Haruskah Melucu untuk Sesuatu yang Sakral?

Oleh Gamal Faraby*)

Tertawa merupakan pencerminan keriangan atau kebahagiaan, atau dalam perasaan dari keceriaan dan tekanan (tawa dalam perasaan).

Tawa itu sendiri merupakan bagian dari kelakuan manusia normal hasil dari otak dan dapat menolong manusia dalam menjernihkan suasana dalam kehidupan sosial dan dapat mencerminkan emosi dalam percakapan. Maka jarang kita melihat manusia normal yang tidak pernah tertawa.

Namun, kendati hal itu pantaskah kita tertawa saat sesuatu yang sakral dinuat lucu? Apa kita harus ikut-ikutan melucu saat junjungan alam baginda Rasul dijadikan bahan candaan, bahan ledekan,agar penonton tertawa lepas? Sedemikian pentingkah tertawa sampai semuanya harus dijadikan bercanda? Kalaupun bercanda itu ada batasnya ada adabnya. “Wajar kalau ada orang yang marah saat agama dilecehkan karena agama itu perkara besar menentukan urusan dunia dan akhirat kelak “begitu kata Ustaz Oemar Mita lc.

Siapa yang tidak kenal dengan Andre Taulani, pria yang lahir pada tanggal 17 september 1974 ini merupakan penyanyi sekaligus pelawak tanah air. Belum lagi kelar kasus istrinya yang menghina capres no urut 02 Prabowo, kini dia menuai kontroversi dari para netizen akibat perkataannya yang dianggap menghina Ustaz Abdul Shamad dengan Ustaz Adi Hidayat di sebuah acara televisi In TalkShow. Dalam acara itu dia secara spontan menyebutkan Adisomad sebagai merek sepatu, yang diyakini netizen itu penghinaan terhadap kedua ustad kondang itu. Namun Andre sendiri mengklarifikasikan bahwa dia tidak berniat untuk menghina ulama.

“Kalau ada yang menghubung-hubungkan dengan nama ustaz, saya tidak tahu-menahu. Karena demi Allah saya sama sekali tidak berniat untuk itu”ucap Andre taulani.

Namun Ustaz Adi Hidayat mengingatkan bahwa ketika lisan telah tajam terhadap Ulama maka itu menjadi awal kehancuran karier di dunia.

Selain itu juga, beredar video yang menayangkan bahwa Andre taulani kembali menghina Nabi Muhammad SAW di acara televisi yang sama. Kala itu, virzha yang sedang memuji dan memuliakan Rasulullah SAW dengan menceritakan sebuah buku yang ia baca bahwa Nabi Muhammad memiliki harum seribu bunga. Saat itulah Andre Taulani berkomentar. “Harum seribu bunga? Itu badan apa kebon!”. Kalimat bernada bertanya inilah yang menjadi viral. Sebagian mencuit dengan mencuplikkan dialog antara Virzha, Sule, dan Andre Taulany dalam program Ini Talkshow itu.Tentu ada yang bertanya” itukan video sudah lama yang ditayangkan pada tanggal 21 juni 2017,kenapa dipublikasika sekarang? “Lama atau tidak yang namanya penghinaan tetap penghinaan kalau pelaku belum meminta maaf dan mengaku salah serta bertaubat maka hukum harus dijalankan.

Oleh karena itu, janganlah kita menjadikan urusan agama sebagai bahan ledekan, bahan tertawaan baik itu terhadap ulama dan terhadap Rasulullah. Karena Agama itu perkara yang besar yang menentukan dunia dan akhirat kita.

Buya Yahya berkata :”Hati-hati mengejek Nabi karena ini akan mengundang petaka dari Allah baik di dunia maupun di akhirat dan sesuatu yang ada kaitannya dengan Rasulullah kita harus peduli.”

Siapakah dia, atas nama telah menghina Rasulullah kita tidak boleh tinggal diam jangan dibiarkan begitu saja harus di proses secara hukum agar tidak terjadi kemaslahatan ummat. Jangan jadikan tertawa kita menyakiti hati Baginda itu sama juga kita menyakiti Allah swt.
Ketika Allah telah murka, ingat, dengan ucapan “kun fayakun”maka terjadilah petaka yang tidak kita inginkan.

Ingatlah hai saudara sekalian, bercanda boleh namun sewajarnya saja dan sebatasnya saja jangan sampai dengan bercanda akidah kita terhina. Rasulullah juga bersabda:
“وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْب
“Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” [HR. Tirmidzi 2/50, Dishahihkan Syaikh Albani].

Manusia memang tidak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan namun setelah kita menyadari akan kesalahan kita segaralah minta maaf dan bertaubat karena pintu taubat Allah seluas langit dan bumi. Jadikan kesalahan kita itu pelajaran untuk kita agar tidak terulang kedua kalinya. Perlu kita ingatkan lagi bahwa agama bukan untuk bahan candaan, bukan bahan ledekan karena agama perkara yang menentukan kita dunia dan akhirat kelak. Ketika kita mendengar candaan yang berkaitan dengan penghinaan agama dan akidah segeralah kita peringati untuk meminta maaf jangan ikut di tertawakan.

*)Tulisan ini merupakan karya santri Dayah darul Abrar, Aceh Jaya. Peserta pelatihan jurnalistik yang digelar oleh Dinas Pendidikan dayah Propinsi Aceh pada medio Februari 2019.

KOMENTAR FACEBOOK