Ibu-Ibu Muda yang Berharap Damai Abadi di Serambi Mekkah

Akhir Ramadhan 1440 Hijriah, lini media sosial di Aceh riuh rendah setelah wacana referendum disampaikan oleh Ketua DPA Partai Aceh cum Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Teungku H. Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem. Banyak yang menarasikan bahwa ferendum tersebut sebagai bagian dari tujuan untuk memerdekakan Aceh dari Republik Indonesia. Eks kombatan GAM juga memberikan respon yang beragam.

Salah satu kelompok yang tidak muncul di media sosial memberikan respon terhadap wacana tersebut adalah kalangan ibu muda yang terkoneksi dengan internet. Mereka diam-diam mengikuti dialektika politik Aceh yang sempat memanas di ujung Ramadhan. Bagaimana pendapat mereka tentang referendum?

Karina (29) seorang ibu rumah tangga dengan dua anak, memberikan tanggapannya, Rabu (11/6/2019). Perempuan berkulit kuning langsat jebolan salah satu SMP di Bireuen, mengatakan saat ini ia sedang membangun rumah tangga dengan suaminya yang bekerja sebagai buruh kebun sawit di pedalaman Bireuen.

Mimpi terbesarnya adalah mampu menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya dan membangun hunian untuk keluarga. Ia yang sempat menyaksikan konflik bersenjata antara GAM dan RI, mengaku sejak damai bergulir, ia dan keluarganya merasa lebih bahagia.

“Tidak ada ketakutan, tidak ada rasa cemas. Bilapun suami bekerja jauh dari rumah, tak ada rasa khawatir berlebihan. Saya di rumah pun merasa aman, walau tinggal bersama dua anak yang masih kecil,” kata Karina.

Eva Hartati (24) seorang darabaro asal Pijay, juga menyampaikan argumentasi senada. Konflik politik atas nama apapun tetap tidak menguntungkan orang kecil. Rakyat di bawah tetap terhimpit dan kesulitan.

“Dulu waktu konflik saya masih kecil. Tapi merasakan betapa sangat sulit hidup di zaman itu. Saya sebagai istri tentu berharap jangan ada lagi ribut-ribut yang membuat kami serba salah,” katanya.

Riski fajrita (33) yang ditemui aceHtrend di salah satu objek wisata di Bireuen, juga berharap tak ada lagi sengketa politik yang merugikan rakyat. Ia ingin hidup damai. Saat ini ia dan sang suami sedang membangun kehidupan ekonomi.

“Kami baru memulai membangun ekonomi keluarga. Kami sudah sangat lelah dengan sengketa politik orang-orang itu. Kami hanya ingin hidup damai dan aman. Kami tak meminta lebih, karena yang lebih tetap tak diberikan kepada kami yang kecil,” katanya sembari mengeloni anaknya yang masih berusia 2,5 tahun.

Riski memgatakan dia ikut menyaksikan perang di Aceh yang membuat Serambi Mekkah babak belur. Ia tidak ingin pengalaman traumatis itu berulang lagi.
Ia sudah sangat lelah dengan semua itu.

Nizawati, S.Pd (23) yang baru saja menikah beberapa bulan lalu, mengaku tak ingin ada kekacauan di Aceh. Walau ketika konflik mendera ia masih sangat kecil, tapi mendengar semua cerita sedih dari orang lain.

Ia berharap para petinggi di Aceh ketika bermanuver janganlah mengabaikan aspirasi rakyat. Karena pihak yang paling menderita kala konflik adalah rakyat.

Apa yang mereka sampaikan adalah manivestasi dari banyak harapan dari perempuan Aceh di akar rumput yang ingin damai di Aceh tetap abadi.

Mereka tak ingin dibawa kembali ke masa kegelapan, hanya karena nafsu politik dari sebagian orang. 13 tahun damai adalah waktu yang singkat untuk menata kehidupan rakyat kecil yang puluhan tahun dihempang konflik.

“Kami baru memulainya, menata kehidupan untuk masa depan, jangan sampai apa yang kami mulai kembali hancur seperti yang dialami oleh orangtua kami di masa lalu,” kata Dewi (33).

KOMENTAR FACEBOOK