Saudi Arabia, Negara yang Tak Ramah Kepada Perokok

ACEHTREND.COM,Jeddah- Begitu turun dari pesawat Saudi Arabian Airlines di Kibg Abdul Aziz International Airport, Jeddah, setelah menempuh penerbangan selama beberapa jam dari Malaysia, salah satu yang kami lakukan adalah sesegera mungkin menyundut rokok kretek yang kami bawa dari Aceh, Indonesia.

Saya sempat berpikir bahwa di Arab membeli rokok semudah di Indonesia, artinya di mana ada manusia, di situ ada rokok. Sejak dari Aceh saya hanya membawa sebungkus rokok. Dengan niat selama di Saudi, saya akan membeli rokok made in Saudi. Untuk itu pula, ketika keluar dari bandara, tepatnya di tempat pemberhentian bus, saya bukan hanya menghisap rokok, tapi membagikannnya kepada rombongan yang terlihat malu-malu ingin minta rokok. Begitu saya kasih, wajah-wajah yang saya tawarkan rokok gratis, segera berubah ramah.

Sopir bus yang mengantar kami dari King Abdul Aziz Airport menuju Madinah, adalah pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Satu propinsi dengan Tuan Guru Bajang yang pernah menjadi gubernur di sana. Lelaki bertubuh kecil itu menyundut kretek asal Indonesia. Tapi saya sudah lupa merknya.

Saya bertanya berapa harga rokok asal Indonesia di Arab Saudi. Dia mengatakan 25 Riyal. Awalnya tidak ada yang aneh di dalam pikiran saya. Sebagai pengguna Rupiah, kepala saya masih menerjemahkan sejumlah 25.000 Rupiah. Ketika ia menyebut bahwa bila dengan Rupiah harga sebungkus rokok Indonesia senilai Rp100.000, saya langsung kaget. Wow!

Saya segera membuka bungkus rokok. Saya hitung jumlah batang tersisa. Waduh, sekitar 6 batang lagi. Tidak ada rasa sesal telah membagikan rokok kepada beberapa orang. Yang saya sesali mengapa tak saya siapkan beberapa bungkus sebelum terbang dari Sultan Iskandar Muda International Airport, Banda Aceh.

Dengan uang saku yang sangat terbatas serta waktu menetap sementara selama satu minggu, stock rokok saya bukan saja tidak mencukupi, tapi memang tak ada sama sekali. Sial betul, saya tidak menjunjung tinggi kata pepatah Melayu: Sedia payung sebelum hujan, sedia rokok sebelum terbang. Eit, salah. Sambungannya adalah: sedia papan sebelum mati.

***
Di dekat Masjid Nabawi, Madinah, saya tidak menemukan penjual rokok. Para perokok pun sangat sedikit. Hanya orang asal Indonesia yang paling banyak sebagai perokok di sana. Di depan hotel, mereka berdiri sembari menghisap rokok, rata-rata mild. Beberapa orang Arab juga terlihat merokok. Di sini perokok benar-benar tidak mendapatkan fasilitas. Ruang restoran tidak ada smoking room. Dengan kondisi Madinah yang dingin kala itu, bagi smoker fanatik, tanpa sundut, maka sebuah siksaan yang tiada terperi.

Untung saya, dalam kondisi seperti itu, Rizal Fahlefi yang merupakan pengurus DPW NasDem Aceh, dengan senang hati berbagi rokok. Ia rupanya membawa satu pak kecil kretek filter yang dibeli di Aceh.

Di Mekkah juga demikian, perokok adalah kaum minoritas yang “tertekan” karena tak ada fasilitas apapun untuk mereka, termasuk saya. Pemerintah di sana tidak menyediakan ruang apapun untuk pengikut ahli hisap. Saya juga gagal menemukan kedai yang menjual rokok. Saya yang sedari awal berkeinginan untuk menghisap rokok made in Arab, harus mengubur dalam-dalam keinginan tersebut. Arab memang bukan penghasil tembakau. Pendapatan negara itu secara umum disandarkan pada hasil minyak bumi serta pendapatan dari kunjungan muslim sedunia ke Tanah Haram Mekkah dan Madinah. Dua sumber ini saja, mereka sudah sangat kaya raya. Konon lagi, bumi Saudi adalah wilayah gersang dengan gunung-gunung batu. Secara otomatis tembakau tidak akan hidup di sana.

Beda dengan Indonesia yang tanahnya subur, hijau dan beriklim tropis. Tumbuhan apapun akan hidup di Indonesia, kecuali beberapa saja yang memang tisak mau tumbuh di negara tropis. Tembakau di Indonesia bukanlah tumbuhan pelengkap, tapi telah menjadi tumbuhan industri yang telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja serta telah pula menjadi salah satu pendapatan negara melalui cukai tembakau. Di Indonesia perokok adalah pemberi pemasukan secara langsung kepada negara. Bila TKI adalah pahlawan devisa, maka perokok adalah pahlawan cukai. Luar biasa!

Kembali ke topik utama, saya baru menemukan rokok asal Indonesia di Jeddah. Di swalayan milik pedagang India. Harga per bungkus 25 Riyal. Ketika kami tiba di sana, beberapa orang yang sudah kehabisan stock rokok, segera membeli. Tak peduli harga mahal, asal mulut tetap bisa mengepulkan asap yang oleh Kementerian Kesehatan RI disebutkan tiap batang rokok mengandung puluhan kimia berbahaya.

Aktifitas menyundut rokok pun kembali ramai lancar. Usai menyundut rokok, kami segera menuju warung Wong Solo yang berapa di lantai dua sebuah ruko. Jangan bayangkan menunya seperti Wong Solo di Aceh. Hanya kuah kaldu yang agak sama rasanya. Selebihnya, semuanya sudah menyesuaikan diri dengan lidah perantau yang telah lama di Saudi. []

Awal April 2019, catatan tersisa.

KOMENTAR FACEBOOK