Pecandu Game Mau Racuni Keluarga karena Wi-Fi Diputus

Sak Duanjan, 29 tahun, mau meracuni sumur keluarganya di Sisaket, timur laut Thailand Kamis lalu setelah ayah tirinya mematikan wi-fi.[Daily Mail]

Seorang pecandu game smartphone di Thailand nekat mau meracuni keluarganya setelah ayahnya memutus wi-fi agar dia berhenti bermain.

Sak Duanjan, 29 tahun, pulang ke rumahnya di Sisaket dalam keadaan mabuk dan mulai bermain game di smartphone-nya dengan suara kencang, ketika orang tuanya hendak tidur.

Ayah tirinya Chakri Khamruang, 52 tahun, yang terganggu dan bangkit dari tempat tidurnya untuk mematikan wi-fi agar anaknya Duanjan berhenti bermain.

Keesokan paginya, sang ibu Suban Duanjan, 51 tahun, menemukan cairan pestisida beracun di dalam sumur ketika mau memasak nasi, mengutip laporan Daily Mail, 20 Juni 2019.

Ayah tiri dan putranya bertengkar setelah wi-fi dimatikan ketika Duanjan meneriakkan kata-kata kotor dan menghancurkan rumah pada Kamis lalu.

Khamruang terpaksa memukul Duanjan untuk membuatnya sadar, kemudian pasutri itu kembal tidur dan berpikir masalah itu sudah selesai.

Namun tidak bagi anaknya. Duanjan mengaku dia menemukan racun ketika dia pergi mengambil air untuk memasak nasi di pagi hari.

Ibu terkejut putranya sendiri berusaha membunuhnya dan suaminya.

“Saya melihat anak saya turun ke bawah dan meletakkan sesuatu di stoples sekitar jam 2 pagi. Saya bertanya apa yang dia lakukan tetapi dia tidak menjawab dan kembali ke kamarnya. Jadi, saya membiarkannya pergi dan kembali tidur,” kata ibunya.

“Aku masih tidak percaya dia bisa melakukan ini. Saya tahu bahwa dia mudah marah. Kami mencoba yang terbaik untuk mengatasi amarahnya tetapi kali ini sudah terlalu banyak.”

Keluarga itu memutuskan untuk memanggil pihak berwenang setempat.

Duanjan kemudian mengakui bahwa dia telah memasukkan racun ke dalam sumur air keluarga karena dia masih marah setelah dicegah memainkan game smartphone-nya.

“Kami ingin pejabat pemerintah membawanya untuk dirawat di rumah sakit karena kami tidak ingin hidup dalam ketakutan ketika dia akan menyerang kami lagi,” kata ibunya.

“Dia sangat sering bermain game di smartphone, kupikir itulah yang membuatnya stres dan sulit untuk menghentikannya karena dia sudah dewasa sekarang,” tambah sang ibu.[] Sumber : Tempo

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK