Kanker Membidik Aceh

Oleh Hamsani, SE M.Si*)

Hidup sehat memang sudah menjadi kebutuhan dasar setiap warga negara. Setiap orang ingin hidup tanpa menderita berbagai penyakit, apalagi penyakit yang sangat mematikan seperti halnya kanker.

Namun siapa bisa menolak bilapun penyakit ganas itu datang dan hinggap di tubuh kita. Tidak ada yang bisa menolak selain berusaha mengobatinya. Begitulah yang dialami oleh Ibu Hj. Ani Yudhoyono, Arifin Ilham, Olga Syahputra, Jupe, Illiza Saadudin Djamal(mantan Wali Kota Banda Aceh) dan jutaan orang Indonesia lainnya yang telah menjadi penderita kanker.

Penyakit kanker kini telah menjadi penyakit yang sangat menakutkan bagi setiap orang. Sebab dalam banyak kasus penderita kanker sulit untuk dapat diselamatkan. Data Globocan menyebutkan di tahun 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian atau mencapai 53 persen. Data tersebut juga menyatakan 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan, meninggal karena kanker.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data Riskesdas, prevalensi tumor/kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Prevalensi kanker tertinggi adalah di provinsi DI Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47 79 per 1000 penduduk dan Gorontalo 2,44 per 1000 penduduk.

Walaupun jumlah kasus kanker di Indonesia masih tidak setinggi negara-negara lain di Asia Tenggara atau hanya pada posisi ke-8, namun bila dilihat upaya penyelamatan, jumlah penderita kanker banyak yang meninggal dunia bahkan tidak sedikit pula yang baru diketahui setelah kanker mencapai stadium akhir.

Data dari Indonesian Cancer Information & Support Center (CISC) tahun 2018 menunjukkan kanker paru merupakan kanker pembunuh nomor satu dengan total 14 persen dari kematian karena kanker. Angka kematian karena kanker paru di Indonesia bahkan mencapai 88 persen.

Serangan kanker yang masif ini membuat WHO memprediksi kanker bakal menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia pada akhir abad ini. Kanker bakal menjadi penghalang terbesar bagi manusia untuk meningkatkan angka harapan hidup.
Hasil laporan ini didapat setelah peneliti menganalisis data dari 185 negara di dunia dengan melihat lebih dalam pada 36 jenis kanker.

Ini patut menjadi perhatian masyarakat dan terutama pemerintah untuk menyusun langkah-langkah konkrit penanganan kanker di Indonesia baik upaya pencegahan maupun tindakan pengobatan. Sebagaimana kita tahu bahwa biaya pengobatan kanker sangat mahal sedangkan penderita kanker di Indonesia termasuk dialami oleh orang-orang miskin.

Bagaimana prevalensi kanker di Aceh?

Data tahun 2014 lalu, per harinya ada sekitar 40 penderita kanker yang berobat ke Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh. Artinya ada 1000 lebih penderita kanker yang berobat setiap tahunnya di rumah sakit terbesar di Aceh itu.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, dr. Abdul Fatah mengatakan, prevalensi penderita kanker di Aceh sama dengan Nasional, penderita kankernya tergolong tinggi. Artinya dalam 1000 orang ada 1 atau 2 orang yang terkena kanker di Aceh atau 1,4 per 1000.

Kasus penderita kanker terbanyak di wilayah Aceh yaitu di Kota Lhokseumawe. Pemicu, pada umumnya kurang menjaga pola hidup bersih dan sehat, serta terkena paparan asap rokok.

Hal ini juga ditegaskan oleh Ketua Yayasan Kanker Indonesia Provinsi Aceh, Darwati A. Gani, jika selama ini ia bersama para aktivis dan organisasi perempuan telah aktif mensosialisasikan dan ikut mendampingi para penderita kanker. Namun demikian, kata Darwati, penyakit berbahaya ini kelihatan agak susah dicegah. Faktornya adalah gaya hidup masyarakat yang tidak sehat.

Di Aceh sendiri, banyak para penderita kanker yang terlambat terdeteksi. Akibatnya, saat dideteksi penyakit mereka sudah masuk kategori stadium lanjut.

Saya sendiri pernah mengalami bagaimana susahnya menyelamatkan ibu mertua sampai beliau menemui ajalnya dari serangan penyakit mematikan tersebut. Berbagai upaya medis kami ikuti dan jalankan sampai terakhir melalui tindakan kemoterapi.

Ibu mertua saya waktu itu divonis oleh dokter dengan kanker rahim. Beliau berusia 49 tahun waktu itu, usia yang belum terlalu tua namun karena orang kampung sehingga tidak terlihat sangat cantik seperti halnya orang-orang kota yang modis-modis.

Mendengar hasil analisis dokter seperti itu tentu saja pihak keluarga kaget bukan kepalang. Istri saya yang pertamalah paling shock mendapati kabar bahwa ibunya ternyata sudah lama mengidap kanker rahim. Yang selama ini dikira kotoran yang merembes dari alat reproduksinya hanya haid orang tua yang menjelang menopause.

Inilah pengalaman buruk betapa pemeriksaan dini penyakit kanker sangat jarang dilakukan oleh warga masyarakat. Bukan hanya tidak terbiasa melakukan chek up kesehatan, termasuk pihak penyelenggara kesehatan milik pemerintah pun jarang melakukan sosialisasi tentang bahayanya penyakit kanker itu. Sehingga begitu diketahui sudah terlambat.

Ke depan pemerintah terutama Kementerian Kesehatan, kementerian yang menangani bidang pangan, BPJS, dan organisasi peduli kanker agar bersama-sama secara masif, fokus, dan serius untuk melakukan terobosan agar secara cepat dapat menurunkan jumlah kasus kanker di Indonesia sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam mencegah kanker melalui pola hidup dan pola makan sehat.

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (Infodatin) memaparkan, ada banyak penyebab kanker, di antaranya faktor genetik, faktor karsinogen, radiasi, virus, hormon, dan iritasi kronis. Juga faktor perilaku/gaya hidup seperti merokok, pola makan yang tidak sehat dan dominasi makanan cepat saji, konsumsi alkohol, dan kurangnya aktivitas fisik.

*)Penulis Hamdani, SE.,M.Si (Dosen Politeknik Kutaraja) Email: hamdani.aceh@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK