Ramadhan, Antara Puasa Ular dan Ulat

Oleh Hamdani*)

Hampir setengah perjalanan puasa kita, alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan. Allah masih menunda usia kita, masih memberikan kita kekuatan, kesehatan sehingga kita sudah sampai pada puasa yang ke 14 di bulan Ramadhan atau menjelang pertengahan.

Bulan puasa merupakan bulan penuh ujian, pada bulan ini kita diuji oleh Allah agar kita memperoleh kesabaran dan pendidikan, oleh sebab itu puasa juga disebut dengan syahrul tarbiyah (bulan pendidikan).

Berbagai panggilan lain juga disematkan terhadap bulan ramadhan, ada yang memanggilnya dengan sebutan bulan Allah (syahrullah), ada yang memanggilnya dengan syahrul rahmah (bulan penuh rahmah), syahrul maghfirah (bulan pengampunan), syahrul ‘ibadah (bulan ibadah), syahrul shabr (bulan kesabaran), dan syahrul Quran (bulan Al-Quran).

Dari hari-hari yang telah kita tunaikan puasa kita, marilah kita melakukan evaluasi dan introspeksi diri. Apakah puasa kita sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah Swt sebagaimana difirmankan pada Surat Al-baqarah 183?

Bagaimanakah shalat kita, tarawih kita, sedekah kita yang tiap malam celengan masjid wara wiri di depan kita. Bagaimanakah bacaan Al-Quran kita sudah berapa juz yang sudah kita tamatkan. Berapa lembar yang sudah kita baca? Atau jangan-jangan Al-Quran itu sudah berdebu di rumah tanpa pernah kita sentuh.

Bila kita lihat lebih jauh mengapa Allah mewajibkan puasa kepada seluruh umat pada setiap nabi dan zaman? Tentu saja karena disebabkan puasa mengandung rahasia. Karenanya Allah wajibkan puasa itu bagi setiap umat nabi termasuk umat Muhammad.

Bagi umat Islam perintah puasa diturunkan dan pertama kali disyari’atkan pada tahun ke-2 Hijriyah yaitu pada 10 Sya’ban. Lalu setelah itu baru puasa kemudian dilakukan pada setiap bulan Ramadhan.

Berpuasa memang penuh dengan ujian, uji kesabaran, menahan lapar, dahaga, amarah, dan menundukkan pandangan. Semua itu memang berat untuk dilaksanakan.

Namun sangat ironi bila dibandingkan kita yang hidup di negara tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu kemarau dan musim hujan atau cuaca yang tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin tetapi tidak mampu berpuasa dengan sempurna untuk Allah.

Padahal di belahan negara lain ada yang melewati empat musim tapi mampu menjalani puasa dengan sempurna walau cuaca panas terik sekalipun. Bahkan sebutan bulan Ramadhan berasal dari kata ramdha, yarmadhu, yang berarti ‘panas yang terik’ atau ‘panas yang membakar’ di mana cuaca di Makkah ketika berpuasa dengan cuaca panas yang luar biasa.

Secara perhitungan Qamariah, Ramadhan adalah bulan kelima dalam perubahan cuaca. Sebelumnya ada Rabiul Awal (musim semi), Rabiul Tsani (musim semi kedua), Jumadil Awal (musim dingin), Jumadil Tsani (musim dingin kedua), dan setelah itu baru bulan Ramadhan (musim panas).

Maka bila dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang berpuasa di negara Eropa yang memiliki waktu siang lebih panjang hingga 20 jam (artinya hanya memiliki 4 jam saja saat untuk berbuka, tarawih, sahur, shalat Subuh lalu berpuasa kembali) namun mereka mampu istiqamah dan dapat menuntaskan puasa mereka kepada Allah dengan sempurna.

Lalu mengapa kita yang hanya sampai 13 jam saja namun tidak mampu istiqamah dan menuntaskan puasa kita kepada Allah dengan baik dan sempurna?

Sementara ada orang yang berpuasa di negara-negara yang sangat sulit bagi mereka untuk menjaga pandangan dan tersedia makanan di mana saja tanpa ada warung yang ditutup. Namun mereka dapat menyelesaikan puasa mereka kepada Allah dengan tuntas dan sempurna.

Lalu mengapa kita yang hidup di daerah paling bersyariat di Indonesia di mana tidak ada warung kopi dan kedai makanan yang buka, perempuan-perempuan dan laki-laki yang tidak membuka aurat mereka tapi kita tidak mampu istiqamah dan berpuasa secara sempurna kepada Allah subhanahuwata’aala?

Di sisi lain puasa kita yang lakukan hanya 29 hari atau sebulan saja, sangat jauh berbeda bila kita bandingkan dengan puasanya Nabi Daud, berpuasa selang seling setiap hari, atau setengah tahun berpuasa dan setengah tahun tidak, tetapi beliau dan umatnya bisa istiqamah? Mengapa kita tidak?

Dan apabila kita ingin lihat lebih jauh lagi ternyata puasa bukan hanya dilakukan oleh manusia yang konon telah Allah anugerahkan akal dan kemampuan berpikir. Bahkan binatang yang tidak diberikan akal pun ternyata mereka melakukan puasa. Karenanya jangan sampai puasa binatang lebih baik daripada puasa kita sebagai manusia.

Di antara binatang yang melakukan puasa adalah beruang, hewan ini mampu berpuasa selama musim dingin, atau apa yang disebut dengan hibernasi. Kondisi alam yang ekstrimlah yang kemudian memaksa beruang untuk berpuasa. Beruang akan melakukan puasa dalam jangka waktu yang lama (6-8 bulan) untuk menghadapi musim dingin dan baru terbangun ketika musim dingin usai dan mencari makanan karena lapar.

Binatang lain yang juga melakukan puasa adalah ular. Ular melakukan puasa secara berkala. Hewan melata ini dalam waktu tertentu akan melakukan puasa setelah terlebih dahulu mempersiapkan cadangan makanan di perutnya, misalnya makan anak kambing satu ekor.

Puasa yang dilakukan ular bertujuan untuk meningkatkan suhu badan hingga beberapa derajat di atas normal guna melakukan pergantian kulit baru. Jadi tujuan puasa yang dilakukan ular adalah untuk melakukan pergantian kulit.

Baik beruang maupun ular tidak ada yang berubah setelah mereka berpuasa, tubuh mereka masih sama, kulitnya juga masih tetap sama, perilaku dan sifat juga tidak ada yang berubah, bahkan namanya juga masih tetap ular Atau beruang. Mereka berpuasa hanya untuk kebutuhan fisiknya saja. Sebab itu jangan sampai puasa kita lebih buruk dari puasa Beruang dan Ular.

Hewan yang ketiga juga melakukan puasa adalah ulat, hewan ini tergolong menjijikkan. Binatang kecil dengan warna agak hijau atau kehitam-hitaman. Jalannya pun selangkah demi selangkah, secenti demi centi. Ketika ia hinggap pada sebatang pohon dia akan memakan daun pohon tersebut hingga pohon itu kemudian mati karenanya.

Ulat ketika ingin (insting) berpuasa maka ia membalut dirinya dengan namanya kepompong. Ada fase menjadi kepompong dalam siklus hidup ulat sebelum ia berubah menjadi seekor kupu-kupu yang menarik. Banyak yang menyebut seharusnya puasa Ramadhan adalah puasa yang menyerupai puasa ulat.

Karena ketika masa berpuasa telah usai, dia tidak lagi bernama ulat yang menjijikkan dan tidak ada yang mau menyentuhnya serta keberadaannya merugikan pohon. Dulunya di mana dia menempel maka akan membuat pohon itu mati. Namun semua itu berubah mana kala selesai menjalani puasa.

Di fase ini perilaku yang sebelumnya rakus, tak tahu malu dan merugikan orang lain mulai terkikis perlahan. Yang ada kemudian adalah sebuah mahluk baru bernama kupu-kupu yang cantik. Allah anugerahkan dua sayap yang dapat membuat ia bebas terbang kemana saja. Bahkan dimana dia hinggap justru dapat membantu penyerbukan dan pembuahan pohon-pohon.

Hendaknya begitulah puasa kita. Jadilah puasa kita seperti halnya puasa ulat. Setelah Ramadhan berlalu, kita harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi orang-orang yang berperilaku taqwa sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-baqarah 183 di atas.

Peduli Pada Tetangga

Marilah kita saat ini jadi lebih peka dengan tetangga kita. Jangan biarkan tetangga kita lebih menderita dari sebelumnya di saat bulan Ramadhan tiba. Tidak boleh kita biarkan tetangga kelaparan di bulan Ramadhan karena tidak bisa sahur dan berbuka sebab tidak ada makanan.

Padahal kita sebagai orang kaya setiap harinya selalu memasak makanan enak yang harum aroma dan asapnya selalu memasuki celah-celah pintu dan jendela rumah mereka.

Antarkanlah makanan apapun yang kita masak kepada mereka menjelang berbuka puasa. Ketuklah pintu-pintu rumah kaum fakir miskin, kirimlah semangkok kuah atau makanan buat keluarga mereka untuk berbuka.

Jika ini dilakukan maka kita akan memperoleh pahala puasa yang sama dan mengalir kepada kita. Dan mereka pun seumur hidup akan mengingat kebaikan-kebaikan yang kita lakukan tersebut.

Dengan demikian, itulah makna berpuasa dan pendidikan Ramadhan yang kita peroleh. Paska Ramadhan hendaknya kita semua telah menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak mulai, memiliki hubungan baik dengan Allah juga tetangga. Semoga dengan itu kita akan dimasukkan dalam surgaNya Allah kelak. Amin. Wallahua’alam

*)Penulis Hamdani, SE.,M.Si Email: hamdani.aceh@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK