Kisah Warga Aceh Berpuasa 20 Jam di Norwegia

Bahar Nur @ist

ACEHTREND.COM, Oslo – Umat muslim di beberapa negara Eropa menjalani cobaan berat dalam menjalankan ibadah puasa. Khususnya negara Eropa bagian utara yang tahun ini harus berpuasa hingga 20 jam dalam sehari. Ini dikarenakan di sana sedang berlaku musim panas yang panjang di mana matahari akan terlihat lebih lama di siang hari. Namun sebaliknya malam hari sangat terasa singkat sekali.

Pengalaman berpuasa 20 jam inilah yang dirasakan Bahar Nur, warga Aceh yang kini sudah menetap di Norwegia. Pemuda asal Kota Lhokseumawe yang kini menetap di Kota Stavanger, sekitar 454 km dari ibu kota Oslo, harus berpuasa enam jam lebih lama dibandingkan durasi puasa di Aceh yang hanya 14 jam dalam sehari.

Thon nyoe agak trep bacut puasa jih seubab kali nyoe musem su’um panyang that. (Tahun ini agak lama sedikit puasanya sebab kali ini musim panas sekali),” kata Bahar Nur kepada aceHTrend via layanan Whatapps, Senin (13/5/2019).

Menurutnya, jarak waktu imsak dan berbuka puasa hanya selisih waktu sekitar 3,5 jam. Artinya, warga muslim setempat harus berbuka puasa, salat Tarawih, dan sahur dalam waktu berdekatan.

Hal ini, jelas Bahar Nur terjadi karena Ramadan tahun ini jatuh di puncak musim panas di Negeri Skandinavia. Malam hari di kotanya tidak pekat, melainkan masih temaram. 

“Jadwal imsak di sini diawali pada pukul 03.00 dan waktu iftar (buka puasa) pukul 23.00. Sebab di kota saya tinggal, kalaupun malam tidak malam kayak di Aceh, langit masih terlihat seperti senja magrib hingga subuh. Jadi usai salat Magrib, kami harus bergegas ke masjid untuk melaksanakan Tarawih dan Witir agar jadwal sahur jangan tertinggal,” ujar Bahar Nur.

Bahar mengaku, meski waktu berpuasa bagi warga muslim di sana cukup lama, tetapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap menjalankan salah satu rukun Islam tersebut. Meski sudah menetap satu dekade lebih, generasi bangsa Aceh di sana tetap berpegang teguh dengan adat istiadat Aceh yang kental dengan syariat Islam.

Bahpih sinoe kamoe katrep tinggai dan kana generasi baro bansa Aceh sinoe, kamoe teutap hana tuwoe ilmee agama ngon adat istiadat Aceh. Aneuk-aneuk kamoe sinoe mantong meupeureunoe bahasa Aceh. Meunyoe bahasa Inggreh ngon Norsk (bahas Norwegia-red) awaknyan dipeugah di sikula ngon di luwa rumoh (biarpun di sini kami sudah lama tinggal di sini dan sudah ada generasi baru bangsa Aceh, kami tetap tidak melupakan ilmu agama dan adat istiadat Aceh. Bahkan anak-anak kami di sini masih kami ajarkan bahasa Aceh. Sedangkan bahasa Inggris dan Norsk mereka gunakan di sekolah dan di luar rumah),” tambah Bahar Nur.

Bahar Nur merupakan salah satu dari 350 warga Aceh yang kini sudah menetap di Norwegia sejak 2003 lalu. Sebelumnya, pria berusia 37 tahun ini berstatus sebagai pencari suaka sejak Aceh dilanda gejolak konflik. Ia mengaku, meski tinggal jauh dari tanah air dan sanak familinya, tidak menyurutkan hatinya untuk melupakan tradisi Aceh. Salah satunya adalah perayaan “meugang” dan “tot leumang”.

Menurutnya, daging halal dan makan-makanan khas Asia bisa mudah mereka dapatnya di toko-toko muslim yang termasuk kategori mahal dan harus antre.

“Biarpun kami di sini susah mencari bambu untuk membuat lemang, kami biasanya gunakan pipa alumunium untuk memasak lemang. Bahpih hana meunyum lagee leumang di gampong, asai kasep syarat dilee bacut (biarpun rasanya tidak khas seperti rasa lemang di kampung pada umumnya, asalnya mencukupi syaratnya saja),” ujarnya sambil terkekeh.[]

Editor : Ihan Nurdin