Nostalgia Pawai Lilin di Malam Idulfitri

Ilustrasi @Facebook

Gambar sekelompok anak-anak yang membawa lilin dalam tempurung kelapa muncul di beranda Facebook saya beberapa hari lalu. Gambar ini seketika membawa ingatan saya pada sepotong kenangan masa lalu yang sangat indah.

Ya, seperti halnya yang terlihat dalam gambar tersebut, saya pun pernah melakukan dan merasakan keriangan yang sama. Sudah lama sekali. Saat saya masih di bangku sekolah dasar di tahun ‘90-an. Tak ingin menikmati sendiri nostalgia tersebut, saya lantas me-reshare gambar itu dan menandai beberapa teman sepermainan di masa kecil.

Malam ini, ketika takbir berkumandang melalui pelantang suara di masjid-masjid, ingatan tentang masa kecil itu kembali muncul dalam ingatan. Seolah tampak begitu nyata suasana di Lorong Pelita, Desa Padang Peutua Ali, Kabupaten Aceh Timur.

Perkampungan itu berada di daerah perbukitan dan karenanya warga selalu kesulitan air bersih. Untuk mendapatkan air, warga menggali sumur di dekat-dekat parit yang lokasinya sangat jauh dari rumah. Kalaupun ada sumur yang digali di sekitar rumah bisa dipastikan hanya menjadi sumur tadah hujan. Pernah sekali waktu kami terpaksa mandi hari raya ke sumur yang jauh itu karena tidak ada stok air di rumah.

Hingga tahun ‘96, Desa Padang Petua Ali sama sekali belum tersentuh listrik. Boro-boro listrik, jalan saja (mungkin) sampai sekarang belum teraspal. Terakhir saya ke sana beberapa tahun silam, jalannya sudah lumayan bagus, sudah berbatu. Desa ini terbagi menjadi beberapa lorong, di antaranya Lorong Pelita, Lorong Mampre, dan Lorong Binjei. Khusus di Lorong Pelita, warganya tidak begitu ramai dan hanya tersebar di dua tumpuk saja. Desa-desa di kawasan ini dulunya masuk ke Kecamatan Idi Rayek, kini setelah pemekaran menjadi bagian dari Kecamatan Darul Ihsan.

Banyak kenangan indah yang saya alami selama tinggal di sana, sampai akhirnya desa itu porak-poranda diamuk konflik sebanyak dua kali. Pertama di tahun ‘90 dan kedua di tahun ‘99. Pernah menjadi desa mati selama beberapa waktu dan belakangan ada warga yang kembali lagi dan membuat rumah di sana. Salah satu yang tak kembali lagi ke Padang Peutua Ali adalah keluarga kami.

Desa ini mayoritasnya didiami oleh suku Aceh dan suku Jawa. Namun semuanya berjalan dengan harmonis. Saya ingat sekali, menjelang hari raya, para ibu biasanya sering membuat kue bersama-sama seperti kue bawang, kue kembang loyang, dodol, dan lainnya. Begitu juga di hari raya, satu sama lainnya saling mengunjungi. Saling menyuguhkan kue dan saling bermaaf-maafan.

Lebaran menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Beberapa hari sebelum Lebaran warga mulai membersihkan pekarangan rumah. Bunga-bunga dipangkas rapi, sampah disapu bersih. Istimewanya Lebaran benar-benar terasa.

Kemeriahan menjelang hari raya mencapai puncaknya pada malam Lebaran tiba. Kami para anak-anak jauh-jauh hari sebelum Lebaran masing-masing sudah menyiapkan tempurung kelapa. Kami mencari tempurung yang besar dan membersihkan sabutnya, dalamnya dibersihkan hingga tak ada lagi sisa-sisa kelapa. Di pertengahan atau seminggu sebelum Lebaran orang tua kami membelikan lilin dan kembang api dalam jumlah yang lumayan. Lilin dan kembang api itu kami simpan dan baru digunakan saat malam Lebaran tiba. Pasalnya, jarak dari kampung ke kota sangat jauh sedangkan di kampung tidak ada yang berjualan lilin. Ada juga yang diizinkan dipakai duluan bila ada dibeli lebih.

Seusai magrib, para laki-laki ke menasah untuk membayar zakat fitrah dilanjutkan membagi-bagikan zakat. Kami yang anak-anak pun tak mau ketinggalan. Usai magrib kami semua keluar rumah dengan ‘peralatan’ yang sudah komplit: kembang api dan lilin warna-warni seukuran dan sepanjang jari kelingking. Lalu kami mulai berkonvoi dari rumah menuju menasah yang menjadi pusat keramaian malam Lebaran. Beberapa remaja lelaki juga ada yang mendatangi rumah-rumah warga untuk mengumpulkan kue-kue Lebaran yang akan dihidangkan sebagai teman minum kopi kaum bapak di menasah.

Tak terbayangkan betapa girangnya kami. Kami berlomba-lomba memenuhi tempurung lilin dengan kerak lilin yang warna-warni. Menjadi kebahagiaan tersendiri bila tempurung tersebut penuh dengan kerak lilin. Sambil berkonvoi sesekali kami bertakbir, bercanda ria, tertawa riang gembira. Sungguh masa kanak-kanak yang membahagiakan.[]

KOMENTAR FACEBOOK