Selama Ramadan, Ada Tradisi Mengantar Rantang untuk Orang Tua di Aceh Selatan

Ilustrasi @hai-online.com

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Memasuki pertengahan bulan Ramadan, tepatnya pada sulus kedua yaitu maghfirah (ampunan), di Aceh Selatan mulai terlihat beberapa orang di jalanan membawa rantang ketika sore hari. Mereka bukan hendak pergi tamasya atau sedang kenduri, tapi untuk mengantarkan makanan berbuka puasa kepada orang tua mereka.

Rantang berisi berbagai makanan itu nantinya akan dinikmati bersama saat berbuka puasa bersama orang tua. Tradisi ini dilakukan oleh mereka yang sudah berkeluarga dan tinggal terpisah dari orang tuanya.

Namun, bila masih tinggal bersama orang tuanya, maka rantang tersebut dibawa ke rumah mertuanya. Ketentuan tidak tertulis ini sudah berlangsung lama di masyarakat Aceh Selatan dan sudah menjadi kebiasaan di bulan Ramadan.

Seperti halnya Hasnida yang masih memegang teguh tradisi ini. Di Ramadan ke-13 ini ia sudah mengantarkan rantangan yang berisi kue seperti ketupat, lingi-lingi, agar-agar, dan pisang goreng untuk menu berbuka puasa mertuanya.

“Setiap tahun saya melakukan itu. Kali ini saya antarkan dulu rantangan untuk berbuka puasa, nanti di kali kedua tepatnya di hari ke-16 petang Ramadan, saya, suami, dan anak ke rumah mertua lagi untuk berbuka puasa bersama. Namun, nanti kami membawa rantangan yang berisi nasi lengkap dengan lauknya,” ujar Hasnida kepada aceHTrend (18/5/2019).

Hal yang sama juga dilakukan oleh Deni Yuliana, ia dengan senang hati mengantarkan rantangan berbuka puasa untuk mertuanya yang ada di Tapaktuan. “Saya membawakan rantangan berbuka puasa untuk mertua. Lagian itu memang kebiasaan kami yang sudah ada sejak dulu. Kalau belum diantarkan, tidak enak rasanya hati ini,” ujar Deni Yuliana warga Gampong Air Sialang, Kecamatan Samadua.

Menurut salah satu teungku imam di Air Sialang, H. Jasmi, hal itu bukanlah tradisi, tapi memang keharusan. “Di bulan puasa ini memang seharusnya kita memberikan makanan kepada orang yang berpuasa. Tidak terbatas kepada orang tua saja, melainkan bagi siapa saja yang berpuasa. Walaupun hanya dua butir kurma yang kita berikan. Namun, kita di sini dibuatlah rantangan berbuka puasa untuk orang tua, diisilah dengan berbagai macam makanan agar bisa dinikmati bersama,” sampai H. Jasmi saat ditemui acehTRend di kediamannya, Jumat (18/5/2019).

Namun, kebiasaan membawa rantangan berbuka puasa kepada orang tua ini tidak terjadi di masyarakat Kota Banda Aceh.

“Kalau kami nggak ada ketentuan khusus saat hendak berbuka puasa di rumah orang tua. Kalau buka bareng, ya buka saja. Bawa seadanya biar nggak kosong sekali di tangan saat datang,” ujar Wildan, warga Banda Aceh yang tinggal di Keutapang.

Begitu juga dengan Nia Robie yang merupakan orang Sunda dan hijrah ke Kota Banda Aceh. “Kalau pertengahan Ramadan seperti itu, kami tidak ada. Paling saat meugang atau mau lebaran memberikan uang atau kebutuhan pokok kepada orang tua atau mertua,” kata Nia.

Terlepas dari hal ini, bulan Ramadan hendaknya dijadikan sebagai ajang untuk berbagi kepada orang lain. Entah itu orang tua, sanak saudara, kerabat, orang duafa, dan siapa saja yang sedang berpuasa. Tradisi atau bukan, selama ada rezeki, maka berbagilah karena setiap amalan akan dilipatgandakan pada bulan ini.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK