Obituari: Ani, Kala Waktu Menjemput yang Tercinta

SBY dan Ani kala amsih muda. Foto: Ist.

Indonesia berduka, seorang wanita hebat telah pergi memenuhi panggilan Ilahi.Kristiani Herrawati, S.IP., atau lebih dikenal sebagai Ani Yudhoyono, telah dipanggil pulang keharibaan Allah pada 1 Juni 2019 pada usia 66 tahun. Sang suami, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak kuasa menahan duka. airmatanya keluar. Lelaki yang selalu terlihat berwibawa itu, akhirnya rapuh juga, ia luluh kala sang kekasih dinyatakan meninggal dunia.

Saya membaca buku Harus Bisa (Seni Memipin Ala SBY), sebuah catatan yang ditulis oleh Dino Patti Djalal. Pada salah satu bagian buku tersebut Dino menulis tentang gempa dan tsunami Aceh. Presiden SBY yang kala itu sedang berkunjung ke Indonesia Timur–Kalau saya tidak salah di Papua– segera tak kuasa membendung air mata kala mengetahui musibah tersebut. Ia sesenggukan. Sang Presiden segera menyandarkan kepalanya ke pundak Ani. Ani memeluk kuat sang suami. Ia memberikan pelukan dan nasehat demi kembali terbitnya semangat sang suami sebagai seorang pemimpin.

Dalam banyak diskusi, saya menemukan rahasia kematangan jiwa seorang SBY. Salah satu faktornya adalah Ani. Putri Sarwo Edhi Wibowo itu adalah istri yang bukan sekedar teman tidur, tapi juga teman dalam segala hal. Ani adalah perempuan yang punya pendapat dan tahu menempatkan suami serta mampu mengelola pendapatan suami.

Ani seorang istri dan ibu serta nenek yang memiliki hobi photography, aktif di media sosial. Tapi tak sekalipun ia mengeluarkan komentar yang menyudutkan marwah sang suami. Ia mampu menjaga dirinya sebagai first lady tanpa harus menjatuhkan orang lain. Ia pendamping yang tepat untuk SBY yang selalu berpikir memajukan negara ini.

Kini, ia telah pergi. SBY kehilangan salah satu pilar penopangnya. SBY kehilangan salah satu cinta terbaiknya. Ani telah sampai pada waktunya. SBY menyadari itu.

Saya menerjemahkan air mata sang presiden sebagai airmata yang mengandung ribuan makna. Air mata duka, bukan tentang kekecewaan, tapi aspirasi dari cinta.

Ani Yudhoyono memang bukan perempuan yang sempurna. Tapi ia dilahirkan untuk kemudian mendapatkan mandat mendampingi seorang lelaki hebat yang gilang-gemilang kariernya di Indonesia. Mereka telah menjadi pasangan yang sempurna di tengah ketidaksempurnaan diri masing-masing sebagai manusia.

Kau pergi di penghujung Ramadhan. Kau pergi di hari kelahiran Pancasila.

Selamat jalan Bu Ani, selamat jalan kesuma bangsa. Selamat jalan kiambang yang telah menghiasi kolam yang bernama Indonesia. Semoga Allah menempatkan dirimu dalam jannah-Nya.

KOMENTAR FACEBOOK