Ke Gayo Aku Kembali

Bagi saya, Tanoh Gayo adalah nafas. Lewat perantaraan aliran Krueng Peusangan yang melintasi kampung kami Teupin Mane, cinta kasih itu terajut. Semenjak dalam jejak darah bapak, hingga remaja, air Krueng Peusangan mengalir dalam tiap jengkal tubuh.

Saya sangat menyukai musik etnik Gayo. Alunan yang keluar dari suling pengembala nun di atap langit sana, buaian angin yang berhembus pelan serta didong jalu, adalah sesuatu yang membuat saya jatuh cinta berkali-kali kepada Gayo.

Ketika masih berseragam STM Bireuen, saya bahkan sempat berharap suatu ketika bisa mempersunting beru Gayo sebagai pendamping hidup. Mimpi itu tidak maujud, karena ketika mahasiswa saya justru jatuh cinta pada dara Peusangan, dan kemudian menikahinya.

Semenjak kecil saya sudah bersentuhan dengan Gayo. Di masa kecil saya sering liburan ke Digul, Timang Gajah, Bener Meriah (dulu Aceh Tengah) ketika liburan sekolah tiba. Di sana makcik bermukim bersama suaminya. Kala itu parit-parit di depan rumah air jernih mengalir sepanjang waktu. Di dalam parit itulah saya dan teman-teman sering mandi telanjang bulat.

Setelah lulus STM, saya berkesempatan mengenal Gayo lebih dekat. Berprofesi sebagai kernet truck tangki pengangkut BBM, saya setiap hari pulang dan pergi ke sana. Berinteraksi dengan pembeli serta memasuki tiap kampung yang berada di bukit dan lembah. Menyundut rokok, menghidu aroma robusta serta menikmati dendang musik dangdut yang menjadi favorit saya.

Gayo adalah bangsa yang ramah, tidak neko-neko dan terbuka bagi siapa saja yang datang membawa cinta dan persahabatan. Walau kala itu Aceh sedang dihumbalang konflik bersenjata, orang-orang Gayo tetap bersikap “tradisional” yaitu penuh cinta kasih. Tidak mudah menjejak langkah di sana kala itu. Sebagai orang pesisir, kami bukan saja harus menghadapi aparat negara yang membangun pos di sepanjang jalan, yang tiap kami melintas harus menyerahkan “upeti” berupa uang rokok. Tapi juga kelompok-kelompok yang berupaya mempertahankan diri di tengah kecamuk konflik. Kami dicurigai, walau tidak diganggu.

“Hati-hati di jalan,” adalah kata paling sering diucapkan oleh orang Gayo.

***
Gayo adalah negeri Antara. Demikian para tetua kami menyebutkannya kala bercerita tentang negeri di atas awan itu. Hikayat Malem Diwa dan Putroe Bungsu, adalah cerita yang dirawikan secara turun temurun kala pembaca hikayat masih eksis di Aceh.

Negeri Gayo memang indah. Ragam bunga seakan tidak menolak untuk tumbuh di sana. Kuntum-kuntum mekar selalu memberikan gairah tersendiri.

Pucuk-pucuk kopi yang berkilauan diterpa mentari pagi, aroma robusta dan arabica, jeruk, kentang, kol, seledri, serta senandung dengan irama mendayu. Duh, betapa Gayo begitu istimewa.

Sabtu (8/6/2019) saya kembali menapak Tanoh Gayo. Bersama keluarga kami berlibur ke negeri yang indah tiada tara. Negeri itu kian harmoni, alam semakin ramah saja kepada siapapun yang datang. Senyum warganya, logat bicaranya, serta Lut Tawar yang setiap waktu menyuguhkan cinta.

Tidak ada yang tidak indah di sana. Tiap lekuk tanah adalah keindahan. Tiap jengkalnya adalah anugerah. Bahkan tanah longsor pun terlihat indah. Depik yang berenang ria di dalam danau, burung yang bercericit sembari melompat manja dari dahan ke dahan, kuda-kuda bertubuh kecil meringkik penuh birahi ketika musim kawin. Oh, hamparan Tanoh Gayo adalah anugerah yang tiada bandingan.

Dari puncak Pantan Terong, saya menatap ke bawah. Hamparan Kota Takengon yang dibangun di pinggir Lut Tawar, terlihat sangat indah.

Dari puncak itu saya mencoba melihat ke masa lalu, kala para mujahidin Tanoh Gayo menyerbu Belanda yang telah menduduki sebagian kecil tanah itu. Para pejuang mendayung perahu-perahu kecil melintasi danau, bersembunyi di balik kabut tebal, kemudian mencincang KNIL yang sedang berselimut di pekatnya malam dan rasa dingin yang menusuk tulang.

Melalui jalan setapak di sepanjang lingkar danau, para mujahid, atas nama agama, mengobarkan perang gerilya melawan penjajah Belanda yang datang untuk menguasai negeri yang indah tiasa terperi.

Gayo kini terus bergeliat pasca konflik. Potensi keindahan alamnya kian gencar digarap oleh generasi masa kini. Hotel nan megah pun sedang dibangun di bekas tapak Hotel Renggali.

Tentu, saya ingin melihat Aceh dan Gayo terus bangkit mengejar ketertinggalan setelah kecamuk perang. Pucuk-pucuk rembele harus mendapatkan kesempatan menjuntaikan pucuknya di tiap sudut rimba.

Semua mimpi membangun Gayo, membangun Aceh haruslah kita miliki bersama. Kita harus memiliki rasa memiliki, mengenyampingkan ego individual, mengenyahkan kebencian serta mempertebal cinta kasih.

Syarat utama adalah mempertahankan perdamaian yang sudah dirajut dengan sekuat tenaga.

Selamat Idulfitri 1440 Hijriah.

KOMENTAR FACEBOOK