Memaknai Kembali Meugang

Muhajir Al Fairusy. Mahasiswa Antrhopologi UGM, Peneliti Budaya Perbatasan Aceh. (Koleksi pribadi)

Muhajir Al Fairusy*)

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik tersendiri menyambut Ramadhan. Salah satunya Aceh, daerah yang dikenal memiliki kekentalan identitas pada agama (Islam) dan adat istiadatnya. Dalam masyarakat ujung Sumatera bagian utara ini, setiap akan menyambut Ramadhan dan lebaran ditandai dengan munculnya pedagang daging sapi di sepanjang jalan berturut-turut selama dua hari, yang menjual daging dari pagi hingga sore hari. Dua hari tersebut dikenal dalam istilah masyarakat Aceh sebagai “Meugang.”

Jika hari biasanya, daya jual beli daging sapi terbatas, hari meugang pembeli dan pedagang daging tumpah ruah di pasar. Hari itu, ikan yang biasanya dikonsumsi masyarakat Aceh harus kehilangan nilai dan daya beli. Hampir tak ada lapak ikan dan penjual ikan keliling. Daging adalah primadona utama yang diburu. Meskipun, harga daging yang melambung tinggi dan kerap diprotes oleh banyak masyarakat di luar Aceh, kondisi ini tak berlaku di Aceh. Semahal apapun harga daging, masyarakat akan tetap membeli. Ini soal marwah, identitas dan tradisi yang turun temurun.

Meugang hanya datang setahun tiga kali, menjelang Ramadhan, dan dua kali lebaran. Pun demikian, meugang menjelang Ramadhan tampak lebih sakral dan meriah dibanding dua meugang lain. Badruzzaman Ismail, Ketua MAA Aceh menyebut jika meugang telah ada sejak Kerajaan Aceh Darussalam sebagaiman termaktub dalam Qanun Meukuta Alam (Bab 2 Pasa 47), sebuah kitab perundang-undangan dan sejarah yang menggambarkan kondisi pemerintahan dan sosial budaya masyarakat Aceh. Hari itu adalah hari bersuka cita dan saling berbagi.

Kesakralan meugang diukur dari tidak boleh digantinya posisi daging dengan uang. Dahulunya, seorang laki-laki yang sudah berkeluarga namun sedang bepergian jauh harus pulang pada hari meugang untuk keluarganya dan menenteng sebungkus daging ukuran kiloan. Di sana harga diri dan kehormatan seorang laki-laki Aceh dijinjing dan dipertukarkan dengan moral budaya.

Di sisi lain, kehadiran meugang menjadi arena menunjukkan sisi kekayaan pengetahuan lokal menyangkut kuliner Aceh dalam rangka memasak daging meugang dengan aneka macam masakan yang kaya rempah-rempah. Bahkan, daging meugang kerap menjadi strategi survive masyarakat Aceh menjalani Ramadhan, mulai pola pengawetan daging yang dijemur dan memasak dengan menggunakan kunyit dan asam cuka khas Aceh yang selanjutnya dikenal dengan istilah “sie reuboh”-dan dapat dikonsumsi terus menerus selama berminggu-minggu tanpa berubah rasanya. Karena itu, setumpuk daging meugang di Aceh dalam sebuah rumah disajikan dalam aneka menu tidak tunggal. Kondisi ini menunjukkan meugang adalah ruang identitas yang luas.

Tulisan ini, hanya ingin membincangkan kembali latar meugang dari perspektif kebudayan, dan perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat Aceh menyangkut meugang. Bagaimanapun, banyak segmen budaya dan nilai tradisi yang bergeser di tengah masyarakat Aceh. Bahkan, demonstrasi dan mengemis istilah “uang meugang” yang pernah terjadi di Aceh pada era rezim sebelumnya menunjukkan kesakralan meugang salah dimaknai dan diinjak-injak oleh perilaku yang tak sejalur dengan nilai keacehan tersebut. Seyogjanya meugang adalah hari damai dan dinikmati dengan persiapan utuh menyambut ramadhan.

Perilaku Mengusik Meugang

Sejatinya, meugang adalah simbol tanggung jawab seorang laki-laki dalam setumpuk daging bukan soal uang. Sejak beberapa tahun terakhir dalam konteks birokrasi muncul istilah “uang meugang.” Konotasi uang meugang jika dipahami adalah produk amalgamasi perubahan sosial masyarakat Aceh yang digempur oleh pasar dengan mencangkok pada kebudayaan yang sakral. Apalagi, istilah “uang meugang” baru lahir kemudian hari saat birokrat ikut campur dalam urusan budaya terlalu jauh. Apalagi, term “uang meugang” cenderung menjadi komoditas politik yang mendorong perilaku korup kemudian hari.

Akibatnya, meugang yang seharusnya sakral dan berbudaya harus diusik dan ditendang dari term budaya aslinya. Belakangan, pengistilahan “uang meugang” telah memancing segelintir masyarakat untuk ikut terlibat keluar dari pakem budaya dengan iming-iming uang bantuan untuk membeli daging. Padahal, meugang adalah produk tradisi yang menuntut seorang laki-laki Aceh untuk bekerja maksimal membawa setumpuk daging ke rumah dengan jerih keringatnya, bukan dengan mengemis dan sering berakhir ricuh di depan rumah elit. Akibatnya, perilaku kurang beradab secara marwah keacehan tersebut harus menjadi tontonan kurang menarik menjelang meugang tiba.

Menurut Badruzzaman Ismail yang kerap member pandangan tentang meugang, perilaku berebut uang meugang di depan rumah elit Aceh hingga sering berakhir ricuh bukanlah perilaku nilai keacehan. Bahkan, mencederai marwah masyarakat Aceh yang terkesan jongos. Jikapun ada warga tidak mampu dalam satu kampung dan komunitas untuk membeli daging meugang, maka tugas kepala kampung atau geuchik untuk mengumpulkan uang secara patungan agar warga yang kurang mampu juga dapat ikut merayakan meugang. Cara ini tentu lebih beradab dibanding memancing masyarakat untuk parker dan antri di depan rumah elit yang kurang memahami adat Aceh.

Retrospeksi Makna Meugang

Secara tradisi dan istiadat, meugang memang tradisi yang memberi sinyal masuknya hari-hari besar dalam Islam. Jika hari ini meugang, maka besok dipastikan akan datang Ramadhan dan hari raya. Tradisi meugang adalah titik kumpul, dan tuntutan kembalinya seseorang yang bepergian jauh bersama keluarganya. Tradisi makan dan berkumpul bersama dalam rumah bukan di tepi laut dan warung kopi. Meugang mengusung nilai komunal dan filantropi dalam konsep kehidupan masyarakat Aceh.

Pengembalian kembali makna meugang pada pos budaya-nya menjadi keniscayaan. Meugang bukanlah komoditas politik dan term birokrasi yang harus diganti dengan istilah “uang meugang.” Setumpuk daging meugang merupakan soal marwah dan harga diri laki-laki Aceh yang dituntut untuk bekerja maksimal untuk keluarganya.

Tradisi turun temurun ini merupakan simbol sejarah Aceh yang beradab dan mengandung etos maskulin berupa tanggungjawab untuk keluarga. Karena itu, jangan usik makna meugang dengan upaya politisasi tradisi lokal ini menjadi komoditas pencitraan politik segelintir elit lewat term sesat “uang meugang.”

*)Peneliti Budaya Perbatasan Aceh dan Mahasiswa Antrhopologi UGM.

KOMENTAR FACEBOOK