Amin Rais, Jegal Megawati dan Lengserkan Gus Dur

Pemilu 1999 menghantarkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang didirikan oleh Megawati Soekarnoputri sebagai pemenang pemilu. Partai yang merupakan wujud paling nyata dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang beridiologi marhaen, meraup suara rakyat mencapai 33%. Kans Megawati menuju kursi Presiden RI terbuka lebar.

Di tengah optimisme tersebut, muncullah gagasan membentuk Poros Tengah oleh Amien Rais. Pada 7 Oktober 1999, Amien Rais membentuk Poros Tengah yang terdiri dari partai-partai berasaskan Islam, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan (PK), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Dikutip dari Barton, Greg (2002). Abdurrahman Wahid: Muslim Democrat, Indonesian President. Sydney: University of New South Wales Press. hlm. 281, disebutkan, untuk menyaingi Megawati, Poros Tengah segera mengajukan Kyai H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) sebagai capres yang bersaing langsung dengan Megawati. Calon lainnya yang juga muncul adalah BJ Habibie. Tapi karena laporan pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh MPR yang diketuai oleh Amin Rais, maka Mega dan Gus Dur head to head .

Partai Golkar yang didirikan oleh Akbar Tandjung seusai gelombang protes Reformasi 1998, kemudian beralih mendukung Gus Dur. Di dalam Conceicao, J.F. (2005). Indonesia’s Six Years of Living Dangerously. Singapore: Horizon Books. hlm. 9, disebutkan pada tanggal 20 Oktober 1999 Gus Dur terpilih sebagai presiden dengan perolehan 373 suara, sementara Megawati hanya mendapatkan 313 suara.

Untuk menjaga psikologi politik, apalagi sebagai pemenang pemilu, Gus Dur meyakinkan Megawati mendaftar di pemilihan Wakil Presiden RI. Ia berjanji akan memilih putri Bung Karno sebagai wakilnya.

Janji Gus Dur bukan pepesan kosong. Pada 21 Oktober 1999 Megawati terpilih sebagai wakil presiden perempuan pertama Indonesia.

Dalam bukunya Barton menulis, pada akhir tahun 2000, terdapat banyak elit politik yang kecewa dengan Abdurrahman Wahid. Orang yang paling menunjukan kekecewaannya adalah Amien. Ia menyatakan kecewa mendukung Gus Dur sebagai presiden tahun lalu. Amien juga berusaha mengumpulkan oposisi dengan meyakinkan Megawati dan Gus Dur untuk merenggangkan otot politik mereka. Megawati melindungi Gus Dur, sementara Akbar Tandjung menunggu pemilihan umum legislatif tahun 2004. Pada akhir November, 151 anggota DPR menandatangani petisi yang meminta pemakzulan Gus Dur.

Kisruh pun semakin menjadi-jadi. Pada 23 Juli, MPR yang diketuai oleh Amin Rais secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.[]

Foto: Amin Rais (kiri) dan kompatriot politiknya Ratna Sarumpaet, keduanya pendukung Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. (Foto: Antara)

KOMENTAR FACEBOOK