Tarmizi Panyang, Incumbent DPR Aceh yang Kembali ke Kursi Parlemen

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – “Kita harapkan ke depan, mari kita satukan visi dan misi membangun Aceh lebih baik. Khususnya bagi kader-kader terbaik ban sigom Pase dari berbagai elemen, mari kita bersatu padu membangun Pase agar kesejahteraan masyarakat dapat dirasakan hingga ke level bawah,” kata Tarmizi Panyang, mengawali obrolan dengan aceHTrend di Pacific Cafe Banda Aceh, Senin malam (13/5/2019).

Sembari menyeruput segelas kopi arabika khas Gayo, incumbent DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh ini menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Aceh atas kepercayaannya yang telah memilih dirinya sehingga bisa kembali ke kursi parlemen Aceh. Untuk mengemban amanah tersebut, Tarmizi mengajak putra-putri ban sigom Pase untuk turut berkontribusi positif dalam membangun Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Baginya, terpilihnya kembali ke belantika parlementaria merupakan sebuah amanah yang diberikan rakyat untuknya. Hal ini tidak lepas dari sikap santun dan keramahannya ketika berinteraksi dengan masyarakat. Tentunya, ia berharap dukungan dan kritikan dari masyarakat, sehingga dirinya bisa mengemban amanah rakyat menjadi lebih baik dan transparan.

“Terima kasih kepada masyarakat Aceh, khususnya Dapil V atas kepercayaan ini. Begitu juga ucapan terima kasih saya kepada Mualem selaku petinggi Partai Aceh, Ketua KPA/PA Pase dan Kuta Pase atas amanah ini,” ujar Tarmizi Panyang.

Tarmizi Panyang berharap bisa berbuat lebih baik lagi ke depan, khususnya soal pemerataan pembangunan dari segala lini. Untuk mewujudkannya itu, tambah Tarmizi lagi, rasa sinergitas dan kekompakan antarelemen harus diprioritaskan demi menyatukan satu impian, yakni membangun Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara menjadi lebih baik dan masyarakatnya sejahtera.

Tarmizi juga berharap,  usai pelantikan tersebut, semua anggota DPRA yang terpilih tidak pernah saling membeda-bedakan kepentingan. Menurutnya, semua kepentingan yang harus dijalankan oleh anggota dewan itu haruslah mempunyai satu kepentingan, yaitu kepentingan untuk rakyat.

“Intinya, usai dilantik kita jangan pernah membedakan berasal dari golongan atau partai mana, tapi cobalah bekerjasama dalam memperjuangkan segala aspirasi rakyat,” kata Tarmizi Panyang.

Selain itu, Tarmizi juga mengajak kepada semua anggota dewan terpilih untuk saling menjaga kekompakan demi kelancaran semua visi dan misi yang ingin dicapai bersama-sama. Dengan adanya kekompakan, tambah Tarmizi, akan senantiasa melahirkan ide-ide brilian serta mampu menghindari berbagai macam sentimen negatif diantara sesama anggota dewan.

“Kita semua yang dilantik ini bukanlah untuk mencari gap atau berkelompok, tapi bagaimana caranya mencari celah untuk bersama-sama memperjuangkan aspirasi rakyat karena kita ini juga dibiayai oleh rakyat dan nantinya kita juga kembali ke rakyat,” ujar Tarmizi Panyang.

Tarmizi juga menambahkan, segala bentuk visi dan misi yang dijalankan oleh anggota dewan juga tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya dukungan dari seluruh masyarakat Aceh karena hanya peran rakyat yang mampu menjembatani segala perubahan terhadap nasib rakyat.

“Dengan adanya peran dan dukungan dari masyarakatlah insyaallah kita dapat menyelesaikan segala macam persoalan yang masih menghambat dalam tatanan kehidupan rakyat Aceh,” harapnya lagi.

Nama aslinya Tarmizi. Namun ia lebih dikenal dengan pangggilan “Panyang” karena memiliki postur tubuh jangkung.

Anak keempat dari lima bersaudara ini menghabiskan masa-masa kecilnya di kampung halamannya di Babah Krueng, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Seperti halnya dengan pemuda sekampungnya, hidup mandiri tanpa sepenuhnya berharap dari pemberian orang tua telah ia tanamkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

 “Sejak dari SD saya sudah mulai mencoba mencari uang sendiri, walaupun sedikit tetap bersyukur asalkan halal,” ujar pria kelahiran Babah Krueng, 1 September 1970 ini.

Tahun 1992, ia mulai mengadu nasib dengan merantau ke Banda Aceh. Berbagai macam pekerjaan telah ia geluti, mulai dari buruh kasar hingga menjadi pelayan di warung kopi.

Ketika konflik berdarah berkecamuk di Aceh telah mengubah jalan hidupnya. Di usianya yang masih tergolong muda ia sudah naik gunung dan bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1996. Sejak itulah ia mulai terbiasa hidup nomaden dengan cara bergerilya dari satu bukit ke bukit lainnya untuk menghindari kejaran TNI. Ia mengaku pernah menjadi tangan kanan almarhum Ahmad Kandang yang juga merupakan mualem (pelatih).

“Beliau bukan hanya saja anggap komandan atau guru saya, tapi juga sudah saya anggap sebagai abang saya sendiri,” ujarnya.

Di sana juga ideologinya mulai dididik secara hidup disiplin serta menjalani semua kehidupan dengan penuh tantangan dan risiko nyawa dengan penuh kesabaran. Dari sanalah perasaan cinta terhadap tanah indatunya semakin besar.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1998, ia sempat dipercayakan menjadi pelatih TNA (Teuntra Nanggroe Atjeh) selama dua tahun hingga ia diangkat menjadi Panglima Sagoe Babah Krueng pada tahun 2003. Suka dan duka ia jalaninya penuh dengan sabar dan ikhlas. Bahkan di saat status Darurat Militer dan Darurat Sipil pun ia masih tetap bertahan, meski harus mempertaruhkan nyawa demi Aceh tercinta.

Ketika perjanjian damai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka diteken, semua anggota GAM diberikan amnesti. Tarmizi beserta teman-teman seperjuangannya turun gunung. Sejak itulah ia kembali menjadi masyarakat sipil dan kembali bercengkerama dengan masyarakat. Akan tetapi, cita-cita masa perjuangan masih melekat dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap Aceh ini maju dan sejahtera seperti pernah terjadi di masa-masa kerajaan Aceh tempo dulu.

“Ideologi kami yang dulu ingin merdeka telah kami lupakan dalam catatan sejarah kehidupan kami. Cita-cita kami sekarang hanyalah ingin merajut kembali perdamaian yang tak ternilai harganya ini agar rakyat Aceh bisa hidup damai, tenteram, dan sejahtera,” ujar Tarmizi Panyang.

Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Partai Aceh Sagoe Lhokdrien, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Saat itulah ia mulai menggali potensinya di dunia politik dengan cara belajar otodidak serta berdiskusi dengan siapa pun. Pada Pemilu 2009 lalu, ia  termasuk salah seorang tim pemenangan PA di Aceh Utara. Hasilnya, partai yang diketuai Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem ini menang telak di Aceh Utara dan berhasil mendapatkan kursi di parlemen.

Kini, ideologi perjuangan kembali dilanjutkannya lewat jalur politik. Pada tahun 2014, ia mulai mencalonkan diri menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) daerah pemilihan (dapil) 5 dari Partai Aceh. Hasilnya, ia memperoleh suara sebanyak 14.831.

Ia berharap, dengan diberikannya kepercayaan sebagai anggota DPRA mampu menampung seluruh aspirasi rakyat, terutama sekali yang berkaitan dengan segala kewenangan Aceh yang saat ini tak kunjung selesai.

“Saya ingin semua anggota dewan yang terpilih jangan sia-siakan amanah rakyat, mulai saat ini kita jangan memandang kita berasal dari fraksi atau partai mana pun. Yang penting bagaimana kita berusaha untuk sama-sama bergandengan tangan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Aceh,” ujarnya. []

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK