Paradigma Perubahan

Prof Dr. Drs. Syamsul Rijal Sys (Foto: Dokumen Pribadi)

Oleh: Prof Dr. Drs. Syamsul Rijal Sys., BA, M.Ag*

Allah SWT berfirman : “Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah komunitas sampai mereka mengubah dirinya sendiri ” ( Qs. Al- ra’du :11).

Saya ketika itu (1984), baru sepuluh menit mengikuti perkuliahan Falsafah Kalam dimulai yang diampu oleh Prof . Ahmad Daudy , saya mengacungkan tangan menyela ulasannya mengajukan pertanyaan ” Prof ! Dalam memaknai sosio-religi acap kali kita dibenturkan oleh perubahan paradigma, yang mendorong terjadinya perubahan sikap yang melahirkan respon baru yang pada gilirannya menelurkan kebijakan baru. Prof, kenapa ini bisa terjadi ? Dan bagaimana kita mentransformasikan kreasi nalar terhadap perubahan itu sendiri.

Ahmad Daudy tersenyum khas, beliau sangat jarang tersenyum karena filosof ini sangat serius ketika menurunkan ilmunya kepada mahasiswa ., seraya berujar dengan mengacungkan telunjuknya keatas “pertanyaan anda sangat bagus dan saya suka, butir pertanyaan anda sangat cerdas karena itu anda harus lebih cerdas untuk menemukan jawabannya”, Tapi Prof … belum sempat saya meneruskan kata selaan Prof itu menyambung kembali ulasanya “saya dapat bantu anda sebagai bahan referensi, silahkan baca “paradigma Islam” karya Koento Wijoyo dan cari tau konsep perubahan oleh filosof Jurgen Habermans dengan senyum ia mengakiri mari kita lanjutkan pembahasan saya tadi”.

Itulah secuil kebersamaan keilmuan saya dengan Prof Ahmad Daudy, pengalaman ini turut mewarnai pola penalaran saya saat merespon keadaan, setiap perubahan itu menjadi bagian dari spirit zaman dimana kita berada dan tiada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Ini mengindikasikan bahwa perubahan selalu mengalami revolusi mengambil bentuknya tersendiri.

Perlukah perubahan?

Dinamika kehidupan sesuatu yang pasti adalah keadaan yang berubah dan diakhiri dengan ke”fanaan”. Perubahan itu tetap menjalani perubahan sampai perubahan itu sirna dalam siklus kehidupan. Manusia bijak tentu saja, berada dalam atmosfir perubahan guna memenuhi tuntutan berkehidupa yang dinamis. Aqidah berIslam yang perlu istiqamah, jangan ada perubahan sementara itu transformasi nilai keislaman dalam berkehidupan sejatinya mengalami perubahan sejalan dengan tuntutan dinamika kehidupan. Semakin tinggi kualitas taqwa seseorang sejatinya perubahan entitas kehidupannya dalam interaksi sosio-religi harus mengalami perubahan yang signifikan.

Menilik kepada entitas revolusi “paradigma perubahan” bahwa setiap komunitas itu punya cara pandang tersendiri untuk menentukan sikap berkehidupan yang lebih baik melalui perubahan. Perubahan yang signifikan dan terbaik adalah terjadi secara revolusioner dengan membangun partisipatori semua pihak untuk membangun paradigma yang dibutuhkan.

Merubah nasib sosial seseorang oleh Rasulullah memberikan inspirasi bahwa di muka bumi ini tempat anda mencari rezki tidak dibenarkan berpangku tangan, burung yang keluar dari sarangnya perut kosong dan ketika kembali perutnya berisi. Perubahan revolusioner dalam berkehidupan dalam ragam dimensinya selalu dintuntut dengan kerja keras (baca:ikhtiari).

Komunitas yang ingin maju harus melakukan perubahan, perubahan itu tuntutan entitas manusia modern. Tanpa perubahan kejenuhan dan kehampaan yang akan terjadi dan dirasakan. Problematikanya adalah bagaimana membumikan perubahan itu bukan hanya memenuhi tuntutan spirittualitas kehidupan manusia namun juga harus sejalan dengan kehendak syar’i.

Cara pandang dan bersikap dalam memenuhi amanah dan tanggung jawab dengan sebuah perubahan adalah menjadi sesuatu yang diniscayakan. Bagi pengemban perubahan lakukanlah lerubahan yang bersikap gradual yang disertakan dengan ritme kapabilitas komunitas yang dituntut untuk melakukan perubahan. Disinilah falsafah Jurgen Habermans menemukan sisi konseptualnya bahwa setiap teori untuk sebuah perubahan adalah keniscayaan yang diperlukan.

Dalam kaedah ushuliyah menindaklanjuti kebijakan sebelumnya disaat seseorang ingin menerapkan sebuah kebijakan yang beraroma perubahan haruslah merujuk kepada “al-Muhafadz ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” , dalam perubahan kebijakan itu sah-sah saja namun terapkanlah dengan menjaga sesuatu terdahulu yang baik dan mengambil sesutu yang baru yang lebih baik.

Tantangan Futuristik AceHTrend

Eksistensi AcehTrend apa yang telah diinisiasi dan seterusnya ke depan adalah menyuarakan perubahan yang signifikan terhadap entitas sosial pemerhati dan pembaca setianya. Untuk lebih lanjut nuansa perubahan itu dapat dirasakan dalam atmosfir interaksi sosio-religi komunitas terkini dalam nuansa modernitas. Tantangan dihadapan adalah kemampuan menyikapi keadaan sosial yang dikemas signifikan bagi sebuah kebutuhan kehidupan masyarakat terkini.

Wallahu a’lam bi alshawwab.

*Penulis adalah Guru besar Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, dan Ketua FAPSEDU Provinsi Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK