Prokrastinasi, Gangguan Psikologis yang Intai Mahasiswa

Oleh Riska Tyara*)

Salah satu tugas seorang mahasiswa adalah mencapai prestasi semaksimal mungkin. Bloom (2009) mengungkapkan bahwa ukuran keberhasilan mahasiswa ini dapat dilihat dari nilai yang didapatkan. Nilai-nilai tersebut dapat dilihat dari nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang dicapai setiap semesternya. Ketika mahasiswa tidak mendapatkan nilai standar yang telah ditetapkan, mereka akan mendapatkan konsekuensi, dan konsekuensi yang terberat dalah di-drop out .

Tugas adalah salah satu hal yang tidak lepas dari diri mahasiswa. Baik itu tugas yang mudah maupun tugas yang sulit semuanya harus berhasil dikerjakan dengan baik agar mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun kebanyakan mahasiswa enggan mengerjakannya dan lebih memilih mengerjakan kegiatan lain sehingga mereka lebih memilih untuk menunda menyelesaikan tugas yang ada (Solomon & Rothblum). Nugrasi (2013) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan prestasi adalah prokrastinasi akademik.

Solomon & Rothblum (1984) menyatakan prokrastinasi akademik adalah fenomena perilaku afektif dan kognitif yang dihasilkan dari rasa takut individu terhadap kegagalan dan tugas. Takut gagal adalah terkait dengan kepercayaan diri yang rendah di mana individu menunda tugas karena takut atau keyakinan bahwa mereka tidak akan berhasil. Solomon & Rothblum juga menjelaskan bahwa terdapat enam area akademik, yaitu: tugas membuat laporan, tugas belajar sebelum menghadapi ujian, tugas membaca berita terbaru, tugas administratif (mengambil kartu studi, mengembalikan buku perpustakaan, dan membaca pengumuman), tugas kehadiran (membuat janji dan bertemu dosen untuk tutorial) dan tugas akademik secara umum.

Menurut Ursia (2013) Prokrastinasi merupakan salah satu perilaku yang sangat sering dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja oleh kebanyakan pelajar baik pada siswa maupun pada mahasiswa. Prokrastinasi yang terjadi di area akademik disebut sebagai prokrastinasi akademik.

Banyak penelitian telah menemukan bahwa prokrastinasi berhubungan dengan penarikan seperti: depresi (Rothblum dkk, 1986), kecemasan (Martin dkk, 1996), kecemasan kinerja (Ferrari, 1991), motivasi (Klassen, & Kuzucu, 2009; Lee, 2005), dan prestasi akademik yang buruk (Akinsola dkk, 2007). Singkatnya, tingkat prokrastinasi akademik yang dialami secara luas di kalangan mahasiswa mempengaruhi secara negatif penyesuaian psikologis dan prestasi akademik mahasiswa. Baumeister (1997) mengatakan bahwa prokrastinasi dapat menyebabkan stres dan memberi pengaruh pada disfungsi psikologis individu.

Kerugian lain yang dihasilkan dari perilaku prokrastinasi, menurut Solomon dan Rothblum (1984), adalah tugas tidak terselesaikan, atau terselesaikan namun hasilnya tidak maksimal, hal ini juga dapat membuat mahasiswa merasa cemas. Prokrastinasi juga menimbulkan kecemasan selama pengerjaan tugas karena mengerjakan tugas dalam waktu yang sempit sehingga menimbulkan kesalahan dan ketika membuat tugas dalam keadaan cemas, maka sulit berkonsentrasi dan menyebabkan motivasi belajar dan kepercayaan diri menjadi rendah. Ursia (2013) menyatakan bahwa mahasiswa yang melakukan prokrastinasi akan lebih lama untuk menyelesaikan masa studinya dibandingkan mahasiswa yang tidak melakukan prokrastinasi.

Perilaku prokrastinasi dalam psikologi dikatakan sebagai mekanisme untuk mencapai kecemasan. Meski dianggap umum bagi individu sampai batas tertentu, hal ini dapat menjadi masalah jika melewati batas normal. Prokrastinasi kronis dapat menjadi tanda-tanda gangguan psikologis terpendam.

*)Rizka Tyara mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Kedokteran Unsyiah.

KOMENTAR FACEBOOK