tersebut bisa didapat dengan bergabung di platform media sosial berbasis cryptocurrency dan menjadi kreator konten di dalamnya. Nizam cukup sukses sebagai pegiat dunia cryptocurrency. Kini, semuanya ludes setelah hatinya berbelok arah gara-gara pemilu. Pemilu telah usai dan ia kalah dengan sangat telak. Uang dan semua harta benda yang sudah dikorbankannya tak pernah kembali. Setelahnya, goncangan jiwa dan gejolak psikologis adalah ‘hal terberi’ yang tak dapat ditolak. Nizam pun akhirnya pungo. Ya, Nizam gila!

Pada dasarnya Nizam adalah pemuda Gampong Ikue Supat yang memiliki visi dan misi jempolan.  Sebelum pesta demokrasi, ia adalah pemuda yang sangat terampil dan peduli pada isu-isu sosial. Meski lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain game online dan ngeblog, beberapa kali ia dengan lantang menyuarakan kekecewaan pada pemerintah yang menurutnya tak becus menjalankan amanat rakyat di media sosial. Baginya, semua yang duduk di parlemen adalah para laknat yang menggadaikan harga diri dan martabat demi mengeruk kekayaan. Ia menanam dendam yang teramat sangat pada semua sampah yang ada di parlemen.

Lebih dari itu, Nizam juga seorang pemuda yang kreatif. Setelah urung menyelesaikan studinya di salah satu kampus terbesar di Pasee, ia bergelut di dunia blog. Setelah hampir setahun menjadi bloger, Nizam mengetahui adanya revolusi hebat yang terjadi di media sosial dengan adanya cryptocurrency. Ia pun benar-benar mendalaminya hingga mampu membuat buku tabungan yang jumlahnya bikin geleng-geleng kepala.

Anak ketiga dari lima bersaudara itu memang terkenal ambisius, persis seperti ayahnya dulu. Dalam prinsip hidupnya sudah termaktub sebuah rumus, bahwa, apa pun yang diinginkannya harus tercapai. Tak peduli halangan dan rintangan yang akan dihadapi. Ia pernah membayar seorang pakar cryptocurrency dari Bireuen untuk mengajarinya tentang dunia teknologi keren tersebut. Selama sebulan belajar secara ketat, ia mampu menaklukkan dunia virtual tersebut dengan segala kerumitannya.

Tapi sayang, gara-gara kalah dalam pemilu tahun lalu, ia pun menjadi seorang gila yang entah kapan menemukan kesembuhan. Saya teringat pesan Abah Junaidi, seorang ustaz di kampung kami pada suatu hari. Sambil bercengkerama di warung kopi ia berujar,

“Dulu, ketika kami masih kecil dan bermain hujan sambil telanjang, orang gila di sekitar kita bisa dihitung dengan jari. Dan pun, dapat dipastikan, mereka gila bukan karena politik, melainkan karena masalah kehidupan lainnya. Sekarang dunia semakin tengik dan jumlah orang gila semakin bertambah. Hampir bisa dipastikan orang-orang tersebut menjadi gila sedikit banyak dipengaruhi oleh politik dan cinta dunia. Lihatlah setelah pemilu nanti orang gila di daerah kita pasti bertambah…”

Rasa-rasanya ramalan Abah Junaidi sukar dibantah. Betapa tidak, semakin ke sini semakin banyak jalan bagi seseorang untuk menjadi gila. Pesta demokrasi salah satu gerbang untuk menuju kegilaan itu sendiri. Memang, banyak jalan untuk menjadi gila. Orang kaya misalnya, mereka bisa gila gara-gara kelewat takut hartanya akan habis. Padahal, ia enggan mengeluarkan zakat dan jarang berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Orang miskin juga bisa gila dengan terus memikirkan kekayaan orang lain. Padahal, ia sendiri adalah tukang malas yang cukup nyaman dengan kemiskinannya dan urung berusaha. Anak-anak muda juga tak kalah gila. Mereka adalah kelompok masyarakat yang berpotensi besar menambah barisan ureung pungo karena saban hari menghirup sabu dan mengonsumsi berbagai jenis narkoba demi kenikmatan sesaat.

Semua realitas tersebut sedang terjadi di negeri ini. Namun siapa peduli? Hahaha.. Tidak ada! Belum lagi kiamat datang, tetapi manusia sudah memikirkan diri masing-masing. Pemimpin hanya akan berfungsi otaknya ketika mengkalkulasikan laba atau fee yang akan didapat dari sebuah proyek. Bandar-bandar narkoba yang bedebah itu tak mau tahu berapa banyak generasi muda yang rusak akibat narkoba yang terus-menerus mereka jual. Yang mereka peduli adalah bagaimana kekayaan bisa terus bertambah.

Akhirnya, kita semua menjadi pungo dengan cara masing-masing. Memang, semua orang berhak memiliki otak yang jernih dan pikiran yang sehat. Namun, tak sedikit dari kita berlomba-lomba menjadi orang gila dan menghancurkan masa depan sendiri dengan cara-cara yang absurd.

Nizam adalah salah satunya. Padahal, hidupnya sebelum menjadi gila bisa dibilang cukup mapan. Dari kreativitasnya saja ia bisa meraup uang tak kurang dari 3 juta atau bahkan lebih setiap bulannya. Saat teman-teman seangkatannya kewalahan melamar kerja ke barbagai instansi pemerintah yang kebanyakan tak sehat dalam proses rekrutmen itu, Nizam cukup santai di warung kopi sambil mengutak-atik laptopnya. Baginya, laptop dan ponsel tak ubah seperti kantor BUMN yang dapat memberikan gaji dalam jumlah yang tak sedikit tiap bulannya.

Ketika masih sehat, pemuda gempal pengagum Mario Balotelli ini berpenampilan sangat keren. Meskipun rambutnya setengah mohawk, ia cukup ulet memilih busana. Celana bermerek Levis dan Guess adalah karakternya. Ditambah kaus Armani dan kadang-kadang juga memakai Hugo Sport membuat pemuda ini terlihat sangat mapan dan mewah. Ia juga pintar berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Pembawaannya yang tak pelit membuatnya disukai banyak orang dan hal ini juga yang membuatnya memiliki banyak teman. Orang-orang di warung kopi tempat biasa ia nongkrong sudah kenal betul dengan Nizam dan jargonnya, “Jep kupi bek pungo”. Begitulah caranya menawarkan kopi pada teman-temannya. Tetapi sekarang ia sendiri yang mengalaminya. Setelah kalah dalam pemilu ia pun berangsur-angsur menjadi gila entah sampai kapan.

Sekarang tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menanti kesembuhan. Motornya sudah dijual untuk biaya berobat. Sekarang ia hanya memiliki laptop dan sebuah ponsel yang layarnya sudah 90% pecah karena dilemparkannya ke lantai. Lagipula, meski kedua alat tersebut masih bisa digunakan, Nizam tak dapat mengambil manfaat darinya. Otaknya tak lagi berfungsi dengan jernih setelah kekalahan dalam kompetisi demokrasi tahun lalu. Penampilannya yang rapi sudah berganti kumal.

Dulu, semua teman-temannya bisa dengan mudah menjumpai Nizam di warung kopi di daerahnya. Di warung kopi itulah saban hari ia mengutak-atik laptop dan mencurahkan segala kreativitasnya. Sekarang, ia hanya bisa dijumpai di depan rumahnya sambil meracau, “peng ka abeeh long ka pungo.”[]

*Suhaimi, alumnus Antropologi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe.

KOMENTAR FACEBOOK