Minyak Gosok Kelapa Hijau Asal Bireuen Tembus Pasar Jiran

Salahuddin (duduk) bersama dengan para pekerja SA. Nurhayati di rumah Produksi Minyak Gosok Di Gampong Reuleut, Kecamatan Kota Juang, Bireuen. @aceHTrend/Mulyadi Pasee

ACEHTREND.COM, Bireuen – Tak pernah ada rasa putus asa dari diri Salahuddin yang terus memproduksi minyak urut berbahan kelapa hijau. Kini usaha yang diawali dengan penuh perjuangan dan bermodalkan Rp3 juta rupiah itu mulai merambah pasar nasional.

Usaha minyak urut dengan jenama S.A. Nurhayati ini merupakan usaha dari neneknya pada tahun 1999. Saat itu minyak gosok tersebut diproduksi di Gampong Tanoh Anoe, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara.  

Saat ini minyak gosok S.A Nurhayati diproduksi di Dusun Imum Basah, Gampong Reuleut, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen. Minyak gosok itu kini kian hari semakin berkembang.

Di tahun 2012 Salahuddin mencoba kembali merintis usaha peninggalan keluarganya. Namun usaha itu tidak jalan dengan mulus, bahkan saat itu dia sempat kehabisan modal karena usahanya mandeg.

Owner S.A Nurhayati, Salahuddin, saat dijumpai aceHTrend, Rabu (29/5/2019) mengatakan, minyak gosok kelapa hijau (S.A Nurhayati) diproduksi dengan cara tradisional yang manfaatnya untuk menurunkan panas anak-anak, minyak rambut, minyak urut, dan lainnya.

Dia menjelaskan usaha ini dulunya hanya memiliki tiga pekerja, namun hingga sekarang udah ada 15 pekerja. Sedangkan untuk pasokan bahannya dia ambil dari Medan (Sumatera Utara). Produksi masih dilakukan seminggu sekali karena tipisnya modal yang dimiliki, sementara permintaan menurutnya sangat banyak.

“Alhamdulillah, dengan ada usaha ini saya dapat mempekerjakan 15 orang, selain itu kita juga sudah mengantogi izin surat dari POM. Kami memproduksi kembali setelah hasil penjualan diambil dari pedagang,” katanya.

Dalam satu minggu, pihaknya mampu memproduksi minyak kelapa hijau S.A Nurhayati sekitar 5 ribu botol dengan isi 250 cc, 125 cc, dan 60 cc. Harganya bervariasi antara Rp5-15 ribu.

Sementara permintaan minyak gosok itu hampir dari seluruh kabupaten/kota di Aceh, bahkan ada juga permintaan dari Pulau Jawa dan Sumatra, hingga dari Kuala Lumpur (Malaysia). Namun sering kali Salahuddin kewalahan memenuhi permintaan karena jumlah produksi yang masih terbatas.

“Jadi dengan ini diharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu dalam penambahan modal, sehingga juga bisa menambah pekerja lainnya,” harapnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK