Ramadhan Bulan Pembentukan Akhlak

Muhammad Putra Adha, S.Pd, M.Sc.

Oleh Muhammad Putra Adha, S.Pd, M.Sc*)

Akhlak adalah sebuah tombol penggerak kehidupan manusia yang kokoh. Akhlak sangatlah berpengaruh pada kehidupan manusia yang akan dijalani dengan baik dan buruk. Dengan adanya akhlak, maka kehidupan manusia itu akan terarah dan teratur. Sebaliknya dengan tiadanya akhlak maka kehidupan manusia akan kocar – kacir dalam menghadapi dan menjalani kehidupannya.

Dalam menjalani kehidupan, manusia memiliki cara atau sikap dalam menentukan akhlaknya yang lahir dengan sendirinya secara otomatis tanpa adanya pemikiran yang mendalam. Akhlak lahir secara spontanitas dalam menggeluti kehidupan manusia yang panjang. Sangatlah janggal sekali jika manusia membuat akhlaknya dengan cara terencana dan teratur menurut kemauannya karena akhlak bersifat murni yang lahir dari pembawaan, jiwa dan hati manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, akhlak berarti sifat atau karakter yang sudah tertanam dalam diri manusia untuk menjalani dan menentukan jalan kehidupannya baik itu akhlak yang baik maupun yang buruk. Akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, merupakan dua jenis tingkah laku yang berlawanan dan terpancar daripada dua sistem nilai yang berbeda.

Kedua-duanya memberi kesan secara langsung kepada kualitas individu dan masyarakat. Individu dan masyarakat yang dikuasai dan dianggotai oleh nilai-nilai dan akhlak yang baik akan melahirkan individu dan masyarakat yang sejahtera. Begitulah sebaliknya jika individu dan masyarakat yang dikuasai oleh nilai-nilai dan tingkah laku yang buruk, akan porak poranda dan kacau balau. Masyarakat kacau balau, tidak mungkin dapat membantu tamadun yang murni dan luhur.

Pendidikan Akhlak

Dalam membentuk akhlak, manusia memerlukan pendidikan dan binaan menuju akhlak yang mulia yang diatur sesuai dengan ajaran agama karena akhlak mulia merupakan tujuan pokok pembentukan akhlak dalam Islam. Akhlak seseorang akan dianggap mulia jika perbuatannya mencerminkan nilai – nilai yang terkandung dalam al-Qur’an yang semuanya ada dalam system pendidikan di Negara kita dan khususnya daerah Aceh yang diatur dalam kurikulum pendidikan agama yang terdapat di Madrasah – madrasah, dayah, pesantren, maupun sekolah – sekolah berbasis agama lainnya.

Pemerintah dan swasta terus mengembangkan usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode. Ini menunjukkan bahwa akhlak perlu dibina dan dari pembinaan tersebut akan terbentuk pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan rasul-Nya, hormat kepada ibu bapak dan sayang kepada sesama mahluk ciptaan Allah. Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk akhlak anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh – sungguh dan konsisten.

Kita juga sangat mengerti bahwa dalam pembentukan dan pembinaan akhlak memiliki rintangan – rintangan dan hambatan – hambatan dalam mewujudkannya apalagi dalam lingkungan sekolah. Oleh karena itu diperlukan kesabaran dan kegigihan dalam usaha menuju cita-cita tersebut yang kita anggap sebagai amal dalam meraihnya. Dengan adanya prinsip amal ibadah dalam melakukannya maka ini akan menjadi ringan bagi kita dalam membentuknya apalagi ini dalam bulan ramadhan, bulan yang penuh rahmah, hikmah dan pahala sehingga kita dapat dengan mudah membarenginya dengan amal puasa kita di dalam bulan ramadhan ini. Itulah sebuah reward bagi kita dalam menghadapi rintangan dan hambatan tersebut.

Salah satu rintangan yang harus kita hadapi adalah masa (zaman) yaitu manusia yang hidup pada jaman era globalisasi sekarang yang memiliki akhlak yang sangat dekat dengan keruntuhan khususnya anak – anak muda sekarang atau generasi muda kedepan yang mengalami masa penurunan moralitas.

Hal ini disebabkan oleh pengaruh era globalisasi seperti media, internet, handphone, game, film, televisi, bioskop, dll yang sebenarnya semua itu adalah ruh kehancuran akhlak mereka yang nampak dalam wujud gambar, jaringan, dan khayalan yang sangat mematikan.

Hambatan – hambatan adalah bentuk penyakit yang memiliki wujud beserta ruh yang mematikan bagi anak – anak muda sekarang untuk merusak aqidah, iman dan Islam mereka. Untuk itu diperlukan sebuah pertahanan yang menjadi benteng bagi mereka yang akan menjaga aqidah, iman dan islam mereka yaitu akhlak yang mulia atau disebut dengan Akhlakul Karimah.

Konsep Akhlakul Karimah

Manusia akan menjadi sempurna jika mempunyai akhlak terpuji serta menjauhkan segala akhlak tercela. Secara kebahasaan akhlak bisa baik dan juga bisa buruk, tergantung tata nilai yang dijadikan landasan atau tolok ukurnya. Akhlak yang baik disebut dengan akhlak mahmudah dan yang buruk disebut dengan akhlak mazmumah.

Di Indonesia, kata akhlak selalu berkonotasi positif. Orang yang baik sering disebut orang yang berakhlak, sementara orang yang tidak berlaku baik disebut orang yang tidak berakhlak. Adapun secara istilah, akhlak adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di muka bumi. Sistem nilai yang dimaksud adalah ajaran Islam, dengan al-Qur‟an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya serta ijtihad sebagai metode berfikir islami.

Akhlak menurut Anis Matta adalah nilai dan pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, kemudian tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang bersifat tetap, natural atau alamiah tanpa dibuat-buat, serta refleks.

Jadi pada hakekatnya khuluk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Ketinggian budi pekerti atau dalam bahasa Arab disebut akhlakul karimah yang terdapat pada seseorang yang menjadi seseorang itu dapat melaksanakan kewajiban dan pekerjaan dengan baik dan sempurna, sehingga menjadikan seseorang itu dapat hidup bahagia. Sumber akhlak adalah al-Qur’an dan al-Hadits, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat, sebagaimana pada konsep etika dan moral. Dalam konsep akhlak, segala sesuatu dinilai baik-buruk, terpuji-tercela, semata-mata karena Syara ‟ (al-Qur’an dan Sunnah) menilainya demikian.

Akhlak berbingkai ibadah di Bulan Ramadhan

Pembinaan Akhlak sangatlah erat hubungannya dengan bulan Ramadhan di mana dalam bulan yang suci dan penuh berkah ini kita dapat melakukan banyak ibadah yang tentunya akan mendongkrak tingkatan akhlak kita kepada tingkat yang lebih baik dan tinggi lagi.

Jika pada bulan – bulan atau tahun sebelumnya akhlak kita masih terbilang biasa saja. Lalu bagaimana pada bulan puasa ini akhlak kita dapat berubah dan bertambah lebih maksimal lagi, disebabkan bulan puasa hanya datang satu kali dalam satu tahun dan sekaranglah waktunya bagi manusia untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan akhlaknya dengan berbuat baik.

Ibadah utama yang sangat mulia yang dapat ditingkatkan seperti yang disebutkan diatas adalah membaca Al-qur;an, shalat malam (qiyamul lail), berzikir, istighfar, sedekah, dan lain sebagainya yang semua itu dapat membuat jiwa kita tentram dan bahagia. Bukannkah tujuan akhlak adalah membuat jiwa tenang dan tentram dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itulah, dirasakan sangatlah penting bagi kita untuk melaksanakan amal – amal tersebut diatas dalam membentuk akhlak yaitu akhlakul karimah.

Dengan mengaji di waktu malam di mesjid – mesjid (tadarus), anak – anak muda akan terbentuk jiwa keikhlasannya yang rela mengaji hingga larut malam hingga bangun sahur, jiwa kerajinan dan kedispilinannya yang mau berjaga malam untuk shalat dan mengaji dan memperbaiki kesalahannya dalam membaca Al-qur’an, jiwa kesetia kawanan yang mau bergonta – ganti giliran bangun malam untuk mengaji (tadarus) dan berbagi makanan sesama teman – teman di menasah atau mesjid yang terbentuk dalam kelompok mengaji di desa / kampung.

Semuanya akan terbentuk menjadi akhlak yang mulia melalui kegiatan-kegiatan, karya dan ibadah dalam bulan puasa yang suci ini. Inilah efek yang baik dari akhlak yang itu pula. generasi muda akan terbentuk dengan bingkai akhlak yang baik dan terpuji yang bisa menjadi pribadi disiplin, dermawan, rajin, tolerant, mencintai sesama, menjalin silaturrahmi yang kompak, mudah bergaul, istiqamah dan saling mengingatkan untuk bersifat terpuji.

Secara umum Ali Abdul Halim Mahmud menjabarkan hal-hal yang termasuk akhlak terpuji yaitu:
1. Mencintai semua orang. Ini tercermin dalam perkataan dan perbuatan.
2.Toleran dan memberi kemudahan kepada sesama dalam semua urusan dan transaksi. Seperti jual beli dan sebagainya.
3.Menunaikan hak-hak keluarga, kerabat, dan tetangga tanpa harus diminta terlebih dahulu.
4.Menghindarkan diri dari sifat tamak, pelit, pemurah dan semua sifat tercela. 5.Tidak memutuskan hubungan silaturahmi dengan sesame
6.Tidak kaku dan bersikap keras dalam berinteraksi dengan orang lain. 7.Berusaha menghias diri dengan sifat-sifat terpuji

Begitu juga masih menurut Ali Abdul Halim Mahmud, tujuan pembentukan akhlak juga setidaknya memiliki tujuan yaitu:

1. Mempersiapkan manusia-manusia yang beriman yang selalu beramal sholeh. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai amal saleh dalam mencerminkan akhlak mulia ini. Tidak ada pula yang menyamai akhlak mulia dalam mencerminkan keimanan seseorang kepada Allah dan konsistensinya kepada manhaj Islam.

2.Mempersiapkan insan beriman dan saleh yang menjalani kehidupannya sesuai dengan ajaran Islam;

3.Mempersiapkan insan beriman dan saleh yang bisa berinteraksi secara baik dengan sesamanya, baik dengan orang muslim maupun nonmuslim. Mampu bergaul dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya dengan mencari ridha Allah.

4. Mempersiapkan insan beriman dan saleh yang mampu dan mau mengajak orang lain ke jalan Allah, melaksanakan amar ma‟ruf nahi munkar24 dan berjuang fii sabilillah demi tegaknya agama Islam.

5. Mempersiapkan insan beriman dan saleh, yang mau merasa bangga dengan persaudaraannya sesama muslim dan selalu memberikan hak-hak persaudaraan tersebut, mencintai dan membenci hanya karena Allah, dan sedikitpun tidak kecut oleh celaan orang hasad selama dia berada di jalan yang benar.

Akhirnya kita sampai pada konklusi bahwa pada dasarnya hidup ini adalah ibadah, karena memang Allah menciptakan manusia tiada lain untuk beribadah kepada-Nya. Dan dimensi ibadah ini ternyata sangatlah luasnya, karena meliputi segala aspek kehidupan. Ada ibadah mahdhah dan ada pula ibadah ghairu mahdhah atau ibadah amah inilah kita perlu meluaskan dimensinya dengan segala amal perbuatan atau karya apapun, asalkan diniatkan sebagai pengabdian diri kita kepada Allah SWT serta mendapat ridha-Nya. Dan ini bisa meliputi soal – soal kemasyarakatan bahkan dalam akhlak dan etika kenegaraan sekalipun.

Dalam proses pembentukan akhlak dapat digunakan metode yaitu dengan menjalankan ibadah yang kuat dan ikhlas, karena ketekunan dan keikhlasan melakukan ibadah mampu mencegah bisikan hawa nafsu. Selain itu ibadah sendiri berarti mengesakan Allah swt. dengan sungguh- sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepada-Nya. Selanjutnya metode teladan karena dengan teladan seseorang bisa mempengaruhi diri untuk berubah kerana manusia cepat meniru orang lain. Selain itu proses pembentukan akhlak adalah dengan mencari ilmu pengetahuan, karena pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara, dan kegunaannya.

Peranan elemen – elemen psikologi Islami dalam proses pembentukan Akhlak adalah sangat urgen dan mendasar karena bila dilihat dari faktor pembentukan akhlak itu sendiri terdiri dari faktor intern dan faktor ekstern, intern di sini mencakup beberapa aspek yaitu aspek jismiah (fisik, biologis) dalam pembentukan akhlak aspek jismiah sangat berperan sebagai wujud nyata aktualisasi diri berupa perilaku, sikap, dan tindakan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari., aspek najsiah (psikis, psikologi). Aspek nafsiah sangat berperan dalam pembentukan akhlak yaitu dalam hal mengetahui, mengenal, merasakan yakni persepsi atau cara pandang terhadap diri dan lingkungannya. Hal ini diwujudkan atau diaktualisasikan dalam pergerakan jismiah yang berupa perilaku (akhlak), dan aspek rohaniah (spiritual, transcendental) aspek ruhaniah sangat berperan dalam hal ini menjaga, mewarnai dan mengarahkan agar manusia tetap menjadi manusia seutuhnya (jasmani dan ruhani) yakni menjaga manusia tetap tidak kehilangan kemanusiaannya dan menjaga manusia tetap berhubungan langsung kepada Tuhannya (beragama) atau dalam jalan Allah (ridho Allah).

*)Dosen Universitas Ubudiyah.

KOMENTAR FACEBOOK