Usamah Sejenak Sebelum Azan

Usamah El Madny, saat menyantuni anak yatim di kantor Disdik Dayah Aceh, Rabu (15/5/2019). Foto: Taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Pria kurus berkulit kuning langsat, sigap menyambut tamu yang hadir. Kemeja putih lengan pendek dan kopiah hitam serta celana dengan warna senada, menjadikan penampilannya terlihat sangat sederhana. Tapi tidak dengan gagasannya. Lelaki tersebut memiliki segudang impian agar santri di Aceh mampu hadir dalam segala bidang pembangunan, demi menyongsong Aceh yang gilang gemilang.

Usamah El Madny, yang merupakan Kepala Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh, adalah santri yang kini memimpin lembaga yang diperuntukkan untuk memajukan pendidikan agama Islam di Aceh. Bekalnya sebagai orang yang pernah meudagang di dayah, membuatnya tidak asing dengan dunia dayah dengan segenap dinamikanya.

“Tidak semua alumni dayah harus menjadi pimpinan dayah. Saya atas nama Pemerintah Aceh bercita-cita agar para alumni dayah di seluruh Aceh, bisa memainkan perannya dalam semua sektor kehidupan. Mulai dari politik, hukum, bisnis serta sektor-sektor lainnya,” ujar Usamah El Madny, ketika bincang-bincang ringan dengan awak media seusai shalat magrib, Rabu (15/5/2019).

Hari ini Usamah sangat sibuk. Ia menjadi tuan rumah bagi hajatan besar yaitu iftar jama’i atau lazim disebut buka puasa bersama, yang digelar Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh. Di tengah kesibukannya itu, Usamah tetap terlihat sebagai seorang manager, bukan bos. Hajatan yang mengundang puluhan anak yatim itu, sukses digelar dengan tanpa cacat. Semua tamu tertangani, seluruh anak yatim yang hadir terperhatikan.

Susai beberapa agamawan pamit pulang, usamah tetap berada di bawah tenda besar, tempat digelarnya buka puasa bersama.

Usamah mengatakan dayah merupakan institusi pendidikan yang sangat tua di Aceh. Sudah ada sebelum penjajah Belanda bercokol di Serambi Mekkah. Dayah merupakan pilar utama yang membentuk karakter orang Aceh di masa lampau. Ciri khas islami yang menjadi identitas Aceh, merupakan sumbangsih dayah yang dikelola oleh para ulama, dengan ribuan santri-santrinya, yang setelah lulus mondok, terjun ke berbagai daerah untuk melanjutkan dakwah.

Di masa kini, dayah dan santrinya tentu menghadapi persoalan baru seiring dengan perkembangan dunia. Untuk itu, santri dayah haruslah dididik sesuai dengan zamannya, dengan tetap menjadikan pelajaran agama sebagai prioritas utama.

Sebagai daerah dengan status khusus, Aceh memiliki kewenangan untuk memajukan dunia pendidikan agama yang dikelola oleh dayah/pesantren. Dayah diberikan bantuan berupa dana yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (DOK) Aceh.

Tapi, DOK Aceh berbatas waktu. Bila tidak ada perpanjangan, 2027 dana itu selesai. Tapi dayah tidak akan kunjung selesai.

“Pemerintah Aceh melalui Dana Otonomi Khusus, telah berupaya dan terus melakukan berbagai inovasi dalam rangka memajukan pendidikan dayah di Aceh. Melalui Disdik Dayah, kami terus berupaya melakukan berbagai terobosan, demi mewujudkan kemandirian dayah serta peningkatan kualitas santri, yang kelak diharapkan menjadi generais muda Islam yang mumpuni, berdaya saing serta memiliki semangat membangun Aceh dalam bingkai Syariat Islam,” ujar Usamah.

Usamah mengatakan bahwa pekerjaan besar itu tidak bisa dilakukannya sendiri, atau bersama staf Disdik Dayah saja. Dukungan para pihak sangat mereka butuhkan, demi mencapai tujuan yang sudah dicanangkan.

“Kerja keras yang kita lakukan saat ini, merupakan investasi besar untuk masa depan dunia pendidikan dayah. Kelak para alumni dayah akan menjadi ekonom, bisnisman, politikus, ahli hukum dan sebagainya, dengan tetap memiliki kemampuan menguasai ilmu agama,” ujarnya.

Kumandang azan Insya terdengar sangat jelas melalui pengeras suara. Disdik Dayah menggelar shalat Insya berjamaah dilanjutkan dengan tarawih. Usamah mohon diri sembari mengucapkan terima kasih kepada undangan yang sudah memenuhi undangan dari lembaga yang ia pimpin.

“Semoga apa yang kita lakukan saat ini, berguna bagi Aceh dan Islam,” imbuhnya sembari tersenyum. []

KOMENTAR FACEBOOK