Mengapa Teungku Nasruddin bin Ahmad Batal Calonkan Diri Sebagai Gubernur Aceh?

Teungku Nasruddin bin Ahmad. Tokoh perjuangan kemerdekaan Aceh di bawah payung GAM. Foto: Ist.

Oleh Muhajir Juli*)

Usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005 di Finlandia, pihak tokoh senior GAM di luar negeri sudah duduk rembug tentang rencana pengelolaan politik Aceh sesuai konflik. Tapi kemudian jalan sejarah berbelok ke arah lain.

Rapat di Swedia seusai Perjanjian Helsinki telah menyepakati bahwa yang ditunjuk sebagai calon Kepala Pemerintahan Aceh dari unsur Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah dr. Zaini Abdullah. Pihak GAM sudah membuat daftar siapa saja menjadi Ule Pomerintah Aceh, merujuk peran dan usia di level tertinggi ASNLF.

Di level pimpinan tertinggi tidak ada penolakan. ketika keputusan rapat itu dibawa pulang ke Aceh, sejumlah pihak menolak. Zaini Abdullah dinilai tidak cocok mewakili representatif GAM di Pilkada 2006. Ia memiliki banyak kekurangan. Zaini tidak melakukan manuver apapun. Dia hanya diam. Tokoh senior GAM dibuat pusing tujuh keliling.

Di level GAM lapangan yang didominasi oleh elit militernya, memunculkan nama baru yaitu Teungku Nasruddin bin Ahmad, berpasangan Muhammad Nazar dari unsur Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA). Untuk sejenak kasak-kusuk berhenti. Tokoh senior pun seakan mengamini.

Tapi dalam waktu tidak begitu lama dari kalangan petinggi GAM muncul dengan paket Humam Hamid-Hasbi Abdullah atau dikenal dengan H20. Kalangan GAM akar rumput bereaksi. Munculnya H20 diawali dengan pengunduran diri Teungku Nasruddin bin Ahmad dari calon Gubernur Aceh untuk Pilkada Langsung 2006.

Beredar kabar bahwa Teungku Nasruddin dipaksa mundur oleh Zakaria Saman. Menhan GAM itu dituduh memaksa Teungku Nas menandatangani surat tidak bersedia menjadi gubernur. Kabar itu meletup ke permukaan sehingga GAM akar rumput memunculkan paket baru yaitu Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar.

Pilkada 2006 memang penuh intrik sesama eksponen GAM. Sikat menyikat di lapangan terjadi. Di Bireuen mobil H20 dirusak massa pendukung Irwandi-Nazar (Irna).

Pemilihan umum yang diikuti oleh 2,5 juta rakyat Aceh itu kemudian mengantarkan Irwandi-Nazar ke tampuk pimpinan dengan kemenangan telak. Meninggalkan Humam-Hasbi yang diusung PPP serta pasangan Malek Raden-Sayed Fuad Zakaria yang diusung oleh Golkar.

Dikutip dari Gatra.com, dalam artikel: Mekar Bunga Demokrasi Aceh, Keberhasilan Irwandi-Nazar yang didukung sebagian besar mantan anggota GAM itu memang mengejutkan banyak orang. Perubahan konstelasi politik tampaknya sedang terjadi dalam pilkada paska-MoU ini. Irwandi-Nazar yang notabene mewakili aspirasi kelompok GAM ternyata berhasil menyita dukungan yang selama ini dikuasai partai-partai politik.

Mesin politik partai yang diusung beberapa kandidat tampaknya tak ampuh lagi menghadapi dinamika politik pasca-penandatanganan MoU perdamaian. Koalisi Partai Golkar yang menjadi pemenang dalam pemilu di Aceh tahun 2004 dengan PDIP, Partai Demokrat, dan PKPI ternyata tak berhasil membawa kader partai, pasangan Malik Raden-Sayed Fuad Zakaria, menduduki kursi Aceh-1.

Rontoknya loyalitas pendukung partai juga terlihat dari gagalnya kader PPP, Humam Hamid, meski telah meminang Hasbi Abdullah yang juga mantan petinggi GAM dan merupakan adik Menteri Luar Negeri GAM, Zaini Abdullah. Pasangan yang diusung PPP ini hanya menduduki peringkat kedua dalam survei LSI.

Tak Ingin Menjadi Penyebab Luka

Kembali ke masalah awal, penentuan siapa yang layak dan cocok untuk mewaliki entitas GAM pada Pilkada Langsung 2006, telah membelah GAM dan dua kubu besar. Satu pihak pro kepada petinggi di Swedia, satu kubu lagi pro GAM lapangan yang dimotori oleh anak-anak muda bergairah.

Teungku Nasruddin bin Ahmad yang disodorkan oleh kaum muda GAM, mengaku mengetahui tentang adanya rapat di Swedia yang membahas tentang penentuan calon gubernur dan wakil gubernur secara berjenjang di tubuh GAM. Itu sempat diutarakannya beberapa kali secara terbatas.

Apakah Zakaria Saman ikut mengancam dirinya agar mundur dari pencalonan? Secara tersurat itu tidak pernah dijawab oleh yang bersangkutan. Tapi secara tersirat ia pernah mengatakan, bahwa sebagai kader dirinya menghormati keputusan rapat di Swedia.

Signal semakin kuat terlihat ketika beberapa orang dekat Teungku Nas secara tersirat mengatakan bahwa salah satu juru runding GAM sebelum MoU Helsinki itu, tidak ingin menjadi penyebab luka di tubuh GAM. “Teungku menghormati pimpinan tinggi. Beliau tidak mau menjadi penyebab luka serta tidak mau menari pada agenda setting orang lain.” kata orang dekat Teungku Nas.

lalu, siapa sebenarnya yang memulai memasukkan jarum, sehingga segala rencana GAM yang telah disusun, berantakan? Adakah pihak ketiga yang menjadi dalang, atau murni ketidaksiapan GAM membangun demokrasi di tubuh organisasi perjuangan kemerdekaan Aceh itu sendiri? Hingga kini tabirnya belum terbuka.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK