Petani Abdya Keluhkan Murahnya Harga Gabah

Petani Abdya sedang melakukan proses pemotongan padi dengan menggunakan combine harvester. @Ist

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Harga gabah kering di Abdya musim panen tahun ini cenderung turun dibandingkan tahun lalu. Tahun ini harga gabah hanya Rp4.400 per kilogram, sementara tahun lalu mencapai Rp5.000-5.500 per kilogram.

Sanusi, salah seorang petani di Kecamatan Tangan-Tangan kepada awak media, Jumat (24/5) mengatakan, harga gabah pada musim panen tahun ini mulai turun. Padahal di awal musim panen tahun lalu harga gabah berkisar antara Rp4.600-4.700 per kg. Namun memasuki pertengahan musim panen, harga gabah terus menurun hingga Rp4.400 per kg.

“Harga jual gabah untuk saat ini Rp4.400 per kilogram di tingkat agen pengumpul. Bisa saja harga ini terus anjlok. Turunnya harga gabah ini membuat petani di Abdya resah karena harus berpacu dengan waktu. Sebab harga itu, per hari bisa berubah-ubah. Naik tidak mungkin, kalau turun iya,” ujarnya.

Akibat turunnya harga jual gabah, petani mengaku rugi dan dikhawatirkan tidak cukup untuk membiayai musim tanam kedua. Apalagi harga jual gabah tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani mulai dari proses penggarapan lahan hingga memasuki masa panen padi. Semua biaya seperti pemotongan padi dan biaya lainnya tidak turun, sehingga modal yang dikeluarkan petani lebih besar dari pada hasil penjualan gabah.

Dengan kondis ini, kata Sanusi, membuat agen pengumpul atau tengkulak gabah banyak mengincar hasil panen padi di Kabupaten Abdya. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Aceh Selatan, Nagan Raya, dan sejumlah daerah lain termasuk agen dari luar Provinsi Aceh seperti Sumatera Utara.

Pernyataan senada juga disampaikan Jasmi, petani asal Kecamatan Tangan-Tangan. Dirinya memperkirakan harga gabah akan terus turun seiring dengan melimpahnya stok gabah di tingkat petani. Namun, jika dibandingkan dengan harga gabah di Pulau Jawa, maka harga gabah di Abdya masih lumayan menguntungkan.

“Sampai musim panen berakhir, harga akan semakin murah, karena stok sudah melimpah. Bahkan ada beberapa hamparan sawah lain masih melakukan proses panen padi,” ujarnya.

Memasuki awal musim panen lalu, petani berharap harga gabah bisa tinggi, paling tidak dapat menyiapkan modal untuk biaya penggarapan lahan di musim tanam mendatang, serta persiapan untuk kebutuhan menyambut Idulfitri 1440 Hijriah.

“Namun kini melihat harga yang semakin turun, kami tidak lagi dapat berharap meraih untung lebih,” katanya.

Ia berharap, Pemkab Abdya bisa ikut andil untuk membantu dan memberikan solusi terkait harga gabah di kabupaten setempat. Paling tidak bisa stabil dan sedikit lebih menguntungkan petani.

Harga gabah yang mulai turun ini juga diakui oleh salah satu agen di Abdya. Dirinya tidak tahu persis mengapa harga itu terus menurun, sebab segala keputusan harga itu ada pada agen penampung yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.

“Kami menampung gabah petani sesuai dengan ketentuan harga yang diberikan oleh toke di Medan. Kalau lebih dari ketentuan harga itu, kami tidak berani, apalagi kita juga butuh ongkos untuk memuat padi hingga mengirimnya ke Medan,” kata tengkulak yang enggan namanya disebut.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK