Remaja dan Pengaruh Kelompok Sosialnya

Pratiwi Dwiyana Ning Tyas.

Oleh Pratiwi Dwiyana Ning Tyas*)

Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah ini mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992).

Masa remaja adalah masa yang bergejolak. Kalimat yang tak akan pernah luput dari diri seorang remaja. Benar, masa remaja adalah suatu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang ditandainya perubahan fisik, psikis, maupun sosial. Biasanya pada usia 12 sampai 21 tahun ini remaja cenderung ingin mencoba hal-hal baru. Tak hanya itu keadaan emosionalnya pun akan memuncak dan cenderung labil. Apabila dilarang tentang suatu hal maka ia akan semakin penasaran akan hal tersebut.

Tak jarang dampak yang didapatkan pun bisa berupa positif bahkan negatif. Selain keluarga sebagai lingkungan terdekat, lingkungan sekitar juga turut andil dalam mempengaruhi dampak yang terjadi.

Tahun 2017 dilakukan sebuah survey yang sasarannya adalah remaja usia 12 sampai 22 tahun sebanyak 117 orang di kota Banda Aceh. Survey yang dilakukan ini mengenai pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja dengan melontarkan 15 buah pertanyaan dan pernyataan yang aksesnya dilakukan melalui aplikasi google form. Hasil yang didapatkan sesuai dengan ekspektasi awal yaitu teman sebaya memiliki pengaruh terhadap perkembangan remaja.

Pada saat mengambil sebuah keputusan seorang remaja biasanya cenderung labil dalam menentukan keputusannya. Dari hasil survey yang didapat ternyata ada 94 orang yang menyatakan kelompok teman sebaya itu memiliki pengaruh dalam proses pengambilan sebuah keputusan.

Mengapa? Secara psikologis, seorang remaja akan lebih mudah menyetujui apa yang dikatakan oleh teman kelompoknya sendiri, karena ia akan merasa takut apabila tidak mengikuti kelompoknya ia akan dijauhi. Kalau gak ikut gak gaul, begitulah kira-kira. Tapi jangan salah, meskipun teman sebaya berpengaruh terhadap diri seorang remaja, mereka tidak mau melakukan hal-hal yang memang dilarang. Seperti mengonsumsi alkohol, obat-obatan terlarang, seks bebas, dll. Hal ini dibuktikan dari 117 orang responden, sebanyak 117 orang menjawab tidak pernah melakukan hal itu. namun yang disayangkan hal ini juga tidak dapat sepenuhnya dikatakan benar. Tergantung kejujuran individu masing-masing dalam mengisinya.

Memang benar untuk apa melakukan hal terlarang tersebut yang sejatinya sama sekali tidak ada manfaatnya. Lebih baik mereka habiskan waktu bersama untuk mengerjakan tugas, nonton film, jalan-jalan dan masih banyak lagi. Tak jarang sebuah kelompok teman sebaya akan menghabiskan waktu lebih dari 4 jam dalam sehari apabila sudah berkumpul dengan teman kelompoknya.

Hadirnya orang-orang terdekat merupakan hal yang penting bagi seorang remaja. Identitas seorang remaja akan terbentuk pada masa ini. Bagaimana ia akan ke depannya, mau jadi seperti apa dia. Apabila seorang remaja sudah bergabung dalam sebuah kelompok dan ternyata kelompok yang ia pilih salah, maka akan sulit untuk dirinya keluar dari kelompok tersebut karena ia sudah merasa nyaman. Seperti kata pepatah bertemanlah dengan penjual parfum maka kita akan kecipratan wanginya. Peran orang tua di sini juga sangat diperlukan. Untuk apa? Mereka sebagai pengawas yang dapat mengontrol kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan anaknya. Tujuannya agar penyimpangan-penyimpangan terhadap norma dapat diredam. Peran orang tua yang lain sebagai tempat mereka mengadu. Apabila remaja sudah merasa tidak dihargai dalam kelompoknya maka ia akan meminta pertimbangan kepada orang tuanya apakah ia harus meninggalkan teman sebayanya atau tidak.

Berbicara tentang remaja memang tidak ada habis-habisnya. Apalagi dalam proses pencarian jati dirinya tak jarang akan timbul masalah-masalah baru. Pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sendiri. Begitu pula remaja, ia cenderung akan mencari kelompok-kelompok yang tepat untuk dirinya atau biasa disebut kelompok teman sebaya. Biasanya kelompok-kelompok ini terbentuk karena adanya kesamaan hobi, latar belakang pengalaman yang sama dan tak jarang pula sebuah kelompok bisa terbentuk secara alami tanpa ada unsur kesamaan apapun.

*)Penulis adalah mahasiswa semester enam dari Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala.

KOMENTAR FACEBOOK