Politik Benci Ruman Ala Pemburu Proyek

Ilustrasi

Oleh Fauzan Azima*

Penggiringan opini dengan cara mempertentangkan antara Teungku Muzakkir Manaf dengan Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah merupakan cara berpolitik yang tidak santun dan merusak penegakan akal sehat bagi generasi muda Aceh.

Teungku Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem adalah contoh sosok yang sangat dewasa, matang, dan santun dalam berpolitik sehingga apa pun yang sudah menjadi keputusan bersama dan siapa pun yang menjadi pemimpin Aceh beliau tetap komitmen mendukungnya.

Pada tahun 2006, ketika itu dilaksanakan konvensi internal mantan GAM di Gedung Dayan Dawood, Unsyiah untuk memilih calon gubernur Aceh yang akhirnya memenangkan Teungku Nashruddin Ahmed-Muhammad Nazar, sementara kalangan tua, menghendaki pasangan Ahmad Humam Hamid-Hasby Abdullah.

Tidak disangka peta politik berubah, tiba-tiba Teungku Nashruddin Ahmed mengundurkan diri sebagai calon gubernur Aceh, sehingga beberapa mantan Panglima Wilayah GAM menginisiasi pertemuan dengan Mualem dan diputuskanlah Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Aceh untuk periode 2006-2011.

Mualem mendukung penuh pasangan Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, meskipun harus bertentangan dengan para orang tua karena sudah menjadi keputusan bersama. Meskipun demikian, Mualem tetap hormat kepada mereka sebagai mana layaknya adab anak terhadap orang tua. Dengan karakter Mualem seperti itu, menjadi aneh rasanya ada yang membangun opini publik seolah Mualem benci roman kepada Nova Iriansyah.

Demikian juga, Mualem sangat legawa kalau sesuatu sudah menjadi keputusan hukum tetap. Ketika Pilkada 2017 lalu, pasangan Muzakkir Manaf-TA Khalid kalah dan menetapkan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh untuk periode 2017-2022.

Mualem tidak pernah sama sekali berusaha membuat gerakan yang bisa menjatuhkan citra kepemimpinan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Padahal sangat mudah bagi Mualem untuk mengorganisir mantan kombatan untuk membuat kekacauan. Begitulah sejatinya karakter Mualem, tidak ambisius.

Lalu siapa yang menggoreng isu yang tidak sehat ini? Kalau mau jujur, mereka adalah orang yang juga menyeret secara sadar dan menjebloskan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf ke dalam penjara dengan menjual proyek di warung-warung kopi.

Kita ingin Aceh berubah dari “daftar hitam” paling kurang ke “daftar abu-abu” walaupun tujuan akhir adalah “daftar putih” dalam hal pencegahan penyalahgunaan keuangan negara. Sudah cukup menjadi pelajaran bahwa orang yang kita banggakan, Bang Wandi (Irwandi Yusuf) adalah korban dari segelintir para pemburu proyek.[]

*Penulis adalah mantan panglima GAM Wilayah Linge.

KOMENTAR FACEBOOK