Teungku Japakeh

Ilustrasi

Oleh Ahmadi M. Isa*

Dari ujung desa yang dikelilingi persawahan, tampak sebuah bangunan tua yang masih berdiri tegak. Bangunan tua yang masih terpelihara arsitekturnya itu adalah sebuah masjid yang sarat dengan peristiwa sejarah masa lalu. Kubah masjid yang berundak-undak adalah perpaduan dari unsur arsitektur Aceh dan Hindu kuno. Bentuk kubah masjid seperti kerucut yang hampir menyerupai piramida menyiratkan nilai kosmopolitan Aceh saat itu. Dinding yang terbuat dari kayu jati masih terlihat kokoh menutupi seluruh bagian masjid. Tiang-tiang yang menjulang ke atas menancap tegak menahan atap masjid.

Di ujung atas dari setiap tiang ada ukiran-ukiran sang maestro yang terkenal pada zamannya. Pada salah satu tiang yang berada di bawah kubah masjid, dipasang beberapa anak tangga supaya memudahkan muazin naik ke kubah masjid untuk mengumandangkan azan. Ketika memasuki masjid, seolah-olah lorong waktu membawa kita pada masa lampau. Kala itu seluruh jamaah sedang dituntun oleh seorang yang alim, seorang ulama besar, seorang diplomat dan seorang panglima perang, beliau adalah Teungku Japakeh.

Banyak cerita yang menukilkan perjalanan sejarah Teungku Japakeh. Seperti yang diceritakan oleh Mukim Syama’un. Beliau adalah mantan mukim dan juga salah seorang tokoh yang banyak mengetahui tentang sejarah Meureudu.    

Di pelataran teras mesjid yang penuh sejarah itu, beliau mulai bercerita.  

“Teungku Japakeh bernama aslinya Jalaluddin. Masyarakat kita memanggilnya singkat Teungku Japakeh yang bermakna Teungku Jalaluddin dari Faqih.”

Teungku Japakeh berasal dari Khoja, Turki. Pada masa itu raja Turki terikat hubungan erat dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Raja Turki kala itu mengirim meriam, kapal layar yang besar, serta mengirim ahli perang dan ulama-ulama yang alim. Sebagian pasukan dan ulama-ulama Turki tersebut menetap di Aceh dan mengakibatkan lahirnya anak-anak Aceh berdarah Turki dan salah satunya Teungku Japakeh. Selain alim dalam ilmu Agama, Teungku Japakeh terkenal juga sebagai diplomat dan panglima perang. Taktik perang yang beliau terapkan membuat serdadu Belanda harus berpikir ulang ketika memasuki wilayah Meureudu.

Mukim Syama’un juga menceritakan sedikit tentang sejarah Meureudu.

“Meureudu berasal dari kata Meurah Doe,” ceritanya bersemangat sambil mengeluarkan bungkus rokok dari kantong bajunya.

Dahulu ketika Kerajaan Aceh Darussalam berjaya pada masa Sultan Iskandar Muda, masyarakat selalu berhajat untuk bertemu dengan sang Sultan. Atas hajat tersebut maka Sultan Iskandar Muda kala itu memutuskan untuk melakukan perjalanan menemui warganya di daerah-daerah terpencil dengan menaiki sebuah gajah yang bewarna putih. Gajah itu diberi nama Po Cut Meurah.

Beliau kembali menghirup rokoknya dan melanjutkan kembali ceritanya.

Sesampainya di sebuah desa yang sekarang bernama Meunasah Raya, tanpa perintah dari Sultan Po Cut Meurah langsung duduk istirahat atau doe di bawah pohon besar. Pada saat itu Sultan berkata bahwa “si Meurah ka di doe.” Sejak itulah daerah ini diberi nama Meurah Doe atau Meureudu.

Sultan Iskandar Muda adalah sultan dari kerajaan Aceh Darussalam yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Pada masa itu daerah kekuasaan Aceh sangat luas hingga ke Malaka, yaitu negara Malaysia sekarang. Sultan Iskandar Muda juga banyak meninggalkan peninggalan sejarah, antara lain adalah Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dan Cakra Donya, yaitu lonceng hadiah dari kaisar China. Selain peninggalan dalam bentuk benda dan bangunan, beliau juga banyak menamai daerah-daerah yang dilaluinya dan dihubungkan dengan kejadiaan unik kala itu. Misalnya Meureudu, Pantee Raja, Pang Wa, serta banyak daerah-daerah lainnya.

Mukim Syama’un melanjutkan.

“Walaupun sultan Iskandar Muda adalah seorang raja yang disegani oleh kawan dan lawan. Tetapi Teungku Japakeh tanpa rasa takut sedikit pun pernah memarahai sang raja”.

Aku menggeleng seolah tak percaya.

Sebelum Sultan Iskandar Muda sampai ke Meureudu, Teungku Japakeh memerintahkan pasukannya untuk menunggu dan menyambut kedatangan Sultan. Setelah lama menunggu, tetapi Sultan dan pasukannya tak kunjung tiba. Hingga akhirnya Teungku Japakeh menyuruh pasukannya untuk kembali ke markas masing-masing. Ketika raja tiba di Meureudu, tidak ada yang menyambutnya hingga Sultan marah dan memanggil Teungku Japakeh.

Kemudian Teungku Japakeh menemui Sultan dan meminta maaf. Namun Sultan tetap marah dan tidak menerima permintaan maaf Teungku Japakeh. Karena Teungku Japakeh tidak terima sikap raja yang demikian, dengan suara lantang dan keras Teungku Japakeh memerintahkan pasukannya kembali ke markas yang letaknya di Raweu.

“Kita kembali saja ke Raweu, tidak perlu kita memuliakan orang yang tidak hormat pada kita. Sultan sudah ingkar janji dan datang pada bukan waktu yang dijanjikan.”

Seketika Sultan terdiam dan akhirnya meminta maaf kepada Teungku Japakeh dan pasukannya. Memang sejak dulu masyarakat Meureudu terkenal tegas dan bersuara keras dan matanya terbelalak merah. Hingga ada yang menyebutkan masyarakat Meureudu “mata hu, su meutaga”, yang berarti mata terbelalak merah dan bersuara tegas.

Aku tertawa mendengar cerita itu. Sikap tegas dan keras Teungku Japakeh menurun ke masyarakatnya. Mungkin hingga saat ini.

Aku teringat cerita dari orang tua di kampungku. Bahwa ada salah satu desa di Meureudu yang menjadi tempat perawatan dan pengobatan pasukan yang luka setelah berperang. Bahkan di desa tersebut disediakan lahan untuk menyemayamkan pasukan yang syahid di medan pertempuran. Desa kecil yang sekarang secara administratif terletak di Kecamatan Meurah Dua bernama Gampong Blang. Inilah salah satu kehebatan ilmu perang dari Teungku Japakeh. Tidak semua warganya diajak ke medan perang, namun ada sebagian yang ditugaskan sebagai tim medis untuk mengobati yang luka dan mengurusi yang syahid.

Mukim Syama’un telah menghisap habis sebatang rokoknya. Kemudian ia menunjukkan sebuah mimbar yang terletak di ujung sebelah barat masjid. Mimbar yang ukurannya tidak terlalu besar tersebut masih terlihat indah dengan ukiran ayat-ayat Alquran. Bagian depan mimbar tersebut dibiarkan terbuka dan menjadi pintu masuknya khatib ketika hendak menaiki mimbar. Terlihat juga sebuah tongkat tersandar di bagian samping mimbar.

“Cerita dari orang-orang tua kita dulu bahwa mimbar itu dulunya hanyut dan dibawa air ke sini. Tidak ada yang tahu dari mana asal mimbar tersebut.” ceritanya.

Kemudian beliau melanjutkan.

“Desa yang dulunya dilalui mimbar itu ketika hanyut, sekarang diberi nama Desa Lueng Mimba.”

“Berarti hampir sama dengan guci air itu. Ia juga datang sendiri kan?”

Aku bertanya tentang guci atau kendi air yang diletakkan di depan pintu masuk masjid.

Mukim Syama’un hanya menggangguk.

Aku teringat cerita Nek Minah dulu. Bahwa kendi air atau guci yang ada di masjid tersebut adalah guci yang bertukar tempat dengan guci dari masjid lain. Konon ceritanya bahwa di masjid tersebut memang sudah ada sebuah guci. Namun pada suatu malam guci tersebut terbang secara gaib dan berpindah ke masjid lain yaitu Masjid Teungku di Pucok Krueng Beuracan. Sedangkan guci yang ada di Masjid Teungku di Pucok Krueng Beuracan terbang dan berpindah lokasi ke Masjid Teungku Japakeh. Belum ada yang membantah cerita tersebut, masyarakat setempat masih percaya terhadap cerita yang turun temurun itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.40. Menandakan lima menit lagi akan tiba waktu Asar. Tidak terasa sudah hampir dua jam aku berbincang-bincang dengan mukim Syama’un. Beliau mengajakku keluar dari masjid untuk mengambil air wudu. Memang ada kolam di depan masjid yang dulunya dikhususkan untuk mengambil air wudu. Namun sekarang tidak bisa dipakai lagi karena sudah berlumut dan di dalamnya banyak terdapat sampah.

Tiba-tiba beliau menghentikan langkahnya, lalu menatap ke arah bekas bangunan masjid yang hancur akibat gempa dan letaknya sekitar lima belas meter ke arah barat dari Masjid Teungku Japakeh.

Neuk, apa kamu masih terbayang dengan masjid itu dulu?” Mukim Syama’un bertanya tanpa menoleh ke arahku.

“Masih, kenapa Teungku Mukim bertanya begitu?”

“Bertahun-tahun kami bersusah payah membangunnya untuk menggantikan Masjid Teungku Japakeh yang kami anggap tidak layak lagi dipakai.”

Kemudian ia melanjutkan.

“Belum sempurna kami bangun, tapi gempa sudah meruntuhkan bangunan masjid itu. Sudah dua tahun gempa berlalu, namun mesjid itu belum juga berdiri.”

 Matanya mulai sembab dan cairan bening pun mengalir dari setiap sudut matanya.

“Apa dosa kami ya Allah…?”

“Apakah anak cucu kami sudah mulai lupa akan jasa ulama dan leluhur terdahulu…?”

“Apakah mereka tidak tahu sejarah Teungku Japakeh dan Malem Dagang…?”

“Apakah mereka tidak pernah mendengar Karamahnya Teungku Syik di Julok dan Teungku Syik di Blang…?”    

Seketika hening, lalu …

Allahu Akbar…Allahu Akbar…

Teungku Harun, bileu Masjid Teungku Japakeh mulai mengumandangkan azan Asar.[]

*Berdomisili di Meurah Dua, Pidie Jaya.

KOMENTAR FACEBOOK