Dituding Membohongi Publik, BNN Aceh : Mungkin Mis Kali Ya…

Barang bukti sabu diperlihatkan saat konferensi pers di halaman kantor BNNP Aceh (Foto: aceHTrend/Irwan)

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Badan Narkotika Nasional (BNN) Aceh membantah tudingan Koalisi Rehabilitasi Aceh yang menyebutkan intansi pemerintah tersebut telah melakukan pembohongan publik.

Seperti diberitakan aceHTrend sebelumnya, Koalisi Rehabilitasi Aceh menuding BNN telah melakukan pembohongan publik atas pernyataan bahwa di Aceh tidak memiliki pusat rehab pecandu narkoba.

Baca berita terkait: BNN Aceh Dituding Melakukan Pembohongan Publik

“Kita tidak sebutkan di Aceh tidak punya lembaga rehab, yang kita maksud itu adalah pusat rehabilitasi sekelas balai Balai Lido Bogor, kan punya BNN. Mungkin mis (miskomunikasi-red) kali ya,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi BNN Aceh Sayuti saat menjawab konfirmasi melalui telpon dari media ini, Sabtu (22/6/2019).

Menurut Sayuti, BNN Aceh tidak pernah tidak menganggap keberadaan lembaga rehab di Aceh, malah pada Januari lalu pihaknya pernah menjadwalkan pertemuan dengan Gubernur Aceh, hanya saja belum ada waktu yang tepat, dalam pertemuan itu BNN Aceh telah menyiapkan bahan bahwa di Aceh memiliki 15 lembaga rehab dan memohon dukungan dari pemerintah daerah.

“Karena sebelum kita punya pusat rehab atau lembaga rehab yang besar, lembaga-lembaga rehab ini cukup berperan dalam mengatasi masalah pecandu narkoba di Aceh selama ini,” kata Sayuti.

Cuma, kata Sayuti, saat pertemuan BNN Aceh dengan Komite III DPD RI dan Pemerintah Aceh pada Selasa 18 Juni 2019 lalu, pihaknya lebih fokus mengharapkan pemerintah daerah mempunyai lembaga rehabilitasi yang besar, seperti pusat rehabilitasi khusus untuk Aceh .

Sayuti mengungkapkan, pada pertemuan itu dirinya juga memberi masukan maunya di Aceh itu ada balai rehab narkoba sekelas Rumah Sakit Zainoel Abidin yang bisa menampung banyak klien seperti Balai Lido Bogor yang mampu menampung sampai 500 klien untuk satu gelombang.

Kepala Bidang Rehabilitasi BNN Aceh Sayuti (Foto: Profil WhatsApp)

“Namun kalau lembaga rehab swasta kita punya banyak lembaga rehab di Aceh, tapikan kapasitas mereka terbatas dan dijatah, kadang 10 orang, 20 orang, atau 30 orang, sedangkan penyalguna kita sudah puluhan ribu. Makanya kita mengharapkan kemarin itu pemerintah atau siapapun bisa membuat lembaga rehab yang lebih besar yang dapat menapung ratusan klien,” ujar Sayuti.

Dijelaskannya, saat ini Aceh punya 15 panti rehab swasta, ada yang bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan, ada juga yang bekerjasama dengan Kementrian Sosial, dan terdapat 70 institusi penerima wajib lapor (IPWL) di Aceh yang diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes), hanya saja kapasitas mereka bekum maksimal, seperti kurangnya sumber daya manusia, dan tenaga-tenaga konselor yang sudah dilatih terkadang juga berpindah-pindah.

“Kita maunya yang sudah kita latih itu khusus menangani pasien-pasien narkoba, jangan menangani kasus yang lain. Karena menangani pasien narkoba ini kan lama, berjam-jam kita ngobrol dengan mereka, konseling lah,” katanya.

Lembaga rehab swasta ini sangat dibutuhkan sekali, katanya, jika pun nanti di Aceh memiliki pusat rehabilitasi, pihaknya juga masih membutuhkan lembaga swasta ini.

“Karena terkadang masyarakat tidak mau direhab di tempat milik pemerintah, dengan pertimbangan nanti malulah, dieksposlah, orang kita Aceh ini kan agak tabu jika masalah itu dipublikasi, sehingga kan pilih yang swasta,” tutur Sayuti.

Untuk itu Sayuti kembali menegaskan, BNN Aceh tidak pernah meniadakan keberadaan lembaga rehab yang selama ini sangat berjasa dalam menangani pecandu di Aceh, karena itu BNN Aceh memiliki program peningkatan kemampuan lembaga rehab milik swasta, serta mengajak lembaga rehab swasta untuk bekerjasama dengan BNN. Tujuannya, supaya lembaga rehab yang ada saat ini mendapat dukungan dari BNN Aceh.

“Kita latih tenaga mereka, kita biayayai klien yang mereka layani, BNN yang bayar. Jadi bukan justru sebaliknya meninggalkan jasa-jasa mereka, kita sangat mengharpkan mereka, mungkin mis kali ya. Cuma saying kalau terus dikembangkan kita kan mau menyelamtkan generasi,” kata Sayuti.

Saat ini, kata Sayuti narkoba sangat mengancam masa depan generasi Aceh, survey yang dilakukan Uiniversitas Indonesia di Aceh pada 2014 lalu jumlah penyalahgunaan narkotika di Aceh mencapai 73 ribu orang dan terus bertambah setiap tahunnya.
“Survey terbaru di tahun 2018 lalu untuk remaja, ada 69 ribu penyalahguna di Aceh,” tutup Sayuti. []

KOMENTAR FACEBOOK