Make Makmeugang Great Again

Oleh Tibrani*)

Tidak terasa begitu cepat waktu berlalu, dari detik berganti menit, menit berganti dengan jam, jam berganti dengan hari, hari kemudian berganti dengan minggu, minggu berganti dengan bulan, bulan pun berotasi dengan tahun. Tidak terasa Ramadhan akan segera berakhir menanti datangnya Idulfitri, sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh, bahwa setiap menyambut bulan Puasa, Idulfitri, Iduladha masyarakat merayakan tradisi meugang atau makmeugang.

Tradisi makmeugang telah berlangsung sejak masa kesultanan Aceh Darussalam. Dan yang menjadi pelopor merupakan Sultan Agung Iskandar Muda (1607-1636) , tradisi makmuegang pada dasarnya, dilaksanakan sebagai wujud syukur raja menyambut bulan suci Ramadhan bersama rakyat dengan penuh kegembiraan dan suka cita.

Tradisi makmeugang kemudian diqanunkan dalam qanun Meukuta Alam, Pada Bab II pasal 47, bunyi qanun tersebut adalah:
Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua’zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi yaitu mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong di hari Meugang. Maka dibagi-bagikan daging kepada fakir miskin, dhuafa, orang lasa, buta. Pada tiap-tiap satu orang yaitu; daging, uang lima mas dan dapat kain enam hasta. Maka pada sekalian yang tersebut diserahkan kepada keuchieknya masing-masing gampong daerahnya. Sebab sekalian semua mereka tersebut itu hidup melarat lagi tiada mampu membelikannya, maka itulah sebab Sultan Aceh memberi pertolonganya kepada rakyatnya yang selalu dicintai.

Festival perayaan meugang pada masa kesultananan segala kebutuhan daging kerbau maupun lembu disokong oleh kesultanan, sehingga harga daging pun terjangkau bahkan bisa disedekahkan kepada masyarakat, tidak hanya itu Aceh juga memiliki kerbau komunitas ekspor yang dikenal dengan keubeue Aceh.

Ketika Belanda melalukan invasi terhadap kerajaan Aceh Darussalam, mengakibatkan Kesultanan Aceh Darussalam mengalami kebangkrutan sehingga, tradisi makmeugang dilakukan oleh personal tidak lagi oleh kerajaan karena efek perang dengan Belanda.

Makmeugang pasca 1903, mengalami pergeseran arti. Tradisi ini telah berubah menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Seseorang tidak mampu membawa pulang daging meugang dianggap telah gagal menjadi manusia yang sempurna dan harga diri tergadaikan dengan setumpuk daging meugang.

Pada konteks zaman now , makmeugang telah mengalami distorsi sosial tidak lagi sesuai dengan nilai falsafah Qanun Meukuta Alam. Akan tetapi telah berubah kearah spiri-spirit kapitalisme, hal itu ditandai dengan kenaikan harga sembako, daging dan kebutuhan pokok lainya.

Harga daging ketika meugang berkisaran harga 150.000-190.000, harga yang sangat fantasis bahkan termahal sejagat raya, mahalnya harga daging tidak mempengaruhi daya beli masyarakat Aceh. Sehingga muncul pepatah dengan istilah “sithon tamita, sigeu tapajoh” ( setahun kita mencari nafkah, sekali kita makan).

Oleh karena itu, spirit-sprit pelaksanaan makmeugang membuat penulis menganalisis pungo (gila) yang terjadi di hari meugang, pungo dalam artian bukan gila secara fisik tetapi lebih kepada kajian pungo sebab-sebab bergesernya nilai-nilai filosofis makmeugang dan tidak solusi jangka panjang dari pemerintah untuk menyambut festival besar masyarakat Aceh, ditambah lagi kenaikan harga daging, sembako dan kebutuhan pokok lainya.

Resolusi Pungo

Memang agak ekstrim penulis menyebut “resolusi pungo” akan tetapi penulis mengamati fenomena hari meugang menjadi nestapa bagi masyarakat kelas bawah menengah, karena kita mau jujur kaum menengah kebawah untuk makan sehari-hari aja susah, namun apa hendak dikata makmeugang lebaran Idul fitri akan segera tiba, suka tidak suka, masyarakat Aceh harus merayakan dengan lapang dada.

Meugang kekinian dilanda problematika mahalnya harga daging dan naiknya harga kebutuhan pokok lainya. Namun sampai hari ini belum ada solusi jangka panjang untuk menggatasi problematika masalah kenaikan harga daging lembu dan kerbau di hari meugang.

Resolusi pungo menurut hemat penulis perlu dilakukan untuk menghadapi mahalnya harga daging saban tahun tiap hari makmeugang, solusi pungo pertama kali harus dilakukan adalah mensubsidi harga daging melalui dana otonomi khusus (otsus) 2019 senilai Rp 8,357 triliun, kucuran dana yang berlimpah, apa salahnya pemerintah mensubsidi harga daging khusus fakir miskin, anak yatim dan kaum papa lainya.

Konsep pungo lainya menanggulangi mahalnya harga adalah dengan adanya swasembada keubeue dan lemoe Aceh perlu dikembangkan guna menggenjot perekonomian masyarakat dengan cara memanfaatkan lahan kosong di Aceh, karena penulis amati banyak sekali lahan tidur dibiarkan kosong di Aceh, alangkah baiknya lahan itu dimanfaatkan untuk swasembada keubeue dan lemoe Aceh.

Terakhir konsep penyelesaian pungo di hari meugang adalah para pengusaha, hartawan, konglomerat harus bahu-membahu membantu para fakir miskin, anak yatim dan kaum papa lainya di hari meugang Idulfitri, karena ini merupakan ibadah sosial untuk membantu sesama anak bangsa di hari meugang bahagia. Jangan asyik terlena memberi bantuan ke bangsa lain, akan tetapi di samping rumah kita masih banyak yang membutuhkan uluran tangan di hari meugang. Wassalam.

*)Penulis adalah mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala.

KOMENTAR FACEBOOK