Manusia Bijak

Prof. Dr. Syamsul Rizal.

Oleh Prof. Dr. Syamsul Rijal*

Dalam interaksi sosial acapkali kita dihadapkan dengan realitas yang mengharuskan kita untuk cepat bersikap. Sehingga kita hadir lebih bermanfaat dan berfaedah menjadi bagian dari sebuah realitas kehidupan itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda “Manusia terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi lainnya.” Dalam konteks ini, seseorang yang cepat tanggap terhadap sebuah keadaan berarti ia telah memulai proses ambil bagian dari realitas itu sendiri. Respon cepat itu dimaknai dalam nuansa kebaikan, bukan memperteguh kejahatan ataupun kemungkaran.

Orang pintar yang memiliki segudang ilmu dan pengalaman akan dengan cepat merespon realitas kehidupan, sehingga lebih bermakna. Akan tetapi manusia bijak ia berpikir terlebih dahulu sebelum untuk melakukan sesuatu, sehingga kehadirannya itu dirasakan berfaedah.

Mengenal manusia bijak itu dapat ditandai dari kepribadian yang mereka miliki adalah berprilaku mulia. Dalam kita al-Tanwir jami’ al-shaghir disebutkan beberapa karakter kemuliaan manusia bijak termaksud.

Kepribadian manusia bijak itu jarang berselisih (قلة الخلاف) dengan kecemerlangan serta kecerdasan kreasi nalar ia akan dapat menempatkan diri memberikan faedah yang solutif di dalam melihat setiap permasalahan. Jadi bukan menambah dan atau memicu keadaan yang lebih parah. Akan tetapi wacana yang dikedepankan adalah berfaedah memecahkan problem.

Manusia bijak itu bersikap baik dalam bersikap adil (حسن الانصاف) sikap responsif yang ditunjukkan dalam merespon suatu persoalan dipecahkan dengan seksama dan selalu dalam garis berkeadilan. Keadaan ini mencerminkan keluasan daya pikir dan sikap sabar memaknai realitas yang ada.

Manusia Bijak itu meninggalkan tindakan mencari-cari kesalahan orang lain.
( ترك طلب العثرات)

Seorang hakim yang bijak bukanlah berarti mencari-cari kesalahan terdakwa. Akan tetapi membuktikan dan memutuskan kesalahan yang ditimpakan terhadap terdakwa. Namun dalam kehodupan sehari-hari di saat mana sesorang menemukan sebuah kesalahan, dia akan memberikan advis agar seseorang itu keluar dari kesalahannya. Itulah manusia bijak, bukan sebaliknya malah menambah dan suka mencari cari kesalahan seseorang.

Manusia bijak itu berusaha memperbaiki keburukan-keburukan yang nampak.
( تحسين ما يبدو من السيئات)
Dalam interaksi sosial di mana-mana terlihat kesalahan dan keburukan yang dipertontonkan oleh seseorang. Bagi manusia bijak dia senantiasa berusaha untuk memperbaiki dan atau menempatkan kembali keburukan yang dimiliki seseorang itu menjadikannya lebih baik. Ini adalah upaya terbaik dalam tatanan kehidupan sosio-religi yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia berperadaban (civilization).

Manusia bijak itu bersabar dalam menghadapi gangguan orang lain yang menyakitkan. Keadaan itu direspon dengan memberikan kebaikan terhadapnya itulah entitas manusia bijak tidak mudah terpengaruh dengan upaya tragis gangguan orang lain terhadap dirinya. Manusia bijak itu senantiasa berusaha untuk tetap dalam kenyataan terbaik bagi interaksi sosial antar sesama. Kesabaran yang ditunjukkan dalam menghadapi celana cercaan dan gangguan menandakan keteguhan kepribadian yang tidak mudah unruk ditunjukkan oleh seseorang namun bagi manusia bijak kondisi itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupannya.

Manusia bijak itu sibuk mengurus diri sendiri tanpa mengurusi aib orang lain (التفرد بمعرفة عيوب نفيه دون عيوب غيره(
Instropeksi diri memperbaiki aib dan kesalahan diri itu menjadi penting bagi kehidupan manusia bijak. Dan menghindarkan diri dari mengurus aib orang lain dengan mengabaikan aib diri sendiri. Manusia bijak itu berprinsip setiap manusia memiliki kesalahan dan hanya Tuhan yang mengetahui siapa yang lebih baik diantara hambaNya. Dalam konteks itu mendingan melihat aib sendiri sekaligus membenahi menjadi manusia terbaik, itulah sikap manusia bijak.

Manusia Bijak itu memiliki wajah ceria “طلقة للوجه ”
dan lembut perkataan nya ” لين الكلام” dalam keseharian manusia bijak itu tampil dengan inner beauty wajah yang ceria karena dalam dirinya penuh dengan obsesi kebaikan fan berpikir positif apam merespon setiap permasalahan agar tampil solusi kreatif yang lebih berfaedah. Di samping itu tutur kata manusia bijak itu juga lembut menentramkan setiap orang yang berada di dekatnya.

Kehidupan terus berjalan, gunakanlah waktu menjadi pelopor aktifitas yang berfaedah untuk semua. Gali kembali potensi diri sebagai cerminan manusia bijak untuk eksis di tengah kehidupan yang berfaedah. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

*)Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Ar-Raniry, Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK