Mengintip Aktivitas Sulok di Dayah Abu Lueng Ie

@aceHTrend/Taufik Ari-Rifai

Belasan laki-laki bersorban duduk bersila dalam mushala Kompleks Dayah Darul Ulum Lueng Ie, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Kamis (23/5/2019).

Meski cuaca terik, tidak mengusik belasan pria dan wanita yang sedang mengikuti ibadah “Sulok” itu untuk beranjak dari tempat duduknya.

Amatan aceHTrend, tidak terlihat jelas wajah peserta sulok dikarenakan tertutup kain sorban. Berdasarkan penuturan salah satu peserta, menutup wajah adalah salah satu syarat bagi peserta sulok yang secara rutin dilaksanakan di dayah tersebut setiap bulan Ramadan.

Dayah besutan almarhum Abu H. Teuku Usman Al-Fauzi yang berdiri sekitar tahun 1970-an ini secara turun temurun aktif melaksanakan ibadah sulok. Kini, dayah salafiah ini dipimpin oleh putranya yang bernama Teungku Tajuddin atau akrab disapa Abon Muda. Ia mengaku, meski Dayah Darul Ulum Lueng Ie berdiri sekitar tahun 1970-an, aktivitas ibadah sulok sudah dilaksanakan sekitar tahun 1960-an.

Di dalam kompleks dayah ini tidak terlihat adanya bangunan permanen, kecuali hanya bangunan bermaterial kayu berupa pondok-pondok kecil dan bangunan semi permanen yang digunakan sebagai pusat aktivitas pengajian.

“Saat itu, almarhum abu (Abu H. Teuku Usman Al-Fauzi-red) sendiri yang mulai beribadah sulok di rumah setelah kembali dari Labuhan Haji, Aceh Selatan,” kata Teungku Tajuddin atau akrab disapa Abon Muda.

Abon Muda menjelaskan, sulok adalah salah satu ibadah dengan cara berzikir terus menerus mengingat Allah Swt. Tujuannya adalah untuk meninggalkan segala pikiran maupun perbuatan duniawi yang semata-mata hanya untuk mendekatkan diri serta memperoleh keridhaan Allah Swt.

“Ibadah sulok ini berasal dari kata “salaka” yang bermakna “tempuh”, di sini makna sulok bisa diartikan sebagai seorang yang ingin mencari jati diri serta ridha ilahi dengan meninggalkan segala godaan duniawi,” kata Abon Muda saat ditemui di kompleks dayah.

Abon Muda juga menjelaskan, kegiatan sulok dari tarekat Naqsabandiyah itu sendiri diperkenalkan oleh Syekh Muda Waly Al Khalidi. Bahkan, Syekh Muda Waly Al Khalidi tidak hanya dilaksanakan saat Ramadan, tapi juga bisa pada bulan Zulhijah dan Rabiul Awal.

“Tujuan sulok mencari ridha Allah. Sedangkan tarekat itu adalah jalan untuk mencari keridhaan Allah atau membuat kedekatan dengan lahir dan batin. Bahkan selama masa Abu Muda Waly, ibadah sulok sendiri sering dilaksanakan saat bulan puasa, bulan haji, syakban dan maulid,” ujarnya.

Para peserta sulok di Dayah Darul Ulum Lueng Ie umumnya merupakan laki-laki dewasa. Bahkan juga terlihat beberapa jamaah wanita paruh baya. Aktivitas sulok sendiri rutin dilaksankan dari siang hingga malam hari.

“Kalau semasa hidup Abuya Syeikh Muda wali dulu, mereka rutin melaksanakan ibadah sulok dari subuh hingga tengah malam nonstop. Sebab kegiatan sulok ini khusus beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt,” kata Abon Muda.

Di setiap dayah salafiyah yang tersebar di seluruh Provinsi Aceh, aktivitas sulok atau zikir merupakan salah satu pengajian ilmu yang bersumber dari Tarekat Naqsyabandiyah yang diajarkan di dayah Darussalam Al-Waliyyah desa Blang Poroh, Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan.

Meski demikian, tidak semua dayah salafiyah  ikut mensyiarkan aktivitas ibadah sulok. Sebelum melaksanakan sulok, para peserta jauh-jauh hari harus mempersiapkan bekalnya, baik secara fisik maupun psikologisnya serta nafkah selama sepuluh hari di dayah tersebut.

“Peserta sulok bukan dari kalangan santri di sini saja, tapi juga warga sekitar yang berdomisili dekat dengan dayah. Selain itu ada juga peserta sengaja khusus datang dari berbagai kabupaten di Aceh. Bahkan sebelumnya juga ada tamu dari Malaysia yang mengikuti ibadah sulok di dayah ini,” ujar Abon Muda.

Menurutnya, ibadah sulok di dayah tersebut sering diselenggarkan selama 10 hari terhitung sejak memasuki hari pertama Ramadan. Para peserta sulok, kata Abon Muda lagi, akan melakukan berbagai pantangan selama mengikuti kegiatan sulok. Salah satunya adalah tidak diizinkan untuk pulang atau keluar dari pekarangan dayah selama mengikuti ibadah sulok. 

“Bahkan bagi warga yang tinggal di dekat dengan dayah sekalipun. Hal ini sesuai dengan hasil kesepakatan antara peserta dengan Mursyid atau pimpinan dayah. Kecuali jika terjadi hal-hal yang bersifat darurat baru diperbolehkan pulang,” kata Abon Muda.

Pemberlakukan itu bertujuan agar para peserta sulok benar-benar berkonsentrasi dirinya hanya beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Kendati demikian, meski aturan larangan bagi peserta sulok meninggalkan dayah, namun jarang sekali para peserta sulok yang keluar dari pekarangan dayah. Hal ini dikarenakan jiwanya memang sudah terikat dan benar-benar ingin bertaubat kepada Sang Khalik agar mampu menjauhkan diri dari godaan duniawi.

“Intinya, para peserta sulok selain melaksanakan ibadah wajib seperti salat dan puasa, mereka juga dituntut untuk memperbanyak zikir baik di siang maupun di malam hari dimana. Hati dan mulutnya terus menerus mengingat Allah. Bahkan, selama sulok berlangsung, jam istirahat dan tidur sudah berkurang sehingga mereka kebanyakan matanya menjadi merah dan cekung,” tambah Abon Muda.

Selain itu, selama mengikuti ritual tersebut, peserta sulok juga dilarang memakan makanan yang mengandung unsur berdarah seperti daging, ikan, maupun telur selama sepuluh hari. Tujuannya agar aktivitas sulok bisa berjalan lancar. 

Selama sulok berlangsung, tambah Abon Muda, peserta hanya boleh memakan makanan yang mengandung unsur nabati atau sekarang terkenal dengan istilah vegetarian. Bahkan, minyak goreng bekas gorengan ikan atau daging sekalipun tidak boleh digunakan.

“Sebab sesuatu zat makanan berdarah itu disukai syaitan sehingga ini menjadi penghalang  dalam beribadah kepada Allah. Jika ada yang melanggar, maka ibadah suloknya jadi batal dan diharuskan mandi sunat taubat dan mulai ikut sulok dari nol lagi,” ujarnya lagi.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK