Membawa Pulang Souvenir Asal China dari Tanah Haram

Oleh Muhajir Juli*)

China telah berhasil “menginvansi” Arab Saudi, bahkan sukses menerobos masuk ke jantung hate umat Islam sedunia yaitu Tanah Haram Mekkah dan Madinah. Bila dibandingkan dengan negara lain, di dua kota suci itu, Republik Rakyat China adalah raja dalam berbagai hal.

Made in China, adalah tulisan paling umum ditemukan di berbagai barang di pasar, baik di ruko-ruko maupun di lapak berdebu yang digelar di berbagai objek ziarah religius di kedua kota tersebut.

Bagi orang Indonesia, ceret kuning merupakan salah satu souvenir yang paling banyak dibawa pulang oleh jamaah haji maupun jamaah umrah. Ceret kuning emas tersebut sudah sangat identik sebagai bukti bahwa seseorang sudah menapak di kedua kota suci itu. Bahkan sebagian orang menyimpulkan bahwa ceret kuning sebagai identitas Islam, sehingga perlakuan terhadap ceret tersebut sangat istimewa. Hanya dipakai pada hari-hari penting seperti lebaran Idulfitri dan Iduladha.

Anak-anak yang sering menonton serial Aladin, mengira bahwa ceret kuning itu adalah ceret Aladin, sehingga sering diusap sembari berharap akan keluar jin yang kelak bisa disuruh apa saja. Termasuk disuruh belajar agar yang menggosok bisa pintar tanpa harus sekolah dan tidak perlu mengaji.

Bukan hanya ceret, China juga mengekspor tasbih dalam ragam model, coklet, pelembab dan ragam produk kosmetik yang dijual di mana saja di sana. Hanya sajadah, baju dan sorban yang merupakan produk Pakistan dan India. Selebihnya China, hingga bus berbadan besar yang setiap hari wara-wiri di high way Arab Saudi mengangkut jemaah umrah yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Dari keterangan petugas hotel kami menginap kala umrah pada awal April 2019, telur ayam bercangkang putih dan sudah diberi label tanggal kadaluarsanya, juga diimpor dari China. Demikian juga buah-buahan. Hanya pisang yang diimport dari Philipina.

Secara umum publik dunia menganggap bahwa produk China berkualitas rendah dan dijual dengan harga murah. Anggapan itu tentu tidak sepenuhnya salah, walau juga tak benar 100%. Sebagai negara raksasa ekonomi dari Asia, China memproduksi barang kebutuhan manusia dalam berbagai tingkatan kualitas. Peruntukannya agar seluruh manusia dalam berbagai tingkatan ekonomi dapat membeli barang yang mereka butuhkan.

Souvenir buatan China yang merajai pasar di kedua kota suci itu tentu dijual dengan menyesuaikan kemampuan ekonomi warga dunia yang datang ke sana. Orang Indonesia yang paling gemar berbelanja. Apapun yang dijual pasti dibeli. Asalkan harga masih bisa ditawar dan harganya terjangkau. Semua akan dibeli sebagai oleh-oleh. Maka tidak heran ada juga yang membeli jam tangan murah meriah warna kuning emas kemudian dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Yang penting dibeli di Arab, tak soal bila diproduksi oleh China.

Dalam koper oleh-oleh yang dibawa dari Arab Saudi, bisa dipastikan, dari 100 persen souvenir yang dibeli, 80% lebih adalah barang buatan China.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK