Akmal Ibrahim, Bupati Abdya yang Menginspirasi

Oleh Muhajir Juli*

Menjadi Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) untuk kali kedua dalam hidupnya, Akmal Ibrahim merupakan pemimpin daerah di Aceh yang aktif berbagi wacana di Facebook. Apa yang dia sampaikan pun sesuatu yang membumi. Tentang potensi Abdya yang dia yakini bila dikekola secara serius, akan menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi rakyat.

Saya bukan penduduk Abdya, bukan pula berasal dari Barsela. Tapi saya pernah beberapa kali melintasi kawasan itu, negeri di bibir Samudera Hindia yang memiliki padi khasnya: Breuh sigupai.

Catatan ini tentu bukan berdasarkan hasil riset ilmiah. Juga bukan dalam rangka pencitraan positif sang politikus. Akmal Ibrahim tidak mengenali saya. Kami belum pernah berjumpa, konon lagi duduk semeja kopi. Tulisan ini murni kekaguman–pantaslah saya sampaikan demikian–atas status Facebooknya yang kerap ia tulis. Dalam terawang saya, Akmal begitu mencintai Abdya. Jabatan yang dia sandang bukan semata gagah-gagahan. Tapi berbalut kepentingan untuk membawa Abdya ke arah berkemajuan.

Hari ini, Sabtu (22/6/2019) saya membaca status Facebook tentang benih padi yang sedang dikembangkan oleh Hamdi, warga Alue Seulaseh, Kecamatan Jeumpa, Abdya. Di sana Akmal menulis:

Jual bibit padi Batat Tungang Rp 8.000 per kilo. Bagi yg berminat, hubungi Hamdi, alamat Desa Alu Seulaseh, Kecamatan Jeumpa. No telpon 082276803033.
Banyak yg minta bibit ini dan minta ke saya, kebetulan Hamdi minta tolong bantu dijualkan padi Batat tungangjya. Jadi hubungi beliau saja.
Catatan; padi Batat Tungang, dalam praktek di Abdya, memang bandel dan produksi tinggi. Namun Padi ini belum bersertifikat unggul nasional karena masih bersifat ujicoba.
Masih dalam kaitan ujicoba itu pula, padi hasil kerjasama Unsyiah, Dinas Pertanian Propinsi Aceh, dan Abdya ini, tahun ini akan ditanam di 5 propinsi sebagai syarat unggul nasional. Kalau anda mau uji, hubungi saja Hamdi.
Demikian harap maklum……..

Ada dua hal di sini yang menarik menurut saya. Pertama Akmal sedang mengendors sebuah produk hasil karya warga tempatan. Tentu endors tanpa bayaran. Kedua, Akmal sedang mengajak semua orang untuk menguji coba benih “Batat Tungang” agar segera menjadi salah satu benih unggul nasional. Bila saja benih hasil kreasi Hamdi, Universitas Syiah Kuala dan Dinas Pertanian itu sukses, Abdya telah berhasil melahirkan seorang pengusaha muda. Luar biasa.

Pada waktu lain, Akmal menulis tentang kambing-kambing sembari “meraba-raba” untuk mengecek kondisi kehamilan binatang peliharaannya.

Sore ini, memandikan dan mempercantik kambing2 betina, bercengkerama dengan kambing, dan sesekali meraba-raba kambing bunting. Beranak lah kau terus…..
Kalau betina-betina ini sudah cantik dan wangi, pasti menarik birahi so boer, penjantan tangguh yg saya bawa dr Malang, asli impor dari Australia.
Untuk shampo, saya pakai clear dan Sunsilk. Belum ditaruh bedak dan lipstik, sebab masih menunggu hasil analisa ahli kecantikan kambing. Yg jelas, si boer sudah mulai tertarik. Segeralah kawin, jangan pakai lama2 ya……..

Beberapa waktu lalu, Akmal juga menulis tentang referendum. Bukan dalam konteks politik seperti yang diwacanakan oleh Ketua Umum KPA Muzakir Manaf. Tapi hanyalah sebuah ajakan jajak pendapat persoalan pilihan:tanam padi atau palawija?

REFERENDUM…..
Saya Akmal Ibrahim, bupati Abdya. Dengan ini mengajak masyarakat untuk mengikuti referendum atau jajak pendapat untuk hal yg saya anggap sangat penting.
Untuk itu, Masyarakat saya minta agar memilih salah satu dari dua pilihan yaitu,
1. Setelah puasa dan lebaran ini, apakah kita menanam padi atau palawija.
2. Atau kita istirahatkan sawah dulu sambil berleha-leha menikmati apa yg sudah ada sampai musim tanam berikutnya.
Peserta referendum ini dikhususkan hanya petani dan keujrun. Yg lain harap jangan ikut serta memberi pendapat.
Demikian terimakasih………

Terlalu banyak hal yang ditulis oleh Akmal di Facebooknya. Tulisan-tulisannya yang ringan, penuh harapan serta mengajak warganya mencapai sesuatu, merupakan sesuatu yang unik dan langka. Efek dari itu, dari amatan saya, tiap status Facebook yang ditulisnya selalu diikuti komentar yang positif.

Dua hari lalu, Kamis (20/6/2019) Akmal Ibrahim mendapat penghargaan sebagai pemimpin inovatif 2019. Penghargaan ini diberikan oleh Lembaga Kajian Pembangunan, Pertanian dan Lingkungan (LKPPL) dalam acara seminar nasional Inovasi Teknologi untuk Masyarakat di Auditorium FMIPA Universitas Syiah Kuala.

Sebuah penghargaan yang pantas, bila melihat kiprahnya membangun Abdya. Akmal bukan sebatas tukang teken, pemberi cap, tapi juga seorang pemimpin yang menjadi motivator.

Saya sepertinya telah menemukan pemimpin Aceh di masa depan. Bila hari ini ada yang meminta saya menyebutkan salah satu putra Aceh yang pantas disematkan harapan untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, maka saya akan menyebut nama Akmal Ibrahim di antara beberapa nama lainnya.

Semoga suatu saat saya berkesempatan bertemu dengannya di sebuah meja kopi. Banyak hal yang harus saya “curi” dari mantan wartawan itu.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

Foto saya kutip dari Fb Akmal Ibrahim.

KOMENTAR FACEBOOK