KKR Akan Gelar Rekonsiliasi Komunitas di Bener Meriah

Teungku Masthur Yahya, SH,M.Hum. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

ACEHTREND.COM,Banda Aceh- Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, akan melakukan proses rekonsiliasi komunitas di Kabupaten Bener Meriah. Kabupaten tersebut, saat konflik melanda Aceh merupakan salah satu kawasan yang terjadinya pergesekan antar komunitas masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Teungku Masthur Yahya, SH, M.Hum, Rabu (22/5/2019) saat konferensi pers KKR di kantor lembaga tersebut di kawasan Kuta Alam, Banda Aceh.

Anggota Komisioner KKR Pokja Rekonsiliasi, yang juga Putra almarhum Teungku Muhammad Yahya Hasan Blang Batee Peureulak itu mengatakan rekonsiliasi komunitas di tempuh sebagai upaya pemulihan dendam dan sengketa masa lalu antara pelaku dan korban.

“Kegiatan itu akan kita lakukan pada JUni atau Juli 2019. Pendekatan sosial dengan perwakilan masyarakat sudah kami lakukan, termasuk dengan kelompok-kelompok bersenjata non pemerintah yang dulunya eksis di sana,” kata bekas Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh itu.

Terpilihnya Bener Meriah, menurut Masthur Yahya, karena kawasan itu merupakan salah satu kawasan yang kala konflik. Sengketanya bukan hanya antara Kombatan GAM berhadap dengan aparat negara, tapi melibatkan komunitas sosial masyarakat. Bila tidak dilakukan rekonsiliasi berbasis komunitas, maka dendam masa lalu akan terus berlarut antar entitas sosial di sana.

Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut Masthur KKR Aceh tidak bekerja sendirian. tapi juga dibantu oleh berbagai organisasi yang telah terlebih dahulu masuk ke sana seperti KontraS Aceh, LBH Banda Aceh, dan sebagainya.

“Fungsi rekonsiliasi adalah untuk merajut ukhuwah dan menghilangkan dendam antara pelaku dan korban. Semangatnya adalah mencari jalan menuju pemaafan antar kelompok yang bersengketa,” kata Masthur Yahya.

Masthur juga menjelaskan, kerja-kerja rekonsiliasi dan pemenuhan HAM yang dilakukan oleh KKR Aceh, bukanlah sebuah pekerjaan ringan dan singkat. Butuh waktu dan kerja sistematis untuk mencapai tujuan yang telah disepakati di dalam qanun.

“Ini pekerjaan yang tidak selesai dalam lima tahun. Ada ratusan ribu korban, ada pelaku yang tidak sebanyak korban. Ada banyak masalah di dalamnya, ada banyak duka, dendam dan sebagainya,” ujar Masthur.

Baca juga: 77 Korban Konflik Aceh Direkomendasikan Mendapat Reparasi Mendesak

KOMENTAR FACEBOOK