Dapatkah Uang Membeli Kebahagian?

Ilustrasi

Oleh Furqan*

Beberapa bulan yang lalu, saya mencoba menyempatkan diri untuk merenung dan mencari lagi bagaimana sebenarnya kebahagian itu terbentuk. Wajar saja setiap aktivitas ekonomi yang kita lakukan, bukan hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan konsumen, tetapi kita juga selalu berangan-angan bahwa dengan melakukan kegiatan ekonomi, kesejahteraan dan kebahagian juga meningkat. Atau dengan kata lain, dengan adanya kegiatan ekonomi, setiap orang berharap memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk memenui kebutuhan hidup/fisik dan psikis.

Sepintas, saat kita menyebut kata “ekonomi” maka setiap orang pasti akan membayangkan kata atau lembaran uang. Sedangkan uang sendiri memiliki ikatan yang sangat kuat dengan kehidupan manusia. Saking kuatnya, Mark Anielski dalam bukunya The Economics of Happiness, menyebut bahwa kita sedang hidup di zaman yang semuanya dinilai oleh uang (money-centric-valued world), di mana dan apa pun keinginan manusia hanya mampu dipenuhi dengan perantara uang.

Bila dilihat dalam kacamata ekonomi, uang setidaknya memiliki fungsi sebagai unit of account, medium of exchange (alat tukar) dan store of wealth (penyimpan kekayaan). Tetapi tidak hanya sampai di sini, jika dilihat dari dimensi sosial, maka bagi sebagian orang uang bahkan bisa dipersamakan dengan Tuhan (God of Capitalist). Uang juga dianggap memiliki kekuatan untuk menguasai bahkan untuk menaklukkan sesuatu. Banyak kasus pemurtadan agama yang sering terjadi di Aceh misalnya, dilakukan dengan pendekatan secara finansial, di mana para korban diiming-imingi dengan uang yang banyak. Uang juga menjadi simbol kedudukan sosial. Jika diterjemahkan dalam dimensi perpolitikan, mungkin bisa disebut sebagai kekuatan untuk transaksi jabatan. Dalam dimensi keagamaan, uang bisa menjadi salah satu pintu untuk memperoleh ampunan dan meraih keridaan Tuhan.

Uang dan Kebahagian

Mungkin awal mula pemahaman bahwa uang mampu memberikan kebahagian lahir dari adagium yang sangat bercorak kapitalis ini “More you consume, the happier you will be” di mana cara memperoleh kebahagian yaitu dengan mengonsumsi banyak barang. Dari adagium di atas dapat disimpulkan tiga hal, yaitu: perilaku konsumtif adalah jalan kebahagian; menjadikan manusia mesin konsumsi tanpa batas; dan mengajarkan manusia untuk lebih selfish/mementingkan dirinya sendiri.

Setidaknya adagium di atas mampu menghipnotis manusia untuk mengarungi lautan yang luas tanpa bertepi, karena manusia pada dasarnya tidak pernah merasa kepuasan(unsatisfied). Dalam dunia psikolgis, perilaku manusia sekarang disebut Hedonic Treadmill, di mana kita hanya meningkatkan jumlah konsumsi tetapi tingkat kebahagian tidak pernah melewati batas maksimal.

Menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah uang mampu memberikan kebahagian?

Mark Anielski dalam bukunya The Economic of Happiness: Building Genuine Wealth, mengutip hasil penelitian yang dilakukan oleh Profesor Robert Lane dari Yale University,pengarang buku “The loss of Happiness in Market Democracies”, menemukan bahwa di negara-negara yang sudah mencapai tahap kemakmuran, korelasi antara pendapatan dan kebahagian mendekati nol persen bahkan terkadang negatif. Lane juga menemukan bahwa uang memiliki efek yang sangat positif pada mereka yang miskin tetapi ketika seseorang telah mencapai pendapatan yang mampu memenuhi standar hidup (minimum) maka tidak akan berpegaruh pada peningkatan kebahagian. Selanjutnya Lane mengatakan bahwa faktanya hubungan yang erat adalah kunci kebahagian dibanding dengan uang.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kahneman dan Krueger menyimpulkan bahwa “Pertumbuhan ekonomi yang sangat mengagumkan terjadi pada tahun 1994 sampai 2005, dengan naiknya pendapatan perkapita sebesar 250%, kepemilikan televisi berwarna dari hanya 40% dari total rumah tangga naik menjadi 84% dan orang-orang yang memiliki handphone naik dari hanya 10% menjadi 63%. Tetapi ini tidak bisa diterjemahkan meningkatnya kepuasan,tingkat penduduk yang mengatakan ketidakpuasan malah naik dan persentase yang mengatakan kepuasan malah menurun.”

Penulis tidak menyangkal secara mutlak bahwa uang tidak mampu memberikan kebahagia. Profesor Michael Norton memberikan argumen yang sangat jelas tentang apakah uang mampu membeli kebahagian? Lalu Professor Norton menjawab “If you think money can’t buy happiness, maybe you’re not spending it right” yang artinya jika kamu berfikir bahwa uang tidak dapat memberikan kebahagian, mungkin kamu tidak membelanjakan dengan benar. Michael Norton membuktikan pernyataannya dengan beberapa penelitian  yang disampaikan dalam salah satu sesi presentasi di TEDx Cambrige pada tahun 2011.

Dalam penelitiannya, Michael Norton membagikan uang kepada mereka yang lebih mementingkan diri sendiri (personal) dan kepada mereka yang sangat peduli terhadap orang lain (prosocial). Hasilnya mereka yang menghabiskan untuk kepentingan sendiri tidak merasakan apa-apa atau tidak terlalu bahagia sedangkan mereka yang mendonasian uangnya dengan membeli barang-barang kebutuhan orang yang membutuhkan (needy person) merasa sangat bahagia.

Kesimpulannya jika memang kita menginginkan kebahagia, maka cobalah untuk berbagi tetapi jika memang kita hidup hanya untuk terlihat bahagia silakan singkirkan rasa kemanusian dan mulailah hidup dalam ilusi.[]

*Penulis adalah mahasiswa Perbankan Syariah dan Ketua Bidang Kajian dan Stretegi HmI MPO Cabang Bireuen.

KOMENTAR FACEBOOK