Di Suriname, Umat Islam Asal Indonesia Saling Berbeda Arah Kiblat

Umat muslim di Suriname. (Ist)

ACEHTREND.COM, Paramaribo- Suriname atau dulunya disebut Guyana Belanda, adalah bekas koloni Belanda di Amerika Tengah. Negara yang berbatasan langsung dengan Brazil itu, memiliki iklim tropis, sama seperti Indonesia, karena sama-sama dilalui garis Khatulistiwa.

Di sana, jumlah penduduk bersuku Jawa dan berasal dari Indonesia (Hindia Belanda) sebanyak 71.879 orang. Mayoritas beragama Islam. Orang-orang Indonesia yang beragama Kristen jumlahnya sekitar 5 ribu orang, yang menganut kepercayaan tradisional sekitar 650 orang dan yang beragama Islam sekitar 24 ribu orang.

Ada hal menarik tentang dinamika berislam di Suriname. Umat Islam asal Indonesia di sana terpecah dalam dua kelompok besar. Yaitu kelompok yang shalat ke arah timur dan ke barat.

Kolonel Laut (Purnawirawan) Drs.H.Sarmoedjie, putra Jawa kelahiran Suriname menulis pada sebuah catatannya :Masyarakat Indonesia di Suriname, khususnya yang memeluk agama Islam, cara sholatnya terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu sholatnya berkiblat ke arah Timur (secara geografis ini yang benar) dan kelompok yang satu lagi sholatnya berkiblat ke arah Barat (sesuai ajaran orangtuanya ketika masih di Indonesia). Hal ini tidak menimbulkan masalah, secara umum kehidupan beragama kedua kelompok ini baik-baik saja, rukun dan tidak saling bermusuhan, walaupun lokasi masjid kedua kelompok ini berseberangan yang hanya dibatasi oleh jalan raya.

Tentang akurasi catatan Sarmodjie, ikut dibenarkan oleh M Adnan Fairuz. Pada artikel yang tayang di Hidayatullah.Com, dengan judul: Negeri 2 Kiblat di Kampung Jawa Yang Jauh, ia menuliskan:

Di Suriname, masih ada sampai saat ini masjid yang kiblatnya berlawanan dengan arah Ka’bah. Kalau ka’bah ada di sebelah timur, sebaliknya mereka justru sholat menghadap Barat (kulon).

Ceritanya, dulu ketika orang-orang Jawa ini hijrah ke sana, mereka terbiasa shalat menghadap barat (kulon). Ya, memang kalau dari Indonesia Ka’bah berada di arah barat. Sehingga, terjadi salah kaprah di sebagian masyarakat zaman dahulu bahwa kiblat itu barat. Ketika mereka pindah ke Suriname, mereka tetap bertahan dengan keyakinan tersebut. Padahal, Kiblat ada ke arah timur Suriname. Ketika dijelaskan kepada mereka tentang arah kiblat yang salah, sebagian mereka keukeuh dan berfikir bahwa bumi itu bulat. Meskipun kita membelakangi Kiblat, ujung-ujungnya juga ketemu Ka’bah.

Sebagian kalangan menerima koreksi dan mengubah arah sholat, sebagian tetap dengan keyakinannya yang salah. Fenomena tersebut kalau diruntut runtut, karena pada zaman dahulu di era 1800-an, dakwah tidak berkembang seperti sekarang. Jumlah dai, lembaga pendidikan Islam tidak sebanyak sekarang. Di saat kejahilan mereka belum terjawab, mereka keburu hijrah ke tanah yang nyaris tidak ada Islam. Belakangan, ada beberapa da’i dari Indonesia yang berdakwah ke sana.

Bukan hanya itu, hal unik lainnya fenomena adzan dengan bahasa Jawa. Adnan melanjutkan catatannya:

Dulu, ada seorang guru yang datang dari Indonesia sekitar 30 tahun yang lalu. Ketika sampai, sang dai menangis saat mendengar adzan yang dikumandangkan dari masjid dengan berbahasa Jawa.

“Allah Moho Ageng.. Allah Moho Ageng..”(terjemah Jawa Allahu akbar… Allahu akbar…)

Saat itu bahkan hingga sekarang, masih didapati beberapa masjid yang adzannya dengan bahasa Jawa.

Mr Henry menyebut, masih ada lebih dari 50 masjid yang adzan dengan Bahasa Jawa. Namun, belakangan sudah berkurang jumlahnya. Semangat keislaman mereka belum sebanding dengan ilmu yang mereka miliki dan sedikitnya jumlah da’i yang ada.

Menurut laporan Republika Online, mengutip Dr Isaac Jamaluddin, ketua Majelis Muslimin Suriname, salah satu organisasi Islam terbesar di Suriname, warga muslim tidak kendur, bahkan semakin antusias mempelajari ajaran agama. “Itu sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir,” katanya.

Meski begitu, mereka masih menemui kendala. Pengajaran agama Islam terbentur oleh keterbatasan tenaga pengajar serta material yang diperlukan, seperti buku-buku agama.

Kedua problem ini belum sepenuhnya teratasi, mengingat dana yang juga terbatas. “Tidak seperti umat lain, mayoritas umat Islam berasal dari kelas menengah bawah. Sehingga, terkadang, kami kesulitan memenuhi keperluan untuk pengajaran agama ini,” ujar Jamaluddin.

KOMENTAR FACEBOOK