Kisah di Balik Terbitnya Buku Lingkaran Pekat Muslihat Karya Ustaz Roni Haldi

Ustad Roni Haldi @aceHTrend/Masrian Mizani.

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Ustaz Roni Haldi Halimi, Lc merupakan pegawai di Kantor Kementerian Agama (Kakanmenag) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Selain seorang abdi negara, dirinya juga aktif berdakwah dari satu masjid ke masjid lainnya. Nama besarnya tidak asing lagi di telinga masyarakat Abdya.

Baru-baru ini, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu menuangkan buah pemikirannya yang diabadikan dalam bentuk karya tulis. Dalam menulis buku tersebut ada sederet kisah yang memotivasi dirinya untuk menerbitkan karya itu.

Saat dijumpai aceHTrend, Kamis (13/6/2019), Ustaz Roni Haldi yang kini menjabat sebagai Kasi Bimas Kankemenag Abdya mengisahkan terkait proses penulisan karya tulisnya itu, mulai dari materi hingga pemilihan judul buku.

“Kisahnya itu berawal dari materi tausiyah pada takziyah di setiap kali diminta sampaikan di Gampong Pinang dan berlanjut ke mimbar Jumat di masjid seputaran Blangpidie dan Susoh. Rasanya sulit dan terasa jemu saat materi yang disampaikan itu-itu saja, apalagi tampil di masjid dan mimbar yang sama, maka timbullah motivasi untuk mengabdikan materi-materi tausiah tersebut dalam bentuk buku,” ujarnya.

Berawal dari motivasi tersebut, Roni Haldi yang dulunya memiliki hobi menulis saat menimba ilmu di negeri diutusnya Nabi Musa as tepatnya di Mesir, sedikit demi sedikit mulai menorehkan pemikirannya dalam lembaran kertas. Roni sendiri pernah bergabung di organisasi keluarga mahasiswa Aceh yang punya media informasi sebagi wadah mencurahkan pikiran dan hikmah yang dinamai dengan buletin El Asyi.

Di organisasi tersebut, Roni bersama dengan teman-temannya juga aktif mengikuti pelatihan menulis guna pengembangan diri dan keilmuan.

Bakat dan hobi menulis sudah sejak awal diminati Roni. Namin minat tersebut sempat terhenti beberapa saat. Sepulang dari menimba ilmu S1 di Mesir, giat menulis dilanjutkan di tanah air, dan beberapa tulisannya pernah diterbitkan dalam rubrik opini di salah satu media cetak harian lokal di Aceh.

***

Berangkat dari rutinitas penyampaian tausiyah dan khutbah Jumat. Terbesit suatu keinginan mendokumentasikan semua materi dalam bentuk tulisan agar mudah untuk diulang sebagai rujukan. Media sosial Facebook menjadi pilihannya dalam menuangkan pemikiran tersebut, sebab dianggap lebih mudah digunakan dan banyak dikonsumsi khalayak ramai.

“Maka dari situlah saya mulai menulis setiap materi tausiyah di Facebook. Kebetulan terasa nyaman sambung menyambung seputar kisah Nabi Yusuf yang tertulis dalam Alquran tepatnya pada Surat Yusuf. Ketika rutinitas ini terus berjalan, saya mencoba memadukan dari gaya penulisan literasi yang digunakan penulis dan kolumnis pada Republika, Yusuf Maulana. Mulailah saya beradaptasi dengan gaya penulisan beliau lewat karya tulis dan buku-bukunya,” terang Roni.

Tak disangka, Ustaz Yusuf Maulana pun melihat ragam goresan tulisan di dinding Facebook dirinya. Kemudian keduanya saling membuka komunikasi sehingga timbul sebuah keinginan besar untuk serius menulis literasi.

“Alhamdulillah, beliau pun gembira dan menyanggupi untuk membimbing, membantu bahkan sampai jadi karya berupa buku. Jujur, saya sebelumnya belum pernah membayangkan bisa menulis jadi sebuah buku,” kisah Roni.

Hubungan dan komunikasi terus dijaga dan dirawat oleh Roni. Namun, hingga buku pertamanya Lingkaran Pekat Muslihat dicetak, Roni belum berjumpa langsung dengan sang guru, Ustaz Yusuf Maulana.
Hadirnya buku tersebut pasti menimbulkan tanda tanya di kalangan pembaca terkait pemilihan diksi untuk judulnya. Buku Lingkaran Pekat Muslihat ini adalah wujud dari hasil tadabur Alquran dalam surat Yusuf.

“Kami memilih gambar sumur di tengah padang pasir di sampulnya itu untuk menggambarkan awal mulai kisah persekongkolan sepuluh saudara Nabi Yusuf yang sangat berkeinginan menyingkirkannya. Kisah ini penuh dengan intrik dan muslihat. Banyak hikmah yang dapat kita gali daan bermanfaat dalam kehidupan,” ujarnya.

Roni menjelaskan, api dengki 10 saudara serumah, seayah mulai tumbuh berkembang, tatkala Yusuf mereka rasa lebih disayang oleh ayahanda mereka Nabi Yakub as. Terlebih lagi setelah Yusuf bermimpi tentang perhatian Allah kepadanya. Walaupun tak pernah diceritakan sesuai petuah ayahnya, tetap saudaranya itu membenci dan mendengki Yusuf. Sehingga timbullah mufakat jahat yang berlangsung alot di antara mereka. Keputusan diambil untuk menyingkirkan dan dijauhkan dari kasih sayang ayahnya Nabi Ya’kub. Maka sumur adalah tempat yang paling tepat untuk menyingkirkan Nabi Yusuf.

Ternyata, sambung Roni, muslihat yang dirasa dan diterima Yusuf dari saudaranya tidak berhenti di situ. Saat Yusuf selamat diangkat dari sumur, muslihat jahat berganti beralih ke istana. Hanya karena takut azab Allah kepadanya, Yusuf menolak seluruh upaya rayuan lembut bahkan ancaman keras seorang wanita yang dililit hasrat menggebu mengajaknya berbuat larangan. Walau alat bukti hakikatnya berpihak memenangkan Nabi Yusuf, namun kekuatan kekuasaan lebih memilih Zulaikha istri sang Aziz sehingga Yusuf dipenjara.

“Rupanya penjara bukan akhir kisah kehidupan Nabi Yusuf. Walau banyak yang menyangka penjara adalah tempat paling hina di dunia, namun kebangkitan jiwa dan diri Nabi Yusuf bermula dari fitnah penjara. Karena mimpi yang menggelisahkan sang raja Mesir mengantarkan Nabi Yusuf keluar dan malah dimuliakan dengan posisi penting dalam istana, siapa yang menyangka. Seorang narapidana berubah nasib menjadi pemegang kuasa,” papar Roni.

Namun, lanjut Roni, kekuasan tidak membuat Nabi Yusuf buta hati dan buta mata diri. Walau berpuluh tahun dipisahkan dari ayahanda tercinta Nabi Yakub oleh muslihat saudaranya. Perjumpaan oleh takdir tak mengubahnya membenci kelakuan jahat saudaranya. Ternyata takwil mimpi yang dulu dirahasiakan oleh ayahnya terjawab sudah di ujung kisah terbaik sepanjang masa.

“Intinya, dipisahkan dan dipertemukan oleh takdir. Awal diuji dilalui banyak muslihat jahat, namun akhirnya kebahagiaan tak terhingga. Kesabaran dan kemaafan ternyata berujung bahagia tak ternilai harganya,” pungkas Roni Haldi.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK