Di Pintu Masuk Komplek Masjid Nabawi Pemberi Sedekah Makanan Menunggu Jamaah

Oleh Muhajir Juli*)

Ketika tiba di Madinah pada awal April 2019, saya dan rombongan diinapkan di sebuah hotel–saya lupa namanya– yang berjarak sekitar 200 meter dari gate yang lazim dilalui oleh jamaah asal Indonesia. Gate itu berada di sebelah kanan Masjid Nabawi yang berada di sudut. Saat saya berada di sana, komplek mesjid sedang dilakukan pembangunan, sehingga banyak gate yang ditutup di bagian kanan.

Seusai shalat Ashar berjamaah, saya melihat banyak orang yang menggelar plastik bening panjang di lantai. Awalnya saya agak bingung plastik tersebut akan dipergunakan untuk apa. Begitu ingat bahwa hari tersebut adalah Senin, saya langsung paham. Plastik itu akan dipergunakan untuk menaruh menu berbuka puasa.

Karena badan masih terasa lelah, saya pun kembali ke hotel untuk “meluruskan punggung” beberapa saat sebelum masuk waktu magrib. Suasana Madinah yang dingin, membuat saya kurang nyaman berlama-lama di areal terbuka.

Jelang waktu Magrib saya pun kembali ke Masjid Nabawi. Sembari menyesali telah salah membeli sandal, saya terus melangkah. Selop gaya Wiro Sableng yang saya bawa dari Indonesia, lumayan berat untuk dibawa melangkah terlalu jauh. Di Masjid Nabawi sandal hanya perlu dibuka ketika memasuki bangunan utama mesjid. Walau halaman mesjid tetap dipergunakan sebagai tempat shalat, dan tak perlu sajadah–bila tak kebagian tempat yang sudah disediakan– sandal diperbolehkan untuk tidak dilepas. Karena hakikat Tanah Haram dianggap suci tanpa najis, kecuali najisnya sudah nyata.

Selain di pintu masuk, tempat penyimpanan sandal juga disediakan di dalam masjid dan diletakkan di ujung shaf berdekatan dengan termos air zamzam. Bagi jamaah yang enggan menaruh sandalnya di sana, boleh memasukkan sandal ke dalam tas atau dalam plastik dan dibawa serta ketika shalat. Bila kebetulan saya kebagian di bagian shaf yang agak ke dalam, sandal saya bawa serta, agar nantinya tidak perlu repot kembali ke ujung saf.

Ketika berangkat ke mesjid, tidak jauh dari gate, saya melihat banyak orang berperawakan Arab–sepertinya penduduk tempatan– berdiri di pinggir jalan sembari menawarkan berbagai makanan khas di sana. Awalnya saya kira itu pedagang. Setelah saya perhatikan dengan seksama, rupanya para dermawan yang sedang membagikan makanan untuk siapa saja.

Sebenarnya saya sempat ingin mewawancara salah satu di antara mereka. Tapi itu urung saya lakukan karena mereka sangat sibuk bersedekah. Tak ada jeda. Luar biasa. Bahkan tersenyum pun tidak sempat mereka lakukan.

Saya menghampiri salah satu di antara mereka. Begitu saya julurkan tangan segera diberikan satu bungkusan plastik berisi roti mirip canai, berbentuk bulat serta tebal dan satu kaleng yogurt. Segera saya masukkan ke dalam tas dan bergegas menuju masjid karena azan sudah di bagian akhir.

Tiba di dalam mesjid, saya tidak bisa segera berdiri untuk shalat sunat. Karena ribuan jamaah sedang berbuka puasa. Ada niat untuk ikut nimbrung. Tapi batal saya lakukan bersebab saya tidak ikut puasa.

“Beuna male bacut. Nyan jatah ureung puasa,” bisik hati saya.

Usai shalat Magrib, selanjutnya saya bergegas menuju termos air zamzam. Jamaah antri di sana. Saya meneguk dua gelas seukuran gelas plastik bungkusan air mineral. Air zamzam itu tersedia dalam dua varian. Dingin dan natural.

Tiba di hotel, saya lupa mengambil kunci pada resepsionist. Lift sangat padat. Saya malas turun ke bawah. Antriannya lumayan lama.

Sembari menunggu kawan sekamar, saya duduk di sofa dekat kamar. Saya membuka bungkusan yang diberikan tadi. Saya merobek roti dan menyelupkan ke dalam yogurt. Rasa rotinya tawar. Dicampur dengan yogurt, jadilah radanya agak asam manis. Hmmm, lumayanlah untuk ukuran lidah saya yang agak terbiasa dengan makanan “internasional”. Baru lima sobekan, perut sudah terasa kenyang. Roti yang tersisa masih sangat besar. Saya panggil beberapa orang kenalan. Mereka ikut menyicipi. Ada yang biasa saja, ada pula yang mengernyitkan dahi. Mereka pun undur diri pada sobekan ketiga. Sisa roti masih besar. Saya bungkus kembali dan membawa ke dalam kamar. Roti itu tidak saya sentuh lagi hingga esok hari.[]

*)Penulis adah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK