Mengenal AKP Vifa Fibriana, Kasat Lantas Aceh Besar Penerima Penghargaan MURI

AKP Vifa Fibriana Sari, SIK. @aceHTrend/Ihan Nurdin

GEBRAKAN literasi dilakukan oleh Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Besar. Dalam Operasi Keselamatan Rencong 2019 pada April lalu, satuan di bawah komando AKP Vifa Fibriana Sari, S.H, S.I.K itu mengadakan bakti sosial ke Pulo Aceh, Aceh Besar tepatnya di Pulo Breuh selama tiga hari pada 27-29 April 2019. Tak sia-sia, usaha mengedukasi masyarakat dengan mengarungi lautan luas itu pun berbuah manis.

Atas ide kreatif dan dedikasinya membagikan 2.019 buku di pulau terluar Indonesia itu, Kasat Lantas Polres Aceh Besar, AKP Vifa Fibriana Sari, S.H, S.I.K., pada 15 Mei 2019 lalu diganjar Penghargaan Prestasi Nusantara dari Museum Rekor Indonesia. Bagi AKP Vifa, penghargaan itu merupakan bonus dari usahanya mengedukasi masyarakat. Khususnya dalam mengampanyekan praktik tertib berlalu lintas.

“Operasi Keselamatan ini lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya preventif, jadi lebih mengedukasi masyarakat terkait dengan kesadaran tertib berlalu-lintas. Jadi ini memang berbeda dengan operasi yang biasanya lebih ke penindakan, kalau operasi ini kita fokusnya 70 persen lebih ke edukasi, dan 30 persennya ke penindakan atau represif dengan selektif prioritas,” kata AKP Vifa saat berbincang di ruang kerjanya pada Senin, 20 Mei 2019.


Pulo Aceh merupakan salah satu kecamatan yang secara administrasi masuk ke wilayah Kabupaten Aceh Besar. Kecamatan ini memiliki delapan pulau dengan dua pulau terbesarnya, yaitu Pulau Breuh dan Pulau Nasi. Dan hanya dua pulau ini saja yang berpenghuni. Sisanya, Pulau Bunta, Pulau Rusa, Pulau Batee, Pulau U, Pulau Benggala, Pulau Sidom, dan Pulau Keureusek hanya menjadi pulau tujuan wisata. Keindahan panorama Pulo Aceh memang menjadi magnet yang menjanjikan bagi wisatawan.

Hanya saja, sarana transportasi ke Pulo Aceh masih sangat terbatas. Inilah yang membuat akses ke pulau terluar di ujung barat Indonesia itu jadi terkendala. Padahal waktu tempuh dari Banda Aceh menuju Pulo Aceh tak lebih dari satu jam. Akibatnya, masyarakat di sana harus merasakan apa yang seharusnya tidak mereka rasakan. Barang-barang kebutuhan pokok jadi mahal. Mirisnya lagi, sekolah-sekolah yang ada di sana pun sering kali on-off karena guru-guru yang ditugaskan di sana sering membolos. Padahal, pendidikan merupakan jalan utama menuju kemajuan.

AKP Vifa bersama anak-anak sekolah di Pulo Aceh. @ist

Namun pada akhir April lalu Pemkab Aceh Besar telah mengoperasikan Kapal Peunaso yang bisa ditumpangi para guru, petugas kesehatan, petugas kecamatan, maupun masyarakat biasa secara gratis. Kapal jenis speed boat ini berangkat pagi dari Banda Aceh dan kembali di sore hari.

Keprihatinan inilah yang membuat AKP Vifa dan timnya berinisiatif membuat bakti sosial khusus dalam rangka Operasi Keselamatan Rencong 2019 di Pulo Aceh. Dalam operasi keselamatan yang digelar serentak di seluruh Indonesia itu, Satlantas Aceh Besar ingin menyajikan suguhan yang berbeda. Program bagi-bagi buku kepada masyarakat pun dicetuskan. Dan ternyata hanya Satlantas Aceh Besar yang melakukan manuver seperti itu sehingga dilirik oleh MURI.

Ide ini tak hanya disambut oleh seluruh personel Satlantas, dua instansi terkait di Aceh Besar, yaitu Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pun mendukung penuh. Dinas Perpustakaan menyumbangkan buku-buku cerita, sedangkan buku tulis, Iqra, dan Alquran digalang secara internal dari masing-masing personel. Buku-buku tersebut diberikan untuk 500-an anak-anak di SDN Ulee Paya dan SDN Lampuyang, serta untuk Meunasah Serapung.

“Selain itu kami juga membawa alat peraga berupa rambu-rambu lalu lintas dan badut untuk menghibur anak-anak di sana. Alhamdulillah sambutan masyarakatnya sangat baik sekali. Malah gurunya bilang, sering-sering ke sini,” ujar AKP Vifa pada Senin, 20 Mei 2019.

Sebagai seorang pencinta buku, AKP Vifa percaya bahwa dengan banyak membaca seseorang bisa mendapatkan berlimpah ilmu pengetahuan. Tak terkecuali terkait kepatuhan dalam berlalu lintas. Secara kasat mata kata dia, orang-orang yang rakus pada buku dengan mudah dikenali.

AKP Vifa bersama personelnya saat di Pulo Aceh @ist

“Pengetahuan dan kosakata orang yang rajin baca buku itu banyak, dan biasanya sangat terlihat ketika ada orang yang berbicara, jadi langsung dikenali, oh orang ini pasti rajin membaca,” ujar penyuka buku-buku biografi ini.

Berkampanye melalui media literasi memang bukan kali ini saja dilakukan oleh Satlantas Polres Aceh Besar. Sejak beberapa tahun belakangan ini, setiap menjelang lebaran (operasi ketupat) tiba Satlantas Aceh Besar selalu memasang spanduk-spanduk berisi pesan-pesan keselamatan dengan nada jenaka dan kekinian. Spanduk tersebut dipasang di titik-titik tertentu yang dinilai rawan (black spot) terjadinya kecelakaan lalu lintas seperti di kawasan Jembatan Seunapet, Kecamatan Lembah Seulawah.

Praktik tersebut sengaja dilakukan agar sosialisasi keselamatan berlalu lintas tidak terkesan menyeramkan. Selain spanduk, sosialisasi tertib berlalu lintas juga sering dikemas melalui video-video parodi yang kocak dan menghibur. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan peran polisi sebagai pengayom dan pelayan masyarakat yang lebih edukatif. Dampaknya, untuk tahun ini menurut AKP Vifa, secara kuantitas angka kecelakaan lalu lintas di Aceh Besar memang meningkat, tetapi dari sisi tingkat kefatalannya sangat menurun drastis.

Bersama masyarakat di Pulo Aceh @ist

“Kita sengaja mencari yang lagi in dan viral sehingga masyarakat lebih cepat nangkap pesannya, jadi yang viral di sosial media kita adopsi, kita ubah narasinya dengan tujuannya untuk meminimalisir angka kecelakaan,” ujar AKP Vifa.[]