Bolehkah Memasak untuk Suami yang Tidak Berpuasa?

Ilustrasi, dikutip dari internet. Tidak ditemukan sumber aslinya.

Dalam banyak kasus, baik rumah tangga baru maupun yang sudah lama mengayuh biduk rumah tangga, bulan Ramadhan merupakan sesuatu yang dilematis. Dalam praktik sehari-hari berumah tangga, suami-suami yang tidak melaksanakan puasa Ramadhan–tidak dalam keadaan uzur syar’i–memerintahkan istrinya untuk memasak makanan agar sang suami bisa bersantap di waktu siang.

Pertanyaannya, bolehkah seorang istri mematuhi perintah tersebut?

Allah Subhanahu berfirman:

“Dan saling tolong menolonglah kamu semua dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah)

Dikutip dari Wahdah.or.id, mengutip fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Fatawa Nurun Ala Ad-Darbi, 3/1266 :

Membantu orang berbuka atau menyediakan makanan untuk orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa uzur baik dengan mempersiapkan makanan, kopi, teh atau bentuk minuman dan makanan lain dia berdosa ikut serta dosanya seperti orang yang berbuka. Namun puasanya sah dan tidak batal dengan membantunya, hanya saja dia berdosa dan harus bertaubat kepada Allah.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.”

Kalau suaminya memerintahkan untuk membuat makanan di siang hari tanpa ada uzur yang membolehkannya berbuka, baik karena sakit atau bepergian, maka dia tidak perlu membantu apa yang diharamkan oleh Allah meskipun dia marah atau menceraikannya. Karena ketaatan kepada Allah lebih diutamakan dibandingkan ketaatan kepada suami, ayah, penguasa dan gubenur. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” Beliau sallallahu alahi wa sallam juga bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Khalik (Sang Pencipta).”

Sumber: Wahdah.or.id, dengan penyesuaian seperlunya.

KOMENTAR FACEBOOK