Empat Nama Pengganti Nova

Muhajir Juli

Oleh Muhajir Juli*)

Siapapun boleh menyangkal bahwa terlalu dini membicarakan sosok pengganti Nova Iriansyah di bangku Wakil Gubernur Aceh. Tapi isu tersebut sudah dibicarakan sejak Irwandi ditetapkan bersalah oleh Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/4/2019).

Lelaki yang akrab disapa BW (Bang Wandi) oleh hakim diputuskan bersalah karena terbukti menerima suap Rp 1 miliar dari Bupati Bener Meriah Ahmadi. Uang tersebut diberikan agar Irwandi Yusuf menyetujui program pembangunan dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun 2018.

Beberapa hari lalu, Samsul Bahri bin Amiren yang merupakan Ketua Harian DPP PNA memberikan klarifikasi tentang desas-desus penggantian Wakil Gubernur Aceh. “Karena PNA lah nantinya yang akan meneruskan perjuangan Bapak Irwandi Yusuf untuk mewujudkan cita-cita Aceh Hebat. Oleh karenanya kepada seluruh kader PNA kami himbau untuk tidak ada satupun yang membahas persoalan wacana pergantian wagub. Lebih baik fokus saja pada kerja-kerja agenda partai yang lain,” kata Tiyong, dalam rilis yang dikirimkan kepada aceHTrend.

Imbauan sosok yang pernah mengundurkan diri dari jabatan Ketua Harian DPP PNA itu, tentu wajar-wajar saja. Sama seperti ianya yang mundur kemudian ditempatkan kembali sebagai Ketua Harian dengan dalih BW belum menandatangani surat permohonan itu. Lelaku politik di lapangan, tentulah akan selalu sama. Sangat dinamis dan oportunis. Walau tanpa intruksi resmi partai, nyaris semua orang membicarakan tentang siapa calon pengganti Nova, tak terkecuali orang-orang penting di tubuh PNA.

Baru-baru ini, kembali tersiar kabar bila ada empat nama yang disebut-sebut orang yang direkomendasikan oleh Irwandi –Kabar ini tidak dapat dikonfirmasi karena Irwandi sedang dalam penjara– yaitu D bin AG, MZ, ES, S bin A. Empat nama itu merupakan orang dekat Irwandi, dan secara personal memang memiliki kapasitas intelektual. Soal kapasitas politik, belum ada alat ukur yang benar-benar bisa dijadikan ukuran.

Bila benar adanya rekomendasi nama oleh Irwandi Yusuf, saya kira ini sesuatu yang natural dalam partai yang dominan besar dengan nama pribadi. kapasitas ketua umum tentu bisa merangkap sebagai kapasitas pemegang saham terbesar perusahaan swasta. Bilapun itu hanya sesuatu yang asal bunyi (kabar bohong) kita tentu bisa melihat ini dari sisi menjaga isu politik agar tetap hangat dan para kader terus siaga atas segala kemungkinan.

So, jabatan Wakil Gubernur adalah posisi seksi. Siapa saja akan tertarik, apalagi yang memiliki peluang besar. Bila Mualem menolak, tentu wajar, karena ianya adalah sosok di luar koalisi PNA, Demokrat, PDA, PKB dan didukung oleh PDIP. Tapi bila di internal pengusung masih ada pengakuan belum fokus ke sana, saya kira ini hanya alat untuk berkilah. Buktinya, lobi-lobi ke Jakarta terus dilakukan.

*)Penulis adalah Pemimpin Umum aceHTrend. Pengasuh tetap rubrik Jambo Muhajir.

KOMENTAR FACEBOOK