Pengalaman Berpuasa di Negeri Sakura Jepang

Penulis berada di kebun jeruk Okabayashi Farm di Kochi, Jepang. @ist

Oleh Rezka Kenara Bintang Putra*

Ramadan tahun ini saya dan beberapa teman dari Takengon, Aceh Tengah berkesempatan merasakan menjalankan ibadah puasa di Negeri Sakura, tepatnya di Provinsi Kochi, Jepang. Ini merupakan pengalaman pertama saya berpuasa di negeri orang sehingga jelas sensasinya akan berbeda dengan yang saya jalani selama ini. Puasa di Jepang berlangsung kurang lebih 15 jam.

Selama Ramadan semua kegiatan kami berjalan seperti biasa, tidak ada perbedaan sama sekali yaitu belajar bahasa Jepang. Hanya saja jam tidur kami yang sedikit berubah karena kita harus bangun pukul tiga pagi untuk melaksanakan sahur dan biasanya tidur lebih cepat yaitu pukul sembilan malam. Orang-orang di sekitar kami benar-benar kagum dengan apa yang kami lakukan dan mereka menghargainya. Dalam bahasa Jepang puasa disebut danjiki ( だんじき).

Menurut saya puasa di Jepang menyenangkan dan tidak banyak cobaan karena di sini orang-orang tidak makan di tempat umum seperti di kereta api. Kemudian restoran dan tempat makan di Jepang benar-benar tertutup dan tidak mencerminkan tempat makan sehingga tidak menjadi cobaan yang berat ketika melewatinya.

Kemudian mengenai ibadah ini, yang mungkin menjadi cobaan sekaligus tantangan karena saya dan hanya dua orang teman saya dalam program sama yang muslim di sekitar rumah saya, jadi kami harus saling mengingatkan untuk sahur dan melakukan ibadah wajib. Kesibukan tidak menjadikan alasan kami untuk tidak berpuasa dan beribadah, di Jepang benar-benar menjalankan toleransi dengan baik. Misalnya di tempat kami belajar bahasa tidak terdapat musala, tetapi karena permintaan kami mereka menyediakan satu ruangan untuk tempat salat.

Muslim lain yang berpuasa di Jepang bisa jadi berbeda-beda, ada yang akses ke tempat ibadahnya dekat sehingga bisa melaksanakan salat Tarawih berjamaah atau jika di sekitar lingkungannya banyak muslim maka bisa melakukan buka puasa bersama. Berbeda dengan saya dan teman-teman yang hanya bertiga di sekitar sini, untuk menemui muslim lain kami harus menempuh perjalanan selama dua jam dengan berganti-ganti tranportasi mulai dari taksi, kereta api, hingga taksi lagi.

Selama berpuasa di sini kami menyiapkan makanan sahur dan buka puasa sendiri. Jadi meskipun jauh dari Indonesia kami tetap dapat menikmati hidangan Indonesia yang kami buat sendiri. Ya, tentu saja dengan banyak keterbatasan karena bahan-bahan yang tersedia di Jepang berbeda dengan di Indonesia. Bahan bahan makanan di sini kami peroleh dari pasar kejujuran serba 100 Yen dan supermarket. Untuk berhemat kami tidak membeli semuanya di supermarket, kami cari terlebih dahulu di pasar kejujuran serba 100 Yen yang biasanya menyediakan sayuran sesuai dengan musim kemudian untuk tambahannya kami membeli di supermarket.

Hidangan yang kami buat bermacam dan umumnya sederhana seperti telur dadar, ikan goreng, ayam goreng, tumisan sayur, atau sesekali kami mencampur bawang, tomat, dan sambal botol yang kami bawa dari Indonesia. Jadi bumbu-bumbu instan yang kami bawa dari Indonesia lah yang membantu kami mengobati rindu dengan masakan Indonesia selama di sini. Bumbu instan seperti kecap, bumbu ungkep, bumbu nasi goreng, terasi, dan banyak lagi.

Tahun ini kami akan Lebaran di Indonesia, nanti akhir bulan Mei kami akan mudik ke Indonesia kemudian setelah Lebaran kembali lagi ke Jepang untuk melanjutkan kegiatan. Program kami memang memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan sebagian Ramadan di Indonesia, karena itulah kami bisa Lebaran di Indonesia. Di kampung kami di Aceh.[]

Penulis saat ini sedang mengikuti program pelatihan di Okabayashi Farm, perusahaan perkebunan dan pengolahan jeruk di Kota Ochi Provinsi Kochi, Jepang. Program ini kerja sama antara Pemerintah Jepang diwakili oleh JICA dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK