“Toet Karbet” dan Ingatan Kolektif Masa Konflik

@ist/Akbar Rafsanjani

Oleh Akbar Rafsanjani*

Perlu kapsul waktu untuk menelusuri sejarah asal mula acara “toet karbet” dan “bude trieng” di kabupaten Pidie ini. Sejak sepuluh tahun terakhir “toet karbet” ini sudah mulai dikenal oleh masyarakat di luar kabupaten Pidie berkat media sosial. Berbagai era sudah dilewati oleh “toet karbet” ini, mulai dari Darurat Militer, Darurat Sipil, hingga masa damai. Tidak mudah melaksanakan sebuah acara dengan risiko yang amat tinggi ini. Setiap tahun “toet karbet” selalu saja memakan korban, baik korban dengan luka bakar ringan hingga luka yang serius. Orang yang terlibat dalam “garis depan” acara “toet karbet” (sebagai tukang bakar/pembuka tutup) sudah pasti harus punya pengalaman dan tingkat kewaspadaan yang tinggi, biasa hanya dilakukan oleh penduduk setempat atau tamu yang dipandu.

Di Gampong Meunasah Blang Garot, “toet karbet” sudah menjadi ritual tahunan (malam pertama hari raya Idulfitri) dan menjadi jangkar untuk mengembalikan ingatan kolektif warganya. Acara “toet karbet” menyimpan memori pahit sekaligus heroik tentang konflik dan keinginan warga sipil untuk berada di garis depan perjuangan. Mereka melampiaskan keresahan dan dendam pada malam “toet karbet“. Perang yang panjang dan penghilangan orang telah membuat warga geram dan salah satu hal yang bisa mereka lakukan adalah “toet bude“. Suatu hari setelah diberlakukan Darurat Militer di Aceh, drum-drum karbit yang dipakai untuk “toet karbet” oleh warga Gampong Blang Garot ini diambil oleh anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka menggunakannya untuk menarik perhatian TNI, karena suara “karbet” ini sangat mirip dengan suara bom. Ini adalah bagian dari strategi GAM untuk mengundang perhatian TNI dan menyeret mereka ke garis terdepan perang.

Suatu kali TNI pernah menyisir Gampong Blang Garot dan menemukan drum-drum karbid tersebut. Namun, mereka tidak melihat itu sesuatu yang berbahaya dalam operasi tersebut. Warga Gampong Blang Garot selamat dari apapun tindakan TNI jika mereka tau drum yang digunakan GAM untuk memancing TNI itu berasal dari Gampong ini. Sebelum Darurat Militer, acara “toet karbet” tergolong meriah. Perbedaan dengan yang sekarang adalah pada jumlah drum yang digunakan untuk “toet karbet“. Dulu hanya dua hingga tiga drum karbid sebagai representasi dari bunyi bom dalam medan peperangan, selebihnya adalah meriam bambu (bude trieng) sebagai  bunyi senjata laras panjang atau pendek. Persiapan untuk acara “toet karbet” sudah dimulai sejak hari ke sebelas Ramadan. Para pemuda mulai memotong bambu dari rumpunnya. Bambu yang digunakan untuk bude trieng (meriam bambu) ini adalah pangkalnya, karena memiliki struktur yang kuat untuk diledakkan berkali-kali. Para pemuda masuk ke hutan-hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Garot untuk menemukan bude trieng yang berkualitas. Tidak susah menemukan bambu di Garot, karena sepanjang aliran sungainya ditumbuhi tanaman tersebut. Namun ada juga beberapa Gampong yang membeli bambu dari Tangse atau Geumpang yang lebih berkualitas.

Setelah diperoleh puluhan hingga ratusan, bambu tersebut dilubangi dari atas dan dibor pada batas atot . Proses ini biasa dilakukan pada malam kedua puluh satu Ramadan yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan panteue untuk tempat toet bude trieng yang biasanya mirip seperti menara pengintai musuh. Untuk drum karbid, mereka menyambung dua hingga tiga drum menjadi satu. Di beberapa gampong ada drum yang terdiri dari 4 hingga lima susunan drum minyak Pertamina ukuran 110 liter.

Pada tahun 2005 setelah penandatanganan MoU Helsinki antara GAM dan Pemerintah RI, acara “toet karbet” menemukan momentumnya. Warga Gampong Blang Garot yang sudah menunggu sangat lama untuk mengekspresikan perasaan mereka terhadap apa yang mereka hadapi dalam masa konflik menyambutnya dengan sangat antusias. Maka perayaan “toet karbet” pertama setelah Darurat Militer sangat meriah. Namun, acara ini sempat dilarang oleh Muspika Kecamatan Indrajaya yang terdiri atas Danramil, Kapolsek, dan Camat. Polisi dari Sektor Indrajaya sempat turun ke Gampong Blang Garot untuk menyita bude trieng yang sudah disiapkan malam “toet karbet” tersebut, namun seorang pemuda Gampong Blang Garot bernama Surya dengan berani menyanggah polisi-polisi itu. Dia secara heroik beradu mulut dengan polisi hingga akhirnya mereka tidak jadi menyita bude trieng.

Setelah tahun-tahun yang penuh dengan kisah heroik itu, acara “toet karbet” mulai menjamur hingga ke beberapa gampong di Kecamatan Indrajaya, Kec. Pidie, Tangse, Delima, dan beberapa Kecamatan lainnya di Kabupaten Pidie. Saat keadaan Aceh sudah mulai kondusif, Rabithat Taliban Aceh cabang Indrajaya, Delima, dan Mila bermusyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat di gampong yang diadakan acara “toet karbet” tersebut untuk melaksanakan kegiatan tersebut pada malam lebaran kedua. Mereka memberikan tawaran agar masyarakat bisa dengan nyaman melaksanakan ibadah takbiran pada malam hari raya pertama. Niat baik Rabithat Taliban tersebut disambut baik oleh masyarakat dan salah satu bentuk mufakat tersebut adalah mengadakan perlombaan pawai takbir pada malam hari raya pertama dan acara “toet karbet” pada malam hari raya kedua.[]

Akbar Rafsanjani, Programmer Aceh Film Festival dan salah satu warga Gampong Blang Garot, Kec. Indrajaya, Kab. Pidie yang sudah menyaksikan kisah di balik acara “toet karbet” dalam puluan tahun terakhir.

KOMENTAR FACEBOOK