Mungkinkah PNA Tersingkir dari Wakil Gubernur Aceh?

Muhajir Juli

Oleh Muhajir Juli*)

Sejumlah nama disebut-sebut bakal menggantikan Nova Iriansyah sebagai Wakil Gubernur Aceh. Putra Gayo itu dalam waktu tidak lama lagi akan dilantik sebagai Gubernur Aceh sisa masa jabatan 2019-2022.

Sejumlah nama sempat muncul sebagai kandidat pengganti Nova. Sebut saja seperti Irwansyah, bekas Ketua UmUm DPA PNA sebelum diambil alih oleh Irwandi Yusuf. Kemudian Darwati A. Gani dan Samsul Bahri bin Amiren (Tiyong) juga sempat disebut namanya.

Tapi akhir-akhir ini, nama ketiganya kian redup. Bahkan yang muncul ke publik justru nama-nama di luar partai pengusung. Sebut saja seperti H. Muzakkir Manaf (Walau sudah memberikan klarifikasi dan mengaku tidak berminat) serta Kamaruddin Abubakar. Keduanya adalah pentolan Partai Aceh, yang sempat berseberangan politik pada Pilpres 2019.

Soal pengisian pos kosong tersebut memang dilematis. walaupun PNA dan partai pengusung lainnya telah berhasil menghantarkan duet Irwandi-Nova ke singgasana, tapi penentuan pos Wakil Gubernur Aceh tetaplah oleh DPRA, dengan melibatkan Gubernur Aceh dan Direktur Jenderal Otonomi daerah (OTDA). Partai pengusung hanya diberikan kewenangan mengusulkan nama bakal calon.

Hasil obeservasi di lapangan, memang PNA seperti akan ditinggalkan begitu saja. Pasca Irwandi dibui, PNA sudah bukan lagi partai yang solid. Partai Nanggroe Aceh memiliki konflik internal dalam ragam rupa. Baik persaingan proyek kala Irwandi masih duduk di kursi empuk, nepotisme, dan permainan politik internal pada pileg lalu. Intinya partai ini memang sedang sakit.

Selentingan lainnya bahwa dari beberapa nama yang beredar sebagai pengganti Nova, justru tidak ada nama pentolan PNA. Mereka seakan-akan tidak masuk bursa. Ini tentu sesuatu yang dilematis, bila tak pantas disebut berbahaya.

Politik selalu memiliki kemungkinan-kemungkinan. PNA bisa saja kehilangan segalanya. Bilapun kali ini berhasil mendapat satu fraksi di DPRA, apatah kekuatannya untuk mempengaruhi? Toh mereka belum dilantik.

Ini waktunya PNA kembali mengkonsolidasikan diri, keluar dari cerai-berai yang tidak berguna. Diakui atau tidak, rakyat dulu memilih Irwandi sebagai Gubernur, siapapun wakilnya, dengan harapan Aceh akan lebih baik. Memilih Irwandi berarti percaya bila Aceh akan dikendalikan oleh PNA sebagai rumah politik Irwandi Yusuf.

Tapi politik bukanlah kitab moral. Bukan pula matematika sederhana. Bahkan lebih rumit dari ragam ujicoba kimia dan fisika. Politik adalah kerja keras, kerja cerdas dan bila perlu, sesekali menunjukkan taring harimau, agar lawan politik menempatkan kita pada posisi yang pantas.

Beranikah PNA? Ataukah, mampukah PNA? Jangan sampai kalah untuk kedua kali.

*)Penulis adalah Pemred aceHTrend, pengasuh kolom Jambo Muhajir.

KOMENTAR FACEBOOK