Sajak-sajak Dian Guci

Ilustrasi @pixabay

Terjemahan cahaya

Semenit sebelum  zaman menyelam ke dalam cahaya di dahan belimbing itu

Seekor kutilang lewat mengejar betinanya

Impian cahaya yang dibisikkan hujan tadi malam

Tertinggal sebagai handuk lembab pada kapstok kayu di pintu kamar.

Dan kepingan sejarah yang jatuh dari tangan gadis penjual kopi

Bertahan di relung jantung,  berdetak dalam irama walsa.

Lalu waktu bersentuh pipi bersama takdir

berdansa pada  selasar usia.

rumah panjang, 19 Februari 2016

Ilustrasi Rumah Panjang

Angin, yang halus perangainya setelah kenyang menghembus jutaan kerancang jala, mengerti

bahwa cemucut tak ingin diganggu.

Jadi disimpannya saja legenda cinta yang dipungutnya dari pasir dan gelombang samudera

Dalam ceruk antara batang pala,

Batang baya yang sabar menjulurkan dedahan ke langit, dan diam-diam berdoa

agar ular di antara akar-akarnya

tak menggigit bocah yang bermain di situ, setiap petang setelah mengaji. Lalu hujan pun rinai.

Hening bangkit dari bebatuan, dari kelokan jalan yang terdiam dan jendela madrasah yang dikunci,

Bertanya tentang suara dan hidup,

Ingin diyakinkan bahwa kehadirannya tak sia-sia.

Malam mengantar hujan keluar petarang kebun, mengecup atap seng tua tempat bayangan bulan memantulkan zikirnya,

Memberi isyarat abadi bahwa ia telah kembali.

Ada yang sedang lewat, dalam kelam menyusur rerumput, ke arah pelabuhan

Kau tak melihat jemarinya terkembang, telingamu tak menangkap langkahnya.

Tetapi ia ada.

                                                                        rumah panjang, 11 Desember 2016

Bhagavad Gita

Sang penasihat tidak menyuruh ksatria merentang busur terakhir, mengantar seruncing logam menembus pembuluh sang guru

Namun jemari lentik mempelai tersiksa, yang meluncur dari keabadian,

mengejar tuntutan balas,

Memandu melesatnya anak panah, memburu hangatnya darah

dalam leher lelaki yang dahulu dimesrainya dalam bayang, seusap rambut hingga dampal[1] kaki.

Kematian sang guru membekukan tetesan waktu, memberi jeda pada angkara untuk berkaca, dan mempertanya

Adalah rahasia pena yang menulis sejarah sebelum jiwa meluncur ke dalam garba,

bahwa bunda Prativi, yang diinjak, diludahi, dilukai tanpa henti,

akan tetap memberikan air susunya kepada anak cucu Sang Nabi

Dan dia akan menerima limpahan kesyukuran, ketika tubuh-tubuh tak bernyawa

dibaringkan dalam dekapannya

rumah panjang, 8 April 2017

Judul Berita di Koran

Yang dilihatnya ketika menapakkan kaki ke lantai palka adalah

altar itu, lukisan dirimu tergantung di atasnya

Kanak-kanak yang didandani dengan bulu burung cenderawasih,

daun puring dan kelopak wijayakusuma

mempersembahkan kurma dan buah ara. Di leher mereka tali dari sabut

Mereka berkata, ada inisialmu di anjungan kapal itu

Mereka yakin huruf-huruf itu ditulis dengan api. Kayu hangus, dayung hangus

Jelatang dan markisa merambat menolak bersaksi

Mereka menemukannya dini hari, sesudah Imam menyelesaikan tahrim. Mereka  mengabariku: kau tak ada.

Saat ibu meletakkan sarapan di atas meja, bola matamu menatapku dari kuah gulai.

                                                                                    rumah panjang, 8 April 2017

REQUIEM CEMPALA[2]

Pagi itu ketika lima cempala yang hinggap di pagar kawat

Tergeletak mati di bronjong batu, tanpa tahu siapa yang membunuh mereka,

Perempuan yang selalu mematikan lampu teras belakangnya setiap pukul enam, membuka pintu dapurnya

Mengucapkan “astaga” dengan suara lembut, lalu menggali sebuah kubur

Keempat sisinya berlapis bulu, dasarnya daun salam dan temurui[3]

Dada masing-masing burung diberinya tanda:

Ini Istirah, ini Impian, ini Kesempatan, ini Tangginas, dan ini Ambisi

Lagu tonggeret menandai kemarau. Batang kangkung berbunga putih, menjalar di atas kubur

Biawak dan wirok lalu lalang merenda sarang. Tak ada yang menunggu cempala di pagar kawat

Lelaki yang menaikkan lelayang pada sore bening penuh terik, tidak tahu bahwa

suami perempuan itu

Berada jauh di pulau kecil di muka teluk, tak akan pulang sebelum bulan baru muncul.

Apabila bulan baru muncul, maka bayangan bambu di tepi irigasi akan menyentuh

kubur cempala. Dalam senyap

                                                                                    pulau terapung, 22 Feb 2019

Cikapundung, 1975

Sungai meliuk di jantung Bandung. Hari itu

mendung

Orang berjongkok memilih majalah bekas dari tumpukan pada trotoar

yang ia dahulu kerap berjalan di atasnya.

Menyeberang ke toko buku berlelangit tinggi, berbau kertas dan rak-rak kayu

Berbisik-bisik memilihkan kastil-kastil yang dikutuk dan undan-undan putih

Gadis kecil, cuping hidungnya membesar menghirup aroma tinta cetakan,

Dengan mantel rajutan merah berkancing bunga mawar:

“Ayah, kepala kuda itu digantungkan di gerbang kota dan menjawab sapaan” katanya

“Dalam senarai kisah, kau bisa menjadi apa saja”

Ia memilih menjadi kepompong itu, yang diam saja dalam angin dan hujan

karena suatu saat hujan berhenti, matahari kembali

dan trotoar itu tentu saja masih ada, walau pun ia telah menjadi kupu-kupu

tidak bisa lagi masuk toko buku

tanpa dikejar pegawainya yang mengenakan cat kelopak mata.

                                                                                    pulau terapung, 22 Feb 2019


[1]Telapak kaki

[2] Burung maskot Aceh, Kucica ekor kuning (Trichixos pyrropygus)

[3] Daun kari

*Dian Guci adalah penulis dan penerjemah. Lahir di Bandung dari seorang ayah berdarah Minang dan ibu berdarah Sunda. Saat ini berdomisili di Blangpidie, Aceh Barat Daya dan menjalani hari-hari di bidang pendidikan.

KOMENTAR FACEBOOK