Gure Nazar, Berawal dari Aktivis Mahasiswa Kini Akan Berjuang di Parlemen

ACEHTREND.COM, Lhoksukon – Nazaruddin (32) atau yang akrab disapa Gure Nazar dipastikan lolos menjadi anggota DPRK Aceh Utara dari Partai Aceh. Perjalanan karier politik pria kelahiran 14 Juni 1986 ini berawal dari pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa. Ia pernah menjadi presiden mahasiswa STAIN Malikussaleh yang kini beruban menjadi IAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Sejak masih mahasiswa Gure Nazar sangat vokal menentang kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

Selain aktif di organisasi kampus, pria asal Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara itu juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain itu Gure Nazar dulunya juga pernah menjadi staf ahli Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib.

Saat berbicang dengan aceHTrend, Sabtu (18/5/2019), Gure Nazar mengungkapkan dirinya tidak pernah menduga memperoleh kursi di DPRK Aceh Utara. Mengingat lawat politiknya di pileg 2019 kemarin sangat tangguh bahkan ada dari petahana.

“Saat itu saya tidak pernah terpikir akan mendapat kursi, bahkan dana kampanye selama ini saja, ini hasil bantuan dari masyarakat,” jelasnya.

Guru Nazar juga punya pertimbangan sendiri memilih Partai Aceh sebagai kendaraan politiknya. Menurutnya Partai Aceh merupakan partai milik rakyat Aceh yang lahir dari perjuangan dan darah masyarakat Aceh. Karena itu ia berharap dukungan agar bisa membangun Aceh melalui politik.

“Dalam tubuh saya ada aliran darah perjuangan Aceh Merdeka dari ayah saya, maka itu saya memilih maju legislatif dari Partai Aceh,” jelasnya.

Dia menceritakan, dulu ayahnya banyak memberikan pesan tentang Aceh saat masih konflik. Hingga beliau menghadap Allah pada akhir 2014 silam, riwayat sakit “peninggalan masa DOM” yang dideritanya.

Sementara itu, sejak di pesantren, sekitar tahun 2002, mewakili Suara Rakyat Aceh (SURA) perwakilan Kabupaten Bireun sudah berada dalam barisan kalangan santri dan mahasiswa yang tergabung dalam Front Perlawanan Demokratik Rakyat Aceh, menuntut Aceh harus bebas dari kekejaman militer Indonesia kala itu.

“Kami membentuk wadah Lembaga Kajian Islam Transformatif (Leukit) sebagai wadah perkumpulan santri yang memiliki ide untuk menuntut gencatan senjata (cise fire) kala konflik Aceh melanda sekitar tahun 2003,” Ujarnya.

Gure Nazar meminta doa dari seluruh masyarakat Aceh agar ke depan dia bisa menjalankan tugas dengan amanah.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK