Aceh Butuh Sekda Organisatoris Humoris

Oleh Muhajir Juli*)

Sudah berbulan-bulan lamanya Aceh tidak memiliki Sekda definitif. Dari tiga nama yang diusulkan yaitu Kamaruddin Andalah, M. Jafar dan Taqwallah, sampai kini belum mendapatkan lampu hijau dari Jakarta. Kemendagri seperti “menunda” untuk sementara penetapan Sekda Aceh definitif.

Dari tiga nama yang diajukan, dua nama di antaranya adalah sosok kompromis, akademis dan humanis, dan tentunya friendly. Khusus Kamaruddin Andalah, adalah sosok pejabat yang selama ini dikenal mudah ditemui, tidak kaku serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Demikian juga M. Jafar. Akademisi Universitas Syiah Kuala tersebut, selama ini dikenal sebagai tokoh kampus yang selalu memiliki gagasan, independen serta memiliki kemapanan komunikasi. Ia juga sosok akademisi yang tidak melangit, mudah dihubungi dan selalu senang berbagi gagasan dan pendapat.

Perihal Taqwallah, saya tidak mengenali yang bersangkutan serta belum pernah duduk semeja. Jadi tidak bisa menilai lebih jauh.

Aceh adalah salah satu daerah yang paling kaku dalam beberapa hal. Termasuk dalam dunia penyelenggaraan negara. Aceh butuh sosok pejabat pemerintah yang mampu tersenyum setiap saat, bisa menunjukkan empati serta mudah diakses oleh siapa saja.

Jakarta harus memahami ini, dan Jakarta harus diberitahu tentang kebutuhan ini. Aceh butuh pejabat pemerintah yang tidak elitis, mudah bergaul, friendly serta tidak one man show (sok carong). Aceh membutuhkan sekda yang organisatoris humanis.

Jalannya roda Pemerintah Aceh sangat ditentukan oleh kemampuan sekda membangun suasana hati para Pegawai Negri Sipil. Bila sekda adalah tipikal keras tanpa jeda, kaku dan one man show, dapat dipastikan, “anak buah” akan mengangguk di depan dan menggeleng di belakang.

Dalam berbagai bincang-bincang ringan dengan beberapa pihak, mereka menginginkan Aceh memiliki sekda yang mampu menerjemahkan aspirasi PNS serta cakap memahami kebutuhan rakyat. Sebagai “komandannya” ASN serta orang nomor tiga di jajaran pemerintah, Sekda Aceh haruslah sosok yang bisa mewakili semua golongan.

Kiranya sudah terlalu lama Aceh tidak memiliki sekda definitif. Ini kurang baik dilihat dari berbagai aspek. Di tengah berjubelnya jumlah personal berprestasi di Aceh, masakan Jakarta kesulitan menentukan satu saja sebagai sekda? Konon lagi tiga nama sudah masuk ke Kemendagri. []

*)Jurnalis aceHTrend dan pengasuh rubrik Jambo Muhajir.

KOMENTAR FACEBOOK