Bappeda Aceh Hadirkan Disabilitas sebagai Narasumber pada Buka Puasa Bersama

Dari kiri Cut Dina Anjeli (tunanetra), Bayu Satria (tunadaksa) dan Baihaqi (miopi) tampil sebagai narasumber di Bappeda Aceh, 27 Mei 2019. @aceHTrend/Hasan Basri

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Bappeda Aceh bertekad merancang program pembangunan yang berpihak pada semua kalangan. Selama ini ada kesan kaum difabel/disabilitas (kelompok masyarakat berkebutuhan khusus) kerap luput dari perhatian pembangunan.

Selain mengundang anak-anak yatim dari desa tetangga, Senin (27/5/2019), pada acara buka puasa bersama Bappeda Aceh mengundang tiga penyandang disabilitas sebagai narasumber. Mereka diberi panggung untuk sharing pendapat dan memberi motivasi kepada hadirin.

Mereka adalah Cut Dina Anjeli, qariah dan penyandang tunanetra dari Aceh Besar, Bayu Satria, penyandang tunadaksa dari Simeulue, dan Baihaqi, STHI, MA, penyandang miopi (tidak mampu melihat yang jauh).

Ketiga mereka memiliki kelebihan dan mengukir prestasi masing-masing. Mereka bertiga diberi kesempatan berbicara tentang perjuangan melawan persepsi negatif dari masyarakat tentang disabiltas.

Cut Dian Anjeli pernah menjadi juara MTQ Aceh Besar tingkat kanak-kanak. Dia diberi kesempatan melantunkan ayat-ayat suci Alquran di depan hadirin.

Sementara Bayu Satria melawan diskriminasi masyarakat hingga ia sukses menjadi duta anak Aceh dan kemudian membentuk Forum Anak di 18 kabupaten/kota di Aceh. Karena prestasinya Bayu pernah diundang ke Forum Anak Nasional di Yogyakarta dan berkesempatan berbicara langsung dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

“Saya sudah pernah merasakan penolakan dari masyarakat, dari teman-teman, ketika sekolah di SD, SMP di Simeulue. Saat itu bahkan di-bully seakan-akan difabel itu menular sehingga harus dijauhi. Semua perlakuan buruk itu telah saya maafkan. Saya bukan tipe pendendam,” kata Bayu Satria yang tercatat sebagai mahasiswa semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

“Semua penghinaan itu saya lawan dengan kerja keras hingga mampu membangun Forum Anak di Kabupaten Simeulu, dan saat ini sudah mencapai di 18 kabupaten/kota di Aceh. Saya punya target membangun Forum Anak hingga ke desa-desa agar anak-anak tidak lagi di-bully seperti pernah saya rasakan saat kecil,” sambung Bayu Satria yang disambut applaus peserta.

Sementara Baihaqi, menceritakan pengalamannya tidak mampu melihat jarak lebih setengah meter sejak tahun 2013, ketika dia sedang kuliah di S2 UIN Ar-Raniry.

“Sebagai penerima beasiswa LPSDM, saya harus menyelesaikan kuliah walau dengan mata terbatas. Alhamdulillah saya lulus S2 pada tahun 2016. Saya juga pernah dipercaya untuk mengajar di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry walau penglihatan sangat terbatas,” kata Baihaqi.

“Baru-baru saya ikut tes CPNS di Kanwil Kemenag Aceh dan lulus dengan passing grade. Saya lulus sebagai CPNS terbaik. Ini adalah bagai mukjizat. Sebab ada 1.800 pelamar, saya yang terbatas ini dinyatakan sebagai lulusan terbaik dari 75 yang lulus,” tambah Baihaqi sambil meminta Pemda agar peduli kaum disabilitas dalam setiap program yang dirancang.

Kepala Bappeda Aceh, Azhari SE, M.Si, mengatakan pihaknya sengaja mengundang kaum disabilitas sebagai narasumber dalam acara buka puasa bersama guna mendengar sharing dan keluh-kesah mereka dalam melihat pembangunan.

“Kita beri kesempatan kepada mereka untuk berbicara tentang perasaan mereka yang hakiki serta kisah mereka dalam berjuang. Aspirasi mereka harus menjadi perhatian semua pemangku kepentingan di Aceh dalam merancang usulan program pembangunan sehingga berkeadilan,” kata Azhari Hasan.

Tampak hadir pada acara buka puasa bersama dan mendengar kuliah dari penyandang disabillitas di Bappeda Aceh Prof Dr Syahrizal Abbas (guru besar UIN Ar-Raniry, mantan kadis Syariat Islam), Dr Nazamuddin (dosen Unsyiah), Iqbal Faraby (Sekjen Partai Demokrat Aceh) dan lain-lain.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK