Jumat Sore, Pianis Belanda Wouter Bergenhuizen Tampil di Banda Aceh

Wouter Bergenhuizen didampingi oleh Fauzan Santa dari Tikar Pandan (kanan) dan Bob Wardana selaku penerjemah dari Erasmus Huis (kiri) dalam konferensi pers di Kantor Tikar Pandan, Rabu petang (15/5/2019). @aceHTrend/Taufan Mustafa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pianis asal Belanda, Wouter Bergenhuizen, akan melakukan konser piano klasik di Banda Aceh. Pertunjukan tersebut berlangsung di Aula Museum Aceh pada Jumat petang (17/5/2019).

Wouter yang juga merupakan salah satu semifinalis 11 Th International Franz Liszt Piano Competition di Belanda, datang ke Indonesia melalui program Kedutaan Belanda untuk Indonesia. Ia akan membawakan tiga lagu klasik era perang Dunia Pertama, yaitu Ludwig van Beethoven (1770-1827) Sonate Op. 110; Edvard Hagerup Grieg (1843-1907) Holberg Suite; dan Claude Debussy (1862-1918) Images (premier livre), dengan durasi diperkirakan sampai 25 menit satu lagu.

“Saya memainkan musik yang sudah ada, karya komposer besar, butuh 25 menit per lagu, untuk dapat memainkan lagu tersebut, butuh pembelajaran yang berkesinambungan, perlu penghayatan dan riset terhadap lagu, sehingga ada totalitas, ketika memainkannya,” kata Wouter saat ditanyai aceHTrend usai konferensi pers di kantor Komunitas Tikar Pandan, Geuceu Iniem, Banda Raya, Kota Banda Aceh, Rabu (15/5/2019).

Menurutnya, karya besar yang ia mainkan nanti lahir dari karya besar dan sangat berbakat. Wouter mengambil peran untuk mengangkat kembali karya tersebut dengan cara menerjemahkan ekspresi dan emosi serta kisah dari karya legendaris besar tersebut.

“Saya tertarik main di sini untuk memperkenalkan musik piano klasik, musik klasik ini bernuansa global, musik bisa mempersatukan orang berbeda bahasa dengan selera yang sama, memberikan karya seni,” katanya.

Bagi dia dengan bermain musik juga berkesempatan berberkeliling dunia, salah satunya ke Indonesia termasuk Aceh.

“Dengan ke Aceh saya mendapat suatu inspirasi baru, seperti melakukan kunjungan ke Museum Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, itu memberi kesan baru bagi saya,” kata Wouter melalui penerjemah.

“Dalam lagu itu ada yang butuh waktu dua bulan untuk memainkan lagu tersebut, semua tergantung tingkat kesulitan dari lagu itu sendiri, saya memilih lagu yang saya sendiri menyukainya, lagu tersebut ketika saya mainkan spesial untuk publik dan untuk diri saya sendiri,” katanya.

Sementara itu, Bob Wardana selaku Program Manager dari Erasmus Huis mengatakan, pihaknya membawa musik klasik ke Aceh sebagai upaya memberi ruang kepada setiap musisi yang datang dari Belanda untuk bermain musik di setiap daerah. Dengan begitu mereka bisa memperkenalkan pemusik dari Belanda dan bisa menjadi inspirasi bagi musisi lokal.

“Dia masuk finalis pada kompetisi piano di Belanda. Ia kita undang karena sudah ke babak semifinal di tingkat dunia,” kata Bob.

Sebelumnya ia sering tampil di Pulau Jawa, kali ini mengambil inisiatif untuk dipentaskan di Banda Aceh, atas inisiasi Bob Wardana sehingga kali ini digelar di Banda Aceh.

“Karena sebelumnya sering dilakukan di daerah lain, ini ada potensi yang baik, ini bisa diperkenalkan untuk generasi muda Banda Aceh, karena musik klasik ini mudah didengar oleh kalangan mana saja,” katanya.

Sedangkan Fauzan Santa dari Tikar Pandan mengatakan, bila setelah konser ini ada masukan positif, maka akan menjadi batu asah untuk memulai karya kreatif yang baru. Ke depan kemungkinan ditingkatkan lagi dengan genre musik yang lain. Tidak menutup kemungkinan untuk membuat workshop master klasik dan jazz.

“Nanti kita akan merancang lagi bagaimana selanjutnya,” katanya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK