Lebaran Idulfitri ke 14 Setelah Konflik Aceh

Muhajir Juli

Oleh Muhajir Juli*)

Ini adalah Idulfitri ke 14, dimulai sejak 2005, ketika orang Aceh kembali bisa merajut silaturahmi ke mana saja tanpa harus khawatir. Damai telah memberi peluang bagi siapa saja untuk kembali memperkuat jalinan tali persaudaraan, setelah sekian lama tak saling bisa bertatap wajah, karena konflik bersenjata menghumbalang Serambi Mekkah.

Hikmah terbesar tsunami Aceh adalah telah mempercepat terajutnya perdamaian. Atas alasan kemanusiaan, tokoh-tokoh sipil GAM yang dipercaya oleh Wali Neugara Aceh Merdeka Muhammad Hasan Tiro, berhasil duduk bersama delegasi Indonesia, berunding kembali di Helainki, Finlandia yang melahirkan MoU Helsinki. Seluruh prajurit TNI dan TNA pun mendukung lahirnya damai. 15 Agustus 2005, senyum merekah di tiap wajah orang Aceh, yang sudah sekian lama mengumandangkan doa tolak bala di tiap meunasah. Memohon agar damai maujud dan pelaku kejahatan mendapatkan ganjaran setimpal.

Di pihak Republik, istri prajurit TNI dan Polri pun tersenyum. Tak ada perang berarti bisa kembali berkumpul dengan suami tercinta. Mereka juga berharap samai terwujud di Aceh. Damai adalah impian bersama.

Kala damai itu diteken di Finlandia oleh Menteri Hukum dan HAM RI Hamid Awaluddin dan Meuntro Malik Mahmud yang mewakili GAM, orang Aceh bukan hanya menangis. Tapi banyak yang sujud syukur. Sesuatu yang telah lama diimpikan kini menjadi nyata. Harapan untuk hidup normal pun kembali wujud dalam hati masing-masing.

Aceh pascakonflkk adalah Aceh yang hancur, centang perenang serta nyaris tanpa harapan. Badan Rehabilitasi & Rekontruksi (BRR) serta komunitas internasional baik berupa NGO/LSM dan negara-negara yang bersimpati, melalui agen masing-masing, ikut turun tangan membantu kebangkitan Aceh. Rakyat Aceh pun kaget. Uang yang dulunya sangat sulit didapat, kini bahkan mendatangi rumah mereka dalam bentuk berbagai program. Bayangkan, hanya membersihkan rumah sendiri (di kawasan eks tsunami) warga mendapatkan bayaran. Cash for work adalah istilah asing yang bisa dihafal dengan baik oleh orang Aceh.

Membangun Aceh pascaperang bukan pekerjaan mudah. Hal terbesar selain perilaku korup adalah mental yang rusak. Bukan pekerjaan gampang membangkitkan kembali mental orang Aceh yang telah puluhan tahun kehilangan harapan. Apalagi mereka yang telah begitu lama membangun pertahanan diri dengan delusi. Dalam kondisi perang, delusi merupakan sesuatu yang mampu melahirkan benteng, tapi berdaya rusak jangka panjang dalam pembangunan mentalitas.

***
Di tengah berbagai tantangan pembangunan yang sedang dihadapi oleh Pemerintah Aceh, satu hal yang harus terus disyukuri. Aceh telah berhasil melewati fase kritis sebuah perjanjian damai. Tidak mudah menuju 14 tahun, banyak wilayah konflik lainnya yang gagal mempertahankan perdamaian yang telah disepakati. Aceh sukses melalui badai itu.

Kini, orang Aceh sudah kembali membicarakan penataan masa depan. Dayah-dayah kembali digemari secara luas, sekolah umum pun semakin berkualitas saja. Daya saing guru, daya saing lulusan kian tinggi, serta pembangunan fisik pun semakin menuju kemajuan yang berarti.

Tentu, pada moment Idulfitri ke 14 setelah konflik, orang Aceh semakin mudah saja merajut cinta yang sempat putus. Kunjung mengunjung walau ke pedalaman. Mereka tidak lagi khawatir pulang sebagai arwah.

Kita tentu harus memanjatkan syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para pemegang kendali politik, di tengah berbagai tantangan, mereka komit Aceh harus tetap aman dan damai, untuk selamanya.

Selamat Idulfitri 1440 Hijriah.

*)Penulis adalah Pemimpin Umum aceHtrend. Pengasuh kolom Jambo Muhajir. Direktur Utama CV Kawat Publishing (Penerbit dan percetakan buku) yang berbasis di Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK